Inversi Dunia pendidikan Indonesia kembali memperoleh warna baru melalui pendekatan kultural yang segar dan membumi. Di tengah derasnya arus kebijakan administratif dan regulasi pendidikan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menghadirkan terobosan yang berbeda, yakni melalui karya seni berupa lagu anak berjudul Rukun Sama Teman.
Lagu ini dengan cepat menarik perhatian publik dan viral di berbagai platform media sosial, khususnya di kalangan pelajar dan tenaga pendidik. Berbeda dengan pendekatan formal melalui surat edaran atau peraturan tertulis, Abdul Mu’ti memilih jalur kebudayaan sebagai medium untuk menanamkan nilai-nilai karakter.
Lagu Rukun Sama Teman diciptakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan perundungan (bullying), konflik antarsiswa, serta menurunnya sikap toleransi di lingkungan sekolah. Melalui irama ceria dan lirik sederhana, pesan-pesan moral yang berat disampaikan secara ringan dan mudah diterima oleh anak-anak.
Lagu ini mengingatkan publik pada era keemasan lagu anak-anak Indonesia pada dekade 1990-an, ketika karya musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Abdul Mu’ti berhasil menghadirkan kembali semangat tersebut dengan kemasan yang relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Lirik Sederhana, Makna Mendalam
Lirik Rukun Sama Teman dirancang singkat, repetitif, dan mudah dihafal oleh siswa dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Struktur liriknya menekankan ajakan positif, seperti saling menyayangi, menjaga kebersamaan, menghormati guru, dan menjauhi perilaku mengejek serta bertengkar.
Pengulangan frasa “Rukun… rukun… rukun sama teman” berfungsi sebagai penguat pesan utama lagu. Teknik ini lazim digunakan dalam musik populer untuk membangun daya ingat pendengar. Namun, dalam konteks ini, pengulangan tersebut menjadi sarana internalisasi nilai-nilai sosial, khususnya perdamaian dan persahabatan.
Frasa seperti “jangan bertengkar” dan “jangan mengejek” secara tegas menyinggung dua bentuk perundungan yang paling sering terjadi di lingkungan sekolah, yakni kekerasan fisik dan verbal. Sementara itu, kalimat “bergandeng tangan” dan “wajah gembira” menghadirkan gambaran ideal tentang suasana sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.
Pendekatan Kultural dalam Pendidikan Karakter
Peluncuran lagu ini dinilai sebagai langkah strategis dalam komunikasi publik bidang pendidikan. Pendekatan kultural dinilai lebih efektif menjangkau anak-anak dibandingkan instruksi normatif yang bersifat satu arah. Musik, sebagai bahasa universal, mampu menembus batas usia, latar belakang sosial, dan tingkat pendidikan.
Dalam perspektif pendidikan karakter, lagu Rukun Sama Teman berfungsi sebagai media pembelajaran afektif. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak diajarkan melalui ceramah, melainkan ditanamkan melalui pengalaman emosional yang menyenangkan. Anak-anak tidak merasa digurui, tetapi secara tidak sadar menyerap pesan moral yang disampaikan.
Selain itu, visualisasi lagu yang beredar di media sosial turut memperkuat pesan kebinekaan. Anak-anak dengan latar belakang berbeda tampil bersama, merepresentasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan mempertegas bahwa kerukunan harus tumbuh di tengah keberagaman.
Relevansi di Tengah Isu Perundungan
Kehadiran lagu ini dinilai sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Kasus perundungan di sekolah masih menjadi tantangan serius yang memerlukan penanganan komprehensif. Lagu Rukun Sama Teman hadir sebagai pelengkap kebijakan, bukan pengganti aturan, dengan menekankan pendekatan preventif berbasis nilai.
Para pendidik dan orang tua menyambut positif inisiatif tersebut. Lagu ini diharapkan tidak hanya dinyanyikan dalam upacara bendera atau kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian siswa, baik saat bermain, belajar, maupun berinteraksi di luar kelas.
Dengan sering dinyanyikan dan diulang, nilai-nilai saling menghormati, toleransi, dan kebersamaan diharapkan tertanam secara alami. Proses ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan hukuman semata dalam menegakkan disiplin sekolah.
Seni sebagai Instrumen Kebijakan Publik
Karya Abdul Mu’ti ini membuktikan bahwa kebijakan publik tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa hukum atau administrasi yang kaku. Seni, khususnya musik, dapat menjadi instrumen efektif untuk menyampaikan pesan negara kepada generasi muda.
Rukun Sama Teman kini bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan simbol komitmen pendidikan Indonesia dalam membangun karakter pelajar yang berakhlak, toleran, dan cinta damai. Lagu ini menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, dan seni memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut.