INVERSI.ID – Tips aman mendaki gunung, antisipasi hipotermia saat mendaki, dan persiapan fisik sebelum naik gunung menjadi tiga hal penting yang harus dipahami para pendaki, khususnya generasi muda. Tren mendaki gunung memang semakin diminati anak muda. Pemandangan indah di puncak dan konten media sosial yang menawan kerap menjadi motivasi utama.
Namun, di balik foto-foto memesona di puncak, medan yang ekstrem dan risiko tinggi selalu mengintai para pendaki yang kurang persiapan. Banyak kasus kecelakaan terjadi karena pendaki tidak memperhatikan kondisi fisik, pakaian, dan perlengkapan yang sesuai dengan standar keselamatan.
Sejumlah narasumber berbagi pengalamannya tentang bahaya mendaki tanpa persiapan, mulai dari hipotermia, medan licin, hingga tragedi di jalur populer. Semua ini menjadi pelajaran penting agar tren mendaki gunung tidak menimbulkan korban jiwa.
Gunung Sibuatan: Medan Licin dan Mengecoh Pendaki
Irvan Trihandoko, anggota Regu Vertikal Rescue Indonesia dari Badan Pendidikan dan Pelatihan Sumatera Utara, menyebut Gunung Sibuatan kini menjadi salah satu jalur paling ekstrem di Sumatera Utara sejak Gunung Sinabung ditutup akibat erupsi.
“Dulunya yang sering didaki itu Gunung Sinabung. Sekarang karena sudah ditutup, pendaki beralih ke Gunung Sibuatan,” ujarnya, Sabtu (12/7).
Irvan mengingatkan, tanah humus di Sibuatan sangat gembur dan licin sehingga sering mengecoh pendaki.
“Kalau dipijak bisa langsung lengser. Kadang kita pikir sudah sampai puncak, ternyata itu hanya bukit,” katanya.
Meskipun belum pernah menangani kecelakaan serius di Sibuatan atau Sinabung, Irvan mengingatkan Gunung Sibayak pun tidak kalah berbahaya, meski lebih dikenal ramah untuk pendaki pemula.
Gunung Sibayak: Medan Mudah, Risiko Tetap Ada
Irvan menceritakan beberapa kasus tragis di Sibayak. Salah satunya saat seorang wisatawan Jepang terperosok ke jurang namun berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, serta seorang pendaki asal Jerman yang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Ia juga pernah menemukan sekelompok pendaki terjebak badai dini hari hanya mengenakan celana jeans, sepatu kanvas, dan jaket tipis. Parahnya, mereka tidak membawa jas hujan dan bahkan ditinggalkan temannya.
Kini, akses ke Sibayak lebih mudah dengan sepeda motor hingga pos terakhir lalu berjalan kaki sekitar 30 menit ke puncak. Kemudahan ini membuat banyak pendaki memilih “pulang-pergi” dalam sehari, yang menurut Irvan justru meningkatkan risiko karena minim persiapan.
“Pendaki dulu lebih disiplin dan memahami risiko. Sekarang banyak yang hanya ikut-ikutan tren tanpa bekal pengetahuan,” ujarnya.
Pendaki Wanita: Persiapan Bisa Sebulan
Elfa Harahap, seorang jurnalis perempuan yang aktif mendaki sejak SMP, mengingatkan pentingnya persiapan fisik sebelum naik gunung.
“Persiapannya bisa sampai dua bulan. Pulang sekolah olahraga, cek semua bawaan sebelum berangkat. Nggak boleh ada yang kelewatan,” katanya.
Menurutnya, alam bebas tidak bisa ditebak. Banyak kejadian tak terduga yang hanya bisa diantisipasi dengan latihan fisik, perencanaan matang, dan disiplin membawa perlengkapan yang memadai.
Hipotermia: Risiko Paling Berbahaya di Gunung
Salah satu ancaman paling mematikan bagi pendaki gunung adalah hipotermia, kondisi ketika suhu tubuh turun drastis karena paparan dingin.
Elfa mengaku pernah nyaris mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Rinjani. Meski siang hari panas, malamnya mereka justru menggigil hebat.
“Di satu tenda kami dua perempuan, berpelukan karena kedinginan. Saling membalut tangan, kaki, dan leher dengan apapun yang ada sampai subuh,” tuturnya.
Ia mengingatkan pentingnya mengenakan tiga lapisan pakaian (three layers), lapisan pertama berbahan poliester, lapisan kedua lebih tebal dengan campuran poliester, dan lapisan ketiga jaket khusus gunung.
Irvan menambahkan, pendaki sebaiknya menghindari celana jeans, sepatu kanvas, dan tanktop karena bahan tersebut tidak mampu menahan dingin.
“Kalau bisa, jaketnya dua lapis yang benar-benar menghangatkan. Celana juga pilih yang ringan, nyaman, dan aman,” ujarnya.
Perlengkapan Wajib untuk Cegah Hipotermia
Selain pakaian yang tepat, perlengkapan seperti sleeping bag thermal sangat penting untuk menjaga suhu tubuh saat tidur di gunung.
“Sleeping bag thermal itu sangat membantu mempercepat tubuh kembali hangat. Itu penting sekali,” tegas Irvan.
Baik Elfa maupun Irvan sepakat, keselamatan saat mendaki gunung bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga kelompok. Jangan pernah meninggalkan rekan pendaki yang mengalami masalah di tengah jalur. Komunikasi, disiplin, dan kerja sama adalah kunci mendaki yang aman.
Pendaki Muda, Jangan Abaikan Risiko
Tren mendaki gunung memang menyenangkan, apalagi untuk konten media sosial. Namun, risiko nyata tidak boleh diabaikan. Alam bebas selalu memiliki sisi ekstrem yang tidak bisa diremehkan.
Persiapkan fisik, kenali medan, bawa perlengkapan memadai, dan selalu waspada. Jangan hanya ikut tren atau ingin tampil keren di puncak tanpa memikirkan keselamatan diri dan kelompok.
Mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga kembali pulang dengan selamat.***