Halo Inversi! Jawa Tengah dikenal dengan kekayaan kuliner tradisionalnya, mulai dari garang asem, lumpia Semarang, wedang ronde, hingga nasi megono.
Menurut Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, kuliner lokal bukan hanya soal cita rasa, tapi juga bisa jadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Data dan Potensi Ekonomi
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Jateng, sektor pariwisata menyumbang sekitar 6,5% PDRB Jawa Tengah pada 2024. Tren positif terlihat di subsektor kuliner, dan Heri menilai angka ini bisa terus tumbuh jika kuliner terintegrasi dengan wisata alam maupun budaya.
Ia mencontohkan kota besar seperti Semarang dan Solo yang sudah punya kawasan kuliner khas. Namun, desa-desa wisata dengan produk unik juga perlu diangkat agar manfaat ekonomi lebih merata, tidak hanya terpusat di perkotaan.
Heri mendorong pemda memberi pendampingan serta sertifikasi halal untuk UMKM kuliner agar bisa menembus pasar lebih luas. Anak muda juga diajak jadi duta digital kuliner lewat pemasaran online.
Jaga Budaya, Perkuat Ekonomi
Selain aspek ekonomi, kuliner tradisional adalah warisan budaya yang harus dijaga. Dengan melibatkan petani, nelayan, dan pengrajin lokal, wisata kuliner bisa memberi nilai tambah sekaligus memperkuat rantai pasok daerah.
Heri menegaskan DPRD akan mendorong kebijakan yang mendukung penguatan wisata kuliner, baik lewat regulasi maupun alokasi anggaran. Menurutnya, wisata kuliner harus dipandang sebagai motor ekonomi rakyat sekaligus penjaga budaya lokal.