INVERSI.ID – Presiden Prabowo Subianto bersama putranya, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo, melakukan silaturahmi dengan menyambangi kediaman Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Kamis. Kunjungan tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Natal 2025 dan berlangsung dalam suasana hangat serta penuh keakraban.
Pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Natal, tetapi juga dimanfaatkan untuk membahas sejumlah isu strategis yang berkaitan dengan arah pembangunan nasional, khususnya di sektor ekonomi, ketahanan pangan, hingga penanganan bencana alam di sejumlah daerah. Dalam pertemuan tersebut, Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan langsung berbagai laporan perkembangan terkini kepada Presiden Prabowo.
Menurut Luhut, pertemuan berlangsung santai namun substantif. Berbagai topik dibicarakan, mulai dari pekerjaan pemerintahan, kondisi ekonomi nasional, hingga pesan-pesan kebangsaan yang menekankan pentingnya persatuan di tengah dinamika global dan tantangan domestik yang dihadapi Indonesia saat ini.
“Senang sekali sore ini Presiden Prabowo dan putra semata wayangnya, Mas Didit, menyempatkan hadir ke kediaman kami untuk berbagi kebahagiaan di hari Natal. Kami duduk santai hampir 45 menit, berbincang tentang banyak hal mulai dari pekerjaan hingga terkait pentingnya menjaga kekompakan dan persatuan sebagai sesama anak bangsa,” kata Luhut menjelaskan isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo di Jakarta, Kamis.
Pengembangan Ekonomi dan Kemandirian Benih Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Luhut melaporkan perkembangan di sektor ekonomi yang saat ini menjadi perhatian Dewan Ekonomi Nasional. Salah satu topik utama yang disampaikan adalah pengembangan industri plasma nutfah atau seed industry yang tengah dikerjakan melalui Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2).
Pengembangan plasma nutfah dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional. Indonesia selama ini masih menghadapi tantangan ketergantungan terhadap benih impor untuk berbagai komoditas pangan dan hortikultura. Melalui riset dan inovasi yang dilakukan di TSTH2, pemerintah menargetkan lahirnya benih unggul karya anak bangsa yang mampu bersaing secara global sekaligus memperkuat kemandirian nasional.
Luhut menyebut Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap agenda tersebut. Menurutnya, Presiden menilai kemandirian benih sebagai fondasi penting bagi masa depan industri pangan nasional, terutama di tengah ketidakpastian rantai pasok global dan perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya.
“Yang paling menarik bagi saya adalah atensi positif beliau terhadap pengembangan seed industry melalui riset yang sedang kami jalankan di TSTH2, karena beliau sangat menekankan bahwa kemandirian benih adalah kunci masa depan industri pangan kita,” ucap Luhut.
Selain isu pengembangan plasma nutfah, Luhut juga melaporkan perkembangan negosiasi tarif antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Isu ini dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan arus perdagangan, investasi, serta daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
“Saat berbincang tadi, saya lihat Presiden tampak sangat gembira mendengar kabar bahwa negosiasi tarif dengan Amerika Serikat akan segera rampung. Beliau juga berpesan untuk menjaga hubungan bilateral yang baik dengan negara mitra dan sahabat. Saya juga melaporkan kesiapan peluncuran GovTech untuk Bansos Digital pada bulan Oktober tahun depan yang rencananya akan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo bersama Presiden World Bank, sebuah langkah besar untuk transparansi dan efisiensi layanan publik Indonesia,” ujar Luhut.
Peluncuran GovTech untuk Bansos Digital disebut sebagai terobosan penting dalam reformasi birokrasi dan pelayanan publik. Program ini dirancang untuk meningkatkan transparansi, akurasi penyaluran bantuan sosial, serta meminimalkan potensi kebocoran anggaran. Kehadiran Presiden World Bank dalam agenda tersebut juga mencerminkan kepercayaan internasional terhadap langkah-langkah transformasi digital yang ditempuh Indonesia.
Perhatian Pada Pemulihan Bencana dan Peran TNI
Selain membahas agenda ekonomi dan diplomasi, Presiden Prabowo dan Luhut juga menyinggung kondisi daerah-daerah yang terdampak bencana alam, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana yang terjadi di wilayah tersebut menimbulkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu aktivitas masyarakat, sehingga membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
Luhut menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan apresiasi terhadap peran aktif TNI dalam menangani dampak bencana di Sumatera. Salah satu langkah konkret yang diapresiasi adalah pembangunan jembatan bailey di sejumlah titik untuk memulihkan konektivitas wilayah yang terdampak.
“Presiden Prabowo juga menyampaikan apresiasi terhadap gerak cepat TNI dalam menangani bencana di Sumatera melalui pembangunan 150-an jembatan bailey di beberapa titik dalam rangka pemulihan kondisi pasca bencana di beberapa wilayah terdampak bencana di Sumatera,” ujar Luhut.
Pembangunan jembatan darurat tersebut dinilai sangat krusial untuk memastikan distribusi logistik, mobilitas warga, serta aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan. Presiden menekankan pentingnya sinergi antarinstansi agar proses pemulihan pascabencana dapat berlangsung lebih cepat dan efektif, sekaligus meminimalkan dampak sosial yang dirasakan masyarakat.
Dalam konteks ini, pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak. Langkah tersebut diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat ke kondisi normal sekaligus meningkatkan ketahanan daerah terhadap bencana di masa depan.
Pesan Persatuan di Momentum Natal
Di akhir pertemuan, Luhut mengungkapkan pesan khusus yang disampaikan Presiden Prabowo. Pesan tersebut dinilainya sangat relevan dengan semangat Natal, yakni pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam menghadapi berbagai ujian bangsa.
“Ada satu pesan Beliau yang saya kira relevan dengan spirit Natal. Bahwa di tengah badai ujian yang menerpa bangsa ini, kita harus selalu kompak dan menjaga persatuan. Khususnya dalam mempercepat pemulihan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah bencana di Sumatera dan Aceh,” katanya.
Pesan tersebut mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang menekankan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan gotong royong sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan nasional. Menurut Luhut, kunjungan Presiden Prabowo di hari Natal bukan sekadar agenda simbolik, melainkan juga pengingat akan pentingnya empati dan kepedulian terhadap sesama.
“Bagi saya, kunjungan Beliau sore ini menjadi pengingat bahwa tidak ada beban yang terasa berat jika dipikul bersama; karena kemanusiaan serta persatuan adalah jembatan sesungguhnya untuk membawa bangsa ini bangkit dan terus melangkah maju,” tutur Luhut.
Silaturahmi tersebut sekaligus memperlihatkan upaya menjaga komunikasi dan koordinasi di tingkat elite pemerintahan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global, pembangunan nasional, serta dinamika sosial yang berkembang di masyarakat. Momentum Natal dimanfaatkan untuk memperkuat pesan persatuan, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong Indonesia yang lebih mandiri, tangguh, dan inklusif ke depan.