By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Naik Gunung Tren Lagi di Kalangan Anak Muda, Ini Tips Aman Antisipasi Hipotermia
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Naik Gunung Tren Lagi di Kalangan Anak Muda, Ini Tips Aman Antisipasi Hipotermia

LifeStyle

Naik Gunung Tren Lagi di Kalangan Anak Muda, Ini Tips Aman Antisipasi Hipotermia

Jack
By
Jack
12 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Tips aman mendaki gunung, antisipasi hipotermia saat mendaki, dan persiapan fisik sebelum naik gunung menjadi tiga hal penting yang harus dipahami para pendaki, khususnya generasi muda. Tren mendaki gunung memang semakin diminati anak muda. Pemandangan indah di puncak dan konten media sosial yang menawan kerap menjadi motivasi utama.

Contents
Gunung Sibuatan: Medan Licin dan Mengecoh PendakiGunung Sibayak: Medan Mudah, Risiko Tetap AdaPendaki Wanita: Persiapan Bisa SebulanHipotermia: Risiko Paling Berbahaya di GunungPerlengkapan Wajib untuk Cegah HipotermiaPendaki Muda, Jangan Abaikan Risiko

Namun, di balik foto-foto memesona di puncak, medan yang ekstrem dan risiko tinggi selalu mengintai para pendaki yang kurang persiapan. Banyak kasus kecelakaan terjadi karena pendaki tidak memperhatikan kondisi fisik, pakaian, dan perlengkapan yang sesuai dengan standar keselamatan.

Sejumlah narasumber berbagi pengalamannya tentang bahaya mendaki tanpa persiapan, mulai dari hipotermia, medan licin, hingga tragedi di jalur populer. Semua ini menjadi pelajaran penting agar tren mendaki gunung tidak menimbulkan korban jiwa.

Gunung Sibuatan: Medan Licin dan Mengecoh Pendaki

Irvan Trihandoko, anggota Regu Vertikal Rescue Indonesia dari Badan Pendidikan dan Pelatihan Sumatera Utara, menyebut Gunung Sibuatan kini menjadi salah satu jalur paling ekstrem di Sumatera Utara sejak Gunung Sinabung ditutup akibat erupsi.

“Dulunya yang sering didaki itu Gunung Sinabung. Sekarang karena sudah ditutup, pendaki beralih ke Gunung Sibuatan,” ujarnya, Sabtu (12/7).

Irvan mengingatkan, tanah humus di Sibuatan sangat gembur dan licin sehingga sering mengecoh pendaki.

“Kalau dipijak bisa langsung lengser. Kadang kita pikir sudah sampai puncak, ternyata itu hanya bukit,” katanya.

Meskipun belum pernah menangani kecelakaan serius di Sibuatan atau Sinabung, Irvan mengingatkan Gunung Sibayak pun tidak kalah berbahaya, meski lebih dikenal ramah untuk pendaki pemula.

Gunung Sibayak: Medan Mudah, Risiko Tetap Ada

Irvan menceritakan beberapa kasus tragis di Sibayak. Salah satunya saat seorang wisatawan Jepang terperosok ke jurang namun berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, serta seorang pendaki asal Jerman yang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.

Baca Juga :

7 Manfaat Buah Mengkudu untuk Kesehatan dan Cara Mengolahnya
Geopolitik Memanas, DPR Tegaskan Peran Penting BUMN untuk Penguatan Ekspor

Ia juga pernah menemukan sekelompok pendaki terjebak badai dini hari hanya mengenakan celana jeans, sepatu kanvas, dan jaket tipis. Parahnya, mereka tidak membawa jas hujan dan bahkan ditinggalkan temannya.

Kini, akses ke Sibayak lebih mudah dengan sepeda motor hingga pos terakhir lalu berjalan kaki sekitar 30 menit ke puncak. Kemudahan ini membuat banyak pendaki memilih “pulang-pergi” dalam sehari, yang menurut Irvan justru meningkatkan risiko karena minim persiapan.

“Pendaki dulu lebih disiplin dan memahami risiko. Sekarang banyak yang hanya ikut-ikutan tren tanpa bekal pengetahuan,” ujarnya.

Pendaki Wanita: Persiapan Bisa Sebulan

Tiga wanita naik gunung.

Elfa Harahap, seorang jurnalis perempuan yang aktif mendaki sejak SMP, mengingatkan pentingnya persiapan fisik sebelum naik gunung.

“Persiapannya bisa sampai dua bulan. Pulang sekolah olahraga, cek semua bawaan sebelum berangkat. Nggak boleh ada yang kelewatan,” katanya.

Menurutnya, alam bebas tidak bisa ditebak. Banyak kejadian tak terduga yang hanya bisa diantisipasi dengan latihan fisik, perencanaan matang, dan disiplin membawa perlengkapan yang memadai.

Hipotermia: Risiko Paling Berbahaya di Gunung

Salah satu ancaman paling mematikan bagi pendaki gunung adalah hipotermia, kondisi ketika suhu tubuh turun drastis karena paparan dingin.

Elfa mengaku pernah nyaris mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Rinjani. Meski siang hari panas, malamnya mereka justru menggigil hebat.

“Di satu tenda kami dua perempuan, berpelukan karena kedinginan. Saling membalut tangan, kaki, dan leher dengan apapun yang ada sampai subuh,” tuturnya.

Ia mengingatkan pentingnya mengenakan tiga lapisan pakaian (three layers), lapisan pertama berbahan poliester, lapisan kedua lebih tebal dengan campuran poliester, dan lapisan ketiga jaket khusus gunung.

Irvan menambahkan, pendaki sebaiknya menghindari celana jeans, sepatu kanvas, dan tanktop karena bahan tersebut tidak mampu menahan dingin.

“Kalau bisa, jaketnya dua lapis yang benar-benar menghangatkan. Celana juga pilih yang ringan, nyaman, dan aman,” ujarnya.

Perlengkapan Wajib untuk Cegah Hipotermia

Selain pakaian yang tepat, perlengkapan seperti sleeping bag thermal sangat penting untuk menjaga suhu tubuh saat tidur di gunung.

“Sleeping bag thermal itu sangat membantu mempercepat tubuh kembali hangat. Itu penting sekali,” tegas Irvan.

Baik Elfa maupun Irvan sepakat, keselamatan saat mendaki gunung bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga kelompok. Jangan pernah meninggalkan rekan pendaki yang mengalami masalah di tengah jalur. Komunikasi, disiplin, dan kerja sama adalah kunci mendaki yang aman.

Pendaki Muda, Jangan Abaikan Risiko

Tren mendaki gunung memang menyenangkan, apalagi untuk konten media sosial. Namun, risiko nyata tidak boleh diabaikan. Alam bebas selalu memiliki sisi ekstrem yang tidak bisa diremehkan.

Persiapkan fisik, kenali medan, bawa perlengkapan memadai, dan selalu waspada. Jangan hanya ikut tren atau ingin tampil keren di puncak tanpa memikirkan keselamatan diri dan kelompok.

Mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga kembali pulang dengan selamat.***

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:HipotermiaHobiNaik GunungTips
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article JVSAN Gabung Future Asian Music, Siap Kolaborasi dengan Musisi Internasional
Next Article Dukung Atlet Berprestasi, Muhammadiyah Janjikan Beasiswa, Karier Profesional, dan Konsistensi Pembinaan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

2 weeks ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index