Pada sebuah pagi yang hangat di Kota dan Kabupaten Pasuruan, terpancar semangat baru dari ratusan siswa siswi yang menapaki koridor Program Sekolah Rakyat (SR). Program unggulan ini digagas untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak anak dari keluarga kurang beruntung, yang di sini, di Pasuruan, harapan itu nyata terasa.
Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif yang menggabungkan pendidikan dengan layanan sosial terpadu, mulai dari pendataan keluarga melalui DTSEN (Data Terpadu Sistem Ekonomi Nasional) yang kemudian dilengkapi dengan makan bergizi gratis, asrama, dan pendampingan untuk siswa dari kategori desil 1–2. Di Pasuruan, program ini telah dijalankan di beberapa titik yang mencakup sekolah berlokasi di bekas kantor Pemkab yang disiapkan sebagai lokasi pilot.
Laporan dari Detikcom menunjukkan bahwa siswa dari SRMP 28 Kota Pasuruan merasa lebih nyaman dan termotivasi sekolah di SR. Mereka mendapat fasilitas makan tiga kali sehari, asrama dengan kamar bersama, hingga pembelajaran yang mencakup keimanan, kesamaptaan, kemandirian, dan entrepreneurship. Contohnya, seorang siswa bernama Arza Dwi Oktavianto berkata bahwa ia kini lebih teratur dan tidak lagi sering main tanpa pulang seperti sebelumnya.
Kisah kisah seperti ini menunjukkan bahwa perubahan positif sudah terasa, yang menegaskan bahwa program ini menjawab kebutuhan nyata siswa. Namun kata “namun” dalam judul tetap mengisyaratkan adanya tantangan yang perlu diperhatikan.
Walaupun fasilitas makin membaik, sejumlah persoalan muncul dalam pelaksanaannya. Harian Bhirawa melaporkan bahwa tiga siswa di salah satu SR Kabupaten Pasuruan meninggalkan asrama, satu karena pelanggaran berat berupa bullying dan penganiayaan, sementara dua lainnya keluar atas permintaan orang tua.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem boarding school yang berbasis pembinaan karakter membutuhkan perhatian khusus yang tidak hanya mengandalkan fasilitas fisik, melainkan juga dukungan psikososial dan keterlibatan keluarga.
Komitmen pemerintah terlihat jelas melalui kunjungan Mensos Saifullah Yusuf pada 15 November 2025 di Pasuruan. Ia menegaskan bahwa sekolah rakyat adalah prioritas nasional yang memadukan pendidikan dan kesejahteraan sosial secara terpadu.
Dalam kesempatan itu, beberapa poin utama disampaikan, seperti target menjangkau 46.000 siswa di masa mendatang, penegasan bahwa tidak boleh ada titip menitip dalam seleksi siswa, hingga kesiapan pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 7,3 hektare untuk perluasan fasilitas.
Indonesia masih menghadapi kesenjangan pendidikan yang signifikan. Bagi anak anak dari keluarga kurang mampu, akses ke pendidikan berkualitas sering kali sulit dicapai. Sekolah Rakyat hadir sebagai program yang menyatukan pendidikan dan pemberdayaan keluarga.
Dengan fasilitas lengkap dan suasana belajar yang mendukung, siswa siswa yang sebelumnya merasa jauh dari kesempatan kini memiliki harapan baru. Mensos bahkan menyampaikan bahwa mimpi yang tadinya terasa mustahil kini bisa menjadi mungkin ketika fasilitas dan pelayanan terbaik disediakan.
Ada beberapa langkah yang bisa memastikan agar program ini semakin efektif, seperti:
- meningkatkan pendampingan psikososial siswa
- memperkuat keterlibatan orang tua
- menjaga transparansi dan akurasi pendataan
- melakukan evaluasi rutin terkait hasil belajar siswa
- memperluas jenjang dari SD hingga SMA sesuai target pemerintah daerah
Jika langkah langkah ini konsisten dilakukan, maka manfaat Sekolah Rakyat bisa dirasakan lebih optimal oleh anak anak dan keluarga mereka.
Baca Juga : https://inversi.id/tenaga-perpustakaan-sekolah-rakyat-agen-perubahan-yang-memutus-rantai-kemiskinan/
Di tengah kisah bahagia para siswa yang semakin fokus dan termotivasi, tantangan tetap ada. Namun hal itu bukan alasan untuk berhenti. Program Sekolah Rakyat di Pasuruan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan kesejahteraan dapat berjalan berdampingan untuk membuka pintu perubahan.
Bagi anak anak yang dulu merasa mimpi itu jauh, sekolah ini memberi jalan. Bagi keluarga yang sering merasa tertinggal, program ini memberi ruang untuk tumbuh. Kini tugas bersama adalah memastikan semua harapan itu dapat terwujud tanpa terhenti di tengah jalan.
Semoga lebih banyak anak Indonesia bisa merasakan pengalaman seperti siswa siswa di Pasuruan: bahagia, berdaya, dan punya peluang yang sama untuk meraih masa depan.