inversi.id – Jayapura, 4 November 2025 Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kini hadir di Jayapura, Papua, dengan pendekatan yang unik dan penuh makna. Melalui dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri yang beroperasi di Distrik Jayapura Utara dan Distrik Muara Tami, sebanyak 1.880 siswa dari jenjang PAUD hingga SMA mendapatkan asupan gizi seimbang setiap hari.
Lebih dari sekadar program makan gratis, MBG di Papua menjadi simbol kolaborasi antara negara, masyarakat adat, dan kearifan lokal. Menu yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga mencerminkan identitas budaya Papua.
Dua dapur SPPG Polri yang berlokasi di Dok V dan Muara Tami menjadi pusat produksi makanan bergizi untuk ribuan siswa. Dapur ini beroperasi dengan standar tinggi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah.
- Jam operasional: Memasak dimulai pukul 00.00 WIT hingga 04.00 WIT, penyajian pukul 06.00–07.00 WIT
- Distribusi: Makanan diantar langsung ke sekolah-sekolah setiap pagi
- Harga per porsi: Rp11.000 untuk PAUD, Rp15.000 untuk SD hingga SMA
Kombes Pol Sandi Sultan, Auditor Kepolisian Madya Itwasda Polda Papua, menegaskan bahwa kebersihan dan keamanan pangan menjadi prioritas utama. “Kami betul-betul memperhatikan kebersihan makanan, apalagi banyaknya kasus yang terjadi di beberapa wilayah dari dapur SPPG,” ujarnya.
Salah satu keunggulan MBG di Jayapura adalah penggunaan bahan pangan lokal. Menu yang disajikan mencakup:
- Papeda dan sagu sebagai sumber karbohidrat
- Ikan segar dan telur sebagai protein utama
- Sayur mayur lokal seperti daun singkong, bayam, dan labu
- Umbi-umbian seperti ubi jalar dan talas sebagai pelengkap
Bahan baku diperoleh dari kebun masyarakat dan peternak lokal, sehingga program ini juga mendukung ekonomi kerakyatan. Bahkan, proses memasak melibatkan mama-mama Papua sebagai relawan dapur, memperkuat rasa kepemilikan dan partisipasi komunitas.
MBG di Papua tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengedukasi siswa tentang pentingnya gizi dan budaya pangan lokal. Anak-anak belajar mengenal makanan khas daerah mereka, memahami nilai nutrisi, dan menghargai proses produksi makanan.
Program ini juga menjadi sarana pelestarian budaya kuliner Papua, yang selama ini kurang terekspos dalam pendidikan formal.
Meski berjalan sukses, dapur SPPG masih menghadapi tantangan:
- Keterbatasan alat masak: Perlu ruang pencucian khusus karena ukuran alat besar
- Distribusi ke daerah terpencil: Butuh armada dan logistik yang efisien
- Standar kebersihan: Terus ditingkatkan agar sesuai dengan protokol keamanan pangan
Polda Papua berkomitmen untuk membangun fasilitas tambahan, termasuk ruang pencucian alat masak dan dapur baru di Merauke yang sedang dalam proses pembangunan.
Program MBG memberikan dampak nyata:
- Meningkatkan konsentrasi belajar: Anak-anak yang kenyang lebih fokus di kelas
- Mengurangi angka stunting dan malnutrisi
- Mendorong partisipasi sekolah: Orang tua lebih percaya menitipkan anak ke sekolah
- Membangun solidaritas komunitas: Melibatkan warga dalam produksi dan distribusi makanan
Program Makan Bergizi Gratis di Jayapura adalah bukti bahwa intervensi gizi bisa dilakukan dengan pendekatan lokal, partisipatif, dan berkelanjutan. Dengan dapur SPPG Polri sebagai tulang punggung, MBG tidak hanya memberi makan, tetapi juga membangun masa depan anak-anak Papua yang sehat, cerdas, dan bangga akan budayanya.
Ke depan, model MBG Jayapura bisa direplikasi di daerah lain, dengan penyesuaian menu dan pendekatan lokal. Karena gizi bukan hanya soal angka, tapi soal rasa, budaya, dan harapan.