INVERSI – Masa libur sekolah yang berlangsung mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026 dimanfaatkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai momentum strategis untuk melakukan evaluasi komprehensif dan pembenahan internal terhadap operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama periode ini, distribusi makanan dihentikan sementara guna memberikan ruang bagi jajaran teknis untuk menyempurnakan alur kerja di lapangan agar pelaksanaan program ke depan menjadi lebih efektif dan akurat.
Langkah ini diambil menyusul penyerahan dokumen kajian independen oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN) kepada BGN di Jakarta, Rabu (24/06/2026). Dokumen tersebut berisi hasil survei dan rekomendasi strategis setelah program berjalan selama hampir satu tahun.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan bersama Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari dan Mayjen Trenggono, untuk mengurai berbagai tantangan operasional yang dihadapi di lapangan.
Tiga Pilar Utama Kajian
Kajian independen yang disusun oleh DEN berfokus pada tiga pilar fundamental. Pertama, penataan ketepatan sasaran penyaluran guna memastikan manfaat program diterima oleh kelompok prioritas. Kedua, efisiensi pengelolaan anggaran untuk menjamin akuntabilitas fiskal. Ketiga, identifikasi kelompok penerima manfaat berdasarkan skala prioritas yang lebih tajam.
Luhut mengakui bahwa pada fase awal peluncuran, ritme eksekusi yang sangat cepat sempat memicu kendala teknis. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah telah melakukan mitigasi secara profesional.
“Proses awal memang menuntut kecepatan, dan dinamika yang muncul adalah bagian dari pembelajaran. Saat ini, seluruh kendala telah dipetakan dan diselesaikan melalui koordinasi yang terintegrasi,” papar Luhut.
Efisiensi dan Pentingnya Implementasi Bertahap
Dalam rekomendasinya, DEN menyarankan agar pemerintah lebih mengutamakan pendekatan yang bertahap. Hal ini bertujuan agar kendala yang ditemukan di akar rumput dapat diidentifikasi secara jeli sebelum program diperluas. Strategi implementasi bertahap dinilai lebih efisien dibandingkan memaksakan eksekusi serentak yang berisiko menciptakan hambatan logistik yang tidak terduga.
Lebih jauh, Luhut optimistis bahwa dengan memperbaiki alur logistik dan tata kelola, program ini akan mencapai performa ideal dalam kurun waktu enam bulan hingga satu tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa program MBG adalah instrumen pemerataan ekonomi yang luar biasa.
Dengan alokasi anggaran mencapai Rp 1 triliun per hari yang langsung bersirkulasi ke sektor riil, program ini memiliki daya ungkit besar dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.