By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Mendikdasmen Berwacana Kembalikan Sistem Penjurusan di SMA, P2G: Anak Jadi Korban Eksperimen Kebijakan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Mendikdasmen Berwacana Kembalikan Sistem Penjurusan di SMA, P2G: Anak Jadi Korban Eksperimen Kebijakan

Pendidikan

Mendikdasmen Berwacana Kembalikan Sistem Penjurusan di SMA, P2G: Anak Jadi Korban Eksperimen Kebijakan

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Wacana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, untuk mengembalikan sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA menuai kritik dari kalangan pemerhati pendidikan. Kebijakan ini dinilai tidak berkelanjutan dan berpotensi mengacaukan arah reformasi pendidikan nasional.

Contents
Ancaman Ketidakpastian PendidikanKurikulum Merdeka Masih BermasalahPolemik TKA sebagai Syarat Utama SeleksiPerkuat Integritas, Bukan Seragamkan Sistem

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, menyatakan kebijakan yang berubah setiap kali terjadi pergantian menteri bisa menjadikan siswa sebagai korban eksperimen kebijakan yang tidak konsisten.

“Kalau kebijakan pendidikan hanya berdasarkan pendekatan masing-masing menteri, ini berbahaya. Seharusnya kebijakan merujuk pada dokumen negara seperti RPJPN, RPJMN, dan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2025–2045,” ujar Satriwan, Sabtu (12/4).

Ancaman Ketidakpastian Pendidikan

Menurut Satriwan, perubahan sistem secara drastis dalam waktu singkat dapat merusak kesinambungan pendidikan. Ia menyoroti bahwa arah pendidikan yang berganti setiap lima tahun tidak mencerminkan keseriusan menuju Indonesia Emas 2045.

“Anak-anak jadi korban eksperimen kebijakan. Ini tidak adil dan berisiko besar untuk masa depan mereka,” tegasnya.

Kurikulum Merdeka Masih Bermasalah

Satriwan juga menilai penghapusan jurusan dalam Kurikulum Merdeka memiliki niat baik, yaitu memberi ruang eksplorasi minat dan bakat siswa. Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah justru menyusun skema pembelajaran yang tetap mengarah pada model penjurusan tersembunyi.

“Banyak sekolah menyusun menu belajar dalam bentuk paket IPA, IPS, atau campuran. Secara substansi, ini tetap penjurusan, hanya dikemas berbeda,” jelasnya.

Karena itu, jika penjurusan hendak diberlakukan kembali, Satriwan menekankan pentingnya sosialisasi menyeluruh, terutama kepada siswa kelas 11 yang akan terdampak langsung oleh Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan pada November 2025.

Polemik TKA sebagai Syarat Utama Seleksi

Kritik lain disampaikan P2G terkait rencana menjadikan TKA sebagai satu-satunya tolok ukur seleksi jalur prestasi masuk perguruan tinggi. Satriwan menilai langkah ini tidak adil dan berisiko mengabaikan usaha belajar siswa selama SMA.

Baca Juga :

Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Jakarta, Banyak Jajanan Kue Takjil yang Murah
Kubu 02 Minta Semua Pihak Lapang Dada, Jika Putusan MK Menangkan Prabowo-Gibran

“Kalau hanya TKA yang diperhitungkan, nilai rapor dan prestasi lain tidak akan dihargai. Ini bisa menghilangkan semangat belajar siswa sejak awal,” katanya.

P2G mengusulkan agar sistem seleksi jalur prestasi tetap mempertimbangkan empat indikator utama:

  1. Nilai rapor semester 1–5
  2. Prestasi akademik dan non-akademik (dengan sertifikat)
  3. Indeks sekolah (akreditasi, integritas, kinerja alumni)
  4. Nilai TKA sebagai pelengkap, bukan penentu utama

Jika TKA dijadikan satu-satunya acuan, lanjut Satriwan, ada risiko besar siswa kehilangan motivasi belajar setelah November 2025.

“Kalau rapor dianggap tak penting, anak kelas 11 hanya belajar serius sampai November. Setelah itu, bisa saja mereka jadi cuek,” ujarnya.

Perkuat Integritas, Bukan Seragamkan Sistem

Terkait tudingan “katrol nilai” oleh guru untuk membantu siswa lolos seleksi, P2G meminta pemerintah tidak menyamaratakan kesalahan segelintir oknum kepada seluruh guru. Solusi yang diusulkan adalah memperluas penggunaan e-Rapor dan memperkuat sistem pengawasan dengan sanksi tegas bagi sekolah yang melanggar.

“Jangan karena sebagian kecil guru curang, lalu semua nilai rapor dianggap tidak valid. Itu sama saja meruntuhkan kredibilitas guru-guru di seluruh Indonesia,” tegas Satriwan.

Ia menutup dengan mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal efisiensi atau sistem seleksi, melainkan soal membangun karakter, integritas, dan masa depan anak bangsa.***

You Might Also Like

Beasiswa Garuda Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Diminta Bangun Ekosistem Riset Nasional
Program Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Ingatkan Pentingnya Tata Kelola yang Transparan
Prabowo Dukung Kampus IIT dan IIM Berdiri di Indonesia, Perkuat Pendidikan Nasional
Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Program, dan Syarat Terbarunya
Ini Respons Akademisi Saat Bahlil Tantang Kampus Uji Kebijakan Energi di KSTI 2026
TAGGED:abdul mu'tiMendikdasmenPenjurusanSMA
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article 8 Siswa MAN 2 Kota Malang Tembus Kampus Dunia, Bukti Madrasah Bisa Go Internasional!
Next Article Raffi Ahmad Janji Bangun Creative Space di Ambon, ‘Saya yang Jahit Semua!’
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Dari Aceh hingga Papua, SMA Unggul Garuda Antar Ratusan Siswa ke Universitas Kelas Dunia

3 weeks ago
Pendidikan

Kabar Baik! 80 Ribu Pelajar SMA/SMK Swasta di Jabar Dapat Bantuan Pendidikan

3 weeks ago
Pendidikan

Pemerintah Resmi Umumkan 307 Siswa Lolos SMA Unggul Garuda Baru Tahun Ajaran 2026/2027

3 weeks ago
Pendidikan

Peluang Kuliah Dalam dan Luar Negeri Makin Terbuka Lewat Portal Beasiswa Baru

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index