Inversi Cahaya matahari belum sepenuhnya menyapa kawasan Cisarua, Bogor, ketika Saprudin (53) telah memulai rutinitas hariannya. Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan, pria yang akrab disapa Udin ini telah bersiap dengan seragamnya. Dengan penuh ketelitian, ia menyusuri area dapur, memastikan setiap aspek operasional berjalan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
Bagi banyak orang, peran Saprudin mungkin terlihat sederhana sebagai petugas keamanan. Namun, bagi pria yang telah mendedikasikan dirinya sejak awal pembukaan SPPG ini, pekerjaan tersebut membawa tanggung jawab moral yang jauh melampaui sekadar menjaga keamanan fisik bangunan.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa bekerja di sini sejak awal program ini dijalankan. Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah yang memberikan kenyamanan dan rasa bangga,” ujar Saprudin saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Sabtu (30/05/2026).
Mengabdi di Tengah Ritme Dapur Nutrisi
Selama 12 jam setiap hari, Saprudin memikul tanggung jawab untuk mengawasi alur distribusi barang serta memantau protokol keamanan di lingkungan dapur MBG. Setiap keluar-masuknya bahan pangan dan personel di bawah pengawasannya harus memenuhi standar ketat yang telah diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Ketelitian Udin dalam menjaga ritme operasional dapur bukan tanpa alasan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa setiap bahan makanan yang tersimpan dan diolah di tempat tersebut akan menjadi asupan gizi bagi jutaan anak Indonesia. Baginya, keamanan dapur adalah lini pertahanan pertama untuk memastikan kualitas nutrisi yang sampai ke tangan penerima manfaat.
Sebelum bergabung dengan ekosistem SPPG, Saprudin sempat berprofesi sebagai penjaga di kawasan wisata alam. Penghasilan yang tidak menentu kala itu sering kali membuat pemenuhan kebutuhan dasar keluarga menjadi tantangan berat.
Tinggal di rumah sederhana bersama istri dan ketiga buah hatinya anak sulung berusia 12 tahun dan si bungsu yang baru berusia dua tahun membuat Saprudin harus bekerja ekstra keras untuk memastikan masa depan anak-anaknya terjaga.
Dampak Nyata di Meja Makan Keluarga
Kini, kehidupan Saprudin mengalami perubahan yang signifikan. Ketiga anaknya bukan hanya sekadar anggota keluarga, tetapi juga merupakan penerima manfaat langsung dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia jaga setiap hari. Perubahan yang dirasakan Udin dan keluarganya mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi mereka, hal tersebut adalah anugerah yang sangat berarti.
Saprudin mencatat perubahan perilaku yang drastis pada anak-anaknya. “Dulu, anak-anak saya cukup sulit untuk bangun pagi. Namun, sejak program ini berjalan, mereka menjadi lebih bersemangat. Pukul 05.30 pagi, mereka sudah bangun dengan antusiasme yang tinggi,” tuturnya dengan senyum haru.
Pagi hari di kediaman Saprudin kini dipenuhi energi positif. Anak-anaknya berangkat ke sekolah bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga dengan kepastian bahwa mereka akan mendapatkan asupan makanan bergizi. Kehadiran susu dan makanan bernutrisi secara rutin, yang dahulu merupakan kemewahan sulit dijangkau, kini telah menjadi bagian dari keseharian keluarganya.
Momen yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat ia pulang ke rumah setelah bekerja. Salah satu anaknya menyambut dengan gembira sambil menceritakan pengalamannya mengonsumsi makanan bergizi di sekolah. “Dia bilang, ‘Ayah, aku dapat MBG!’. Sebagai orang tua, mendengar kegembiraan anak karena bisa makan sehat itu adalah kepuasan batin yang luar biasa,” kenangnya.
Harapan untuk Keberlanjutan Program
Saprudin adalah cerminan dari jutaan orang tua di Indonesia yang menaruh harapan besar pada keberhasilan program ini. Di balik seragam petugas keamanan yang ia kenakan, terdapat sosok ayah yang sedang berjuang memastikan anak-anaknya tumbuh sehat dan kuat.
Baginya, MBG bukan sekadar kebijakan pemerintah di atas kertas, melainkan wujud kehadiran negara dalam ruang paling personal: meja makan keluarga.
Ia memberikan pesan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam program ini agar senantiasa menjaga integritas dan kualitas layanan. “Program ini sangat baik bagi masa depan anak bangsa. Harus kita jaga bersama, baik kualitas masakannya maupun kuantitas distribusinya, agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga ke pelosok negeri,” tegasnya.
Di SPPG Jogjogan, Saprudin bukan sekadar bagian dari sistem administrasi. Ia adalah wajah nyata dari keberhasilan sebuah program negara yang dampaknya menyentuh sendi kehidupan masyarakat paling mendasar.
Dedikasi yang ia berikan setiap hari merupakan bentuk komitmen untuk merawat harapan sebuah upaya memastikan bahwa setiap anak Indonesia, termasuk anaknya sendiri, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan meraih masa depan yang gemilang.