INVERSI.ID – Dukungan Muhammadiyah untuk atlet, beasiswa atlet berprestasi, dan pembinaan olahraga Indonesia menjadi tiga poin penting yang ditegaskan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam upaya mendorong prestasi olahraga nasional. Muhammadiyah membuka diri bagi para atlet yang ingin mengembangkan karier profesionalnya tanpa meninggalkan pendidikan. Melalui jalur beasiswa prestasi, organisasi ini berupaya memfasilitasi atlet untuk fokus pada performa olahraga tanpa terbebani biaya kuliah.
Hal itu disampaikan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, dalam acara soft launching Lapangan Sepak Bola Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (12/7/2025) di Kasihan, Bantul. Menurutnya, kontribusi Muhammadiyah bagi olahraga nasional bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata melalui sistem pendidikan yang berpihak pada atlet.
“Muhammadiyah harus memberi ruang itu, jadi anak-anak berprestasi ada beasiswa berprestasi. Termasuk dukungan agar mereka bisa konsentrasi membangun prestasi olahraganya, tapi tidak mikir biaya kuliah,” ungkap Sayuti.
Beasiswa Atlet: Bukti Komitmen Muhammadiyah
Dukungan Muhammadiyah diwujudkan melalui pemberian beasiswa prestasi di banyak Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Beasiswa ini tidak hanya terbuka untuk atlet lokal, tetapi juga bisa diakses atlet nasional yang ingin menempuh pendidikan tinggi sambil mengejar karier profesional.
Sayuti mencontohkan sejumlah pesepakbola nasional yang kini tercatat sebagai mahasiswa di PTMA, seperti Rizki Ridho, Ricky Kambuaya, Malik Risaldi, hingga Ramadhan Sananta. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa dunia akademik dan olahraga bisa berjalan beriringan.
“Ini kontribusi nyata. Muhammadiyah tidak hanya omdo – omong doang dengan sistem olahraga ini. Kita sudah memulai, memberi kontribusi meski masih di awal,” katanya.
Pentingnya Konsistensi Pembinaan Atlet
Selain dukungan finansial dan pendidikan, Muhammadiyah juga mendorong pembinaan atlet yang konsisten dan berkelanjutan. Menurut Sayuti, prestasi tinggi dalam olahraga tidak bisa dicapai jika semua hanya sebatas proyek sesaat.
“Harapannya adalah konsistensi. Di manapun pengembangan olahraga itu jangan hanya proyek sekali jadi. Tapi konsistensi, karena nggak bisa prestasi-prestasi tinggi itu tanpa konsisten,” ujarnya.
Muhammadiyah berharap para pemangku kebijakan di bidang olahraga, baik pemerintah maupun swasta, bisa merancang program pembinaan yang terstruktur dari level usia dini hingga dewasa. Dengan begitu, para atlet muda memiliki jalur karier yang jelas dan berkelanjutan.
Belajar dari Pembinaan Tapak Suci
Sayuti menilai pembinaan sepak bola nasional bisa mencontoh pola pembinaan pencak silat, khususnya melalui organisasi Tapak Suci. Dalam pencak silat, pembinaan dilakukan sejak dini dengan didukung kompetisi yang terjadwal secara rutin.
Kompetisi yang konsisten membantu para atlet membangun mental bertanding dan mengasah kemampuan tekniknya secara bertahap. Pola semacam ini terbukti melahirkan banyak atlet silat Indonesia yang berprestasi di level internasional.
“Kalau kita lihat pencak silat, khususnya Tapak Suci, pembinaannya konsisten, dari bawah ada kompetisi terus-menerus. Ini yang harus ditiru di sepak bola,” kata Sayuti.
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Karier Atlet
Selain konsistensi kompetisi, Sayuti juga mengingatkan pentingnya membangun lingkungan yang mendukung perkembangan karier atlet. Lingkungan yang baik memungkinkan para atlet muda untuk tetap fokus berlatih tanpa harus khawatir soal pendidikan atau biaya hidup.
Di sinilah, kata dia, peran institusi pendidikan seperti Muhammadiyah menjadi penting. Dengan memberikan ruang, fasilitas, dan beasiswa bagi atlet, Muhammadiyah ikut mendorong terciptanya ekosistem olahraga yang sehat.
“Kami ingin anak-anak muda yang punya bakat olahraga tidak hanya berhenti di bangku SMA. Mereka bisa lanjut kuliah, dapat gelar sarjana, sambil tetap jadi atlet profesional. Jadi karier mereka panjang,” tegasnya.
Generasi Atlet Muda Butuh Dukungan Nyata
Tren positif prestasi atlet muda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir patut diapresiasi. Namun tren ini harus diikuti dukungan nyata dari seluruh pihak, mulai dari pembinaan usia dini, fasilitas latihan yang memadai, hingga jaminan pendidikan bagi para atlet.
Muhammadiyah menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan olahraga bisa berjalan bersama jika didukung sistem yang tepat. Beasiswa bagi atlet bukan hanya soal biaya, tetapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi mereka membawa nama bangsa.
Dengan semangat ini, Muhammadiyah berharap prestasi atlet nasional akan semakin meningkat dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.