INVERSII.ID – Kisah Avan Ferdiansyah, siswa berprestasi Ponorogo yang sukses menembus Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Indonesia. Meski hanya anak dari penjual es kocok, Avan berhasil mengoleksi lebih dari 100 piala kejuaraan akademik sejak kecil, hingga akhirnya mendapat beasiswa kuliah ITB berkat kerja kerasnya.
Prestasi Avan viral di media sosial setelah dosen ITB yang melakukan validasi beasiswa mengunggah video lemari penuh piala di rumah sederhananya. Rumah berukuran 3×4 meter itu hanya memiliki satu ruang tamu kecil, kasur, meja belajar, dan lemari kayu yang sesak oleh piala yang dikumpulkan Avan sejak masih TK.
Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang pas-pasan, Avan membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk meraih mimpi besar. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, tekad, dan prestasi bisa membuka jalan ke masa depan gemilang.
Prestasi Dimulai Sejak Sebelum SD
Menurut ibunya, Umi Latifah, bakat Avan sudah terlihat sejak usia pra-sekolah. Bahkan sebelum duduk di bangku SD, Avan sudah bisa membaca dan berhitung karena gemar mengamati poster abjad dan angka di rumah.
“Avan ikut lomba sejak sebelum masuk SD, waktu itu di salah satu mal di Madiun, langsung juara. Sejak itu hampir setiap bulan dia ikut lomba dan selalu pulang bawa piala,” tutur Umi.
Ketertarikannya pada dunia pengetahuan semakin berkembang saat ia mulai membaca buku-buku ensiklopedia anak bergambar seri Why, yang harganya cukup mahal untuk keluarga mereka. Namun, kedua orang tuanya tetap berusaha membelikan buku itu demi menunjang minat belajar Avan.
Sejak SD hingga SMA, Avan langganan juara lomba matematika. Saat SMP, minatnya beralih ke biologi karena bercita-cita menjadi dokter. Namun, setelah menyadari biaya kuliah kedokteran yang mahal, ia mulai melirik bidang ilmu bumi yang tetap mencakup pelajaran favoritnya seperti matematika, kimia, dan biologi.
Tantangan Ekonomi Tidak Melemahkan Semangat
Avan sadar betul keterbatasan ekonomi keluarganya, yang hanya bergantung pada penghasilan orang tua berjualan es kocok di alun-alun Ponorogo. Meski begitu, semangatnya untuk mengejar prestasi tak pernah padam.
Ia terinspirasi dari alumni SMA-nya yang pernah diterima di ITB lewat jalur Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang ilmu bumi. Sejak itu, Avan mulai bertekad mengikuti jejak serupa, meski akhirnya gagal meraih trofi saat bertanding di ITB.
Sempat patah semangat, Avan kembali bangkit setelah guru pembinanya menyemangati untuk mencoba jalur SNBP.
“Jangan terlalu pikirkan soal biaya dulu, yang penting buktikan dulu kalau kamu bisa,” ujar sang guru, seperti diceritakan Avan.
Diterima di ITB dan Raih Beasiswa
Avan belajar sungguh-sungguh untuk seleksi SNBP hingga akhirnya diterima di FITB ITB. Untuk biaya kuliah, ia mengajukan keringanan dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu.
Tim ITB bahkan datang langsung ke rumahnya untuk mengecek kondisi ekonomi keluarganya. Mereka dibuat kagum saat melihat ratusan piala di lemari kayu rumah sederhana itu.
“Awalnya mereka hanya ingin lihat kondisi rumah, pekerjaan orang tua. Tapi waktu lihat piala-piala itu, mereka sampai bilang: ‘Ini serius piala? Kirain toko piala,’” kenang Avan sambil tersenyum.
Beruntung, pengajuan beasiswa Avan disetujui. Ia mendapat bantuan dari program beasiswa Paragon untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Kini, Avan bisa melangkah ke kampus impiannya tanpa harus membebani orang tua.
Inspirasi Bagi Generasi Muda Indonesia
Avan kini menjadi simbol bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Dengan kerja keras, disiplin, dan doa orang tua, ia berhasil membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih.
“Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Jangan pesimis duluan. Mimpi itu gratis, yang mahal usaha kita untuk mewujudkannya,” pesan Avan kepada teman-teman sebaya yang juga ingin berkuliah di kampus impian.
Kisah Avan Ferdiansyah seharusnya menjadi pemantik semangat bagi generasi muda Indonesia, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana. Karena pada akhirnya, bukan latar belakang yang menentukan masa depanmu, tetapi tekad dan kerja kerasmu sendiri.