INVERSI.ID – Menteri BUMN Erick Thohir berbagi cerita inspiratif seputar masa mudanya yang hobi thrifting baju bekas. Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan hanya karena alasan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup ramah lingkungan yang kini semakin populer di kalangan anak muda.
Dalam acara Green Impact Festival yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (24/7), Erick Thohir menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Salah satu cara sederhananya adalah dengan mendukung budaya thrifting baju bekas, yang menurutnya sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kuliah di luar negeri.
“Saya ingat waktu kuliah di luar negeri, thrifting itu sudah jadi tren. Di Indonesia belum. Tapi saya ikut-ikutan beli baju bekas karena memang uang saku saya terbatas. Jadi selain hemat, saya bisa tampil gaya juga,” ucap Erick Thohir di hadapan ratusan mahasiswa.
Pada masa kuliahnya, membeli pakaian bekas menjadi cara cerdas untuk tetap tampil stylish tanpa menguras dompet. Bahkan, koleksi utamanya saat itu adalah jeans Levi’s dan jersey bola dari toko-toko thrifting lokal.
“Sebagai penggemar sepak bola, sampai sekarang saya masih suka cari jersey bola bekas. Kadang nemu yang unik dan sudah langka. Di toko-toko thrifting itu, kita bisa nemu harta karun,” lanjutnya dengan semangat.
Thrifting sebagai Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Lebih dari sekadar urusan gaya, thrifting baju bekas kini dipandang sebagai salah satu bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan. Erick mengapresiasi meningkatnya kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan, terutama lewat kebiasaan memilih pakaian bekas dibandingkan produk baru.
Menurutnya, industri fashion menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Oleh karena itu, langkah kecil seperti membeli baju bekas bisa berdampak besar bagi lingkungan.
“Ini lifestyle yang bagus. Karena enggak semua baju harus jadi sampah. Bahkan sekarang sudah ada teknologi untuk mendaur ulang baju-baju lama menjadi bahan pakaian baru. Ini luar biasa,” tutur Erick.
Ia pun mengajak generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam gerakan peduli lingkungan. Dari hal kecil seperti memilih thrifting, hingga menciptakan produk-produk ramah lingkungan yang punya nilai jual tinggi.
Anak Muda dan Inovasi Hijau
Dalam kesempatan tersebut, Erick juga menyinggung banyaknya entrepreneur muda yang mulai membangun bisnis berbasis lingkungan. Menurutnya, geliat inovasi ini tidak hanya terjadi di kota besar, tapi juga di berbagai daerah.
“Saya melihat anak muda sekarang luar biasa. Banyak yang bikin sabun ramah lingkungan, produk daur ulang, sampai eco packaging. Ini harus didukung terus,” katanya.
Erick Thohir juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara sektor swasta, BUMN, dan komunitas untuk menciptakan ekosistem bisnis hijau. Ia menilai bahwa perubahan besar hanya akan terjadi jika semua pihak saling mendukung dan membuka akses pasar bagi produk-produk lokal berkelanjutan.
Tak hanya menyemangati, Erick juga membuka peluang bagi anak muda yang ingin mengembangkan startup lingkungan. Ia menyebut, BUMN siap memberikan ruang dan pendampingan bagi ide-ide kreatif yang punya dampak sosial dan lingkungan positif.
Membentuk Generasi Peduli Bumi
Selain gaya hidup dan bisnis, Erick juga mengajak mahasiswa untuk lebih berani mengambil peran dalam isu-isu lingkungan. Menurutnya, menjadi agen perubahan tidak harus menunggu tua atau punya jabatan tinggi. Setiap anak muda bisa memulai dari hal sederhana, seperti thrifting baju bekas, meminimalisir sampah, atau membentuk komunitas peduli lingkungan.
“Jangan tunggu jadi menteri dulu buat berkontribusi. Mulai dari diri sendiri. Jadilah generasi yang berpihak pada bumi,” ujar Erick.
Ia menegaskan, gaya hidup ramah lingkungan bukan lagi tren musiman, melainkan kebutuhan zaman. Dengan adanya ancaman perubahan iklim, polusi, dan krisis sumber daya, generasi sekarang harus lebih bijak dalam memilih gaya hidup.
“Saya percaya, anak muda Indonesia bisa jadi pelopor perubahan. Bukan cuma konsumtif, tapi juga produktif dan berdaya saing global lewat inovasi ramah lingkungan,” pungkasnya.
Mendorong Gerakan Thrifting Nasional
Budaya thrifting baju bekas yang dulu dianggap ketinggalan zaman, kini justru menjadi simbol keren dan sadar lingkungan. Erick Thohir berharap, kebiasaan ini bisa dikembangkan lebih luas menjadi gerakan nasional yang didukung oleh pemerintah, sektor swasta, dan media.
Dengan edukasi dan promosi yang tepat, thrifting tidak hanya akan menjadi tren gaya hidup, tapi juga solusi konkret dalam mengurangi dampak industri fashion terhadap lingkungan.
Sebagai penutup, Erick kembali mengajak generasi muda untuk tidak malu menggunakan baju bekas. Baginya, yang terpenting adalah makna dan dampak di balik setiap tindakan kecil.