INVERSI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak lagi sekadar menjadi instrumen peningkatan gizi nasional, melainkan telah bertransformasi menjadi lokomotif penggerak ekonomi kerakyatan yang sangat masif.
Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi antara pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang berlangsung di Kantor Dewan Ekonomi Nasional, Jakarta, Selasa (24/06/2026).
Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, dan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Mayjen Trenggono, yang diterima langsung oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. Pertemuan tersebut secara khusus membahas hasil kajian komprehensif mengenai efektivitas serta dampak turunan dari implementasi Program MBG terhadap ekosistem ekonomi nasional.
Potensi Ekonomi yang Signifikan
Berdasarkan hasil kajian mendalam yang dilakukan pada 800 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah, ditemukan data yang mencengangkan.
Program MBG diperkirakan mampu memicu perputaran belanja pangan mencapai lebih dari Rp 120 triliun per tahun. Angka ini mencerminkan besarnya daya beli negara yang disalurkan langsung kepada pelaku usaha lokal, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.
“Program ini bukan hanya soal memberi makan, tetapi tentang bagaimana kita menciptakan rantai pasok yang berpihak pada ekonomi lokal. Perputaran uang sebesar Rp 120 triliun di tingkat akar rumput ini akan menjadi stimulus besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar perwakilan BGN dalam keterangannya.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Keberlanjutan
Selain perputaran nilai ekonomi yang besar, kajian tersebut juga menyoroti kapasitas penyerapan tenaga kerja. Program MBG diproyeksikan mampu menyerap hingga 1,2 juta tenaga kerja baru. Lapangan kerja ini akan tersebar di seluruh unit SPPG di Indonesia, mencakup peran koki, staf logistik, staf administrasi, hingga kurir distribusi.
Dewan Ekonomi Nasional memberikan dukungan penuh melalui rekomendasi kebijakan yang menekankan pada efisiensi rantai distribusi. Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, menekankan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada transparansi dan keterlibatan komunitas lokal.
Menurutnya, jika pengelolaan dilakukan dengan manajemen modern, maka program ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat berkelanjutan bagi Indonesia.
Dengan sinergi antara BGN dan DEN, pemerintah optimistis bahwa target peningkatan gizi anak-anak Indonesia akan berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi nasional. Hal ini selaras dengan visi besar pemerintah dalam menciptakan Indonesia Emas 2045 melalui SDM yang sehat dan ekonomi yang tangguh dari tingkat desa hingga kota.