INVERSI.ID – Pernahkah kamu mendengar ungkapan bahwa perempuan lebih sulit membaca peta daripada laki-laki? Mitos ini sudah lama beredar, bahkan sering dijadikan bahan candaan dalam obrolan sehari-hari. Tapi, apakah anggapan itu benar adanya? Atau justru hanya stereotip yang tak berdasar?
Secara umum, kemampuan membaca peta termasuk dalam keterampilan spasial, kemampuan untuk memahami, mengingat, dan memanipulasi informasi tentang ruang dan posisi.
Beberapa penelitian psikologi kognitif memang sempat menyebutkan bahwa laki-laki cenderung memiliki kemampuan spasial yang lebih tinggi dibanding perempuan, terutama dalam orientasi arah dan rotasi mental objek. Hal inilah yang sering dijadikan dasar asumsi bahwa laki-laki lebih handal dalam membaca peta.
Namun, kesimpulan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Para ahli kini mulai menekankan bahwa perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh faktor biologis semata, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, dan pola pendidikan sejak dini.
Anak laki-laki, misalnya, lebih sering didorong untuk bermain game berbasis petualangan atau membangun objek secara fisik, yang secara tidak langsung melatih kemampuan spasial mereka.
Sementara itu, anak perempuan cenderung lebih diarahkan ke permainan yang bersifat sosial atau verbal. Hal ini menyebabkan perempuan memiliki keunggulan di bidang lain seperti komunikasi dan pemahaman verbal, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa mahir membaca peta.
Faktanya, beberapa riset terbaru menunjukkan bahwa saat perempuan diberikan pelatihan dan stimulasi yang sama, mereka bisa menyamai bahkan melampaui kemampuan spasial laki-laki. Artinya, keterampilan membaca peta bisa diasah, bukan bakat bawaan yang tetap seumur hidup.
Perlu juga dipahami bahwa setiap individu punya gaya belajar dan cara memahami informasi yang berbeda. Beberapa orang lebih mudah memahami peta visual, sementara yang lain lebih terbantu dengan instruksi verbal atau landmark tertentu. Dalam konteks ini, bukan soal jenis kelamin, tapi lebih kepada strategi yang digunakan.
Menguatkan argumen tersebut, banyak perempuan yang terbukti andal dalam bidang-bidang yang menuntut kecakapan navigasi tinggi, seperti pilot, arsitek, geolog, hingga anggota tim SAR. Fakta ini semakin menegaskan bahwa anggapan “perempuan sulit membaca peta” tidak sepenuhnya berdasar.
Kesimpulannya, anggapan bahwa perempuan lebih sulit membaca peta dibanding laki-laki lebih tepat disebut sebagai mitos daripada fakta ilmiah. Perbedaan yang ada bisa dijembatani dengan pengalaman, pelatihan, dan kepercayaan diri. Jadi, alih-alih terjebak dalam stereotip, lebih baik kita fokus pada potensi dan kemampuan masing-masing individu.***