SURABAYA, INVERSI — Masyarakat dan kelompok tani (poktan) Kota Surabaya bersiap panen cabai rawit pada pekan kedua Desember ini. Ini merupakan hasil pembagian 25.000 bibit cabai sejak Agustus lalu.
“Pembagiannya melalui kelurahan dan kecamatan untuk warga. Karena kami sudah menghitung mundur melakukan pembibitan dan kami bersama dengan kelompok tani menanam serentak di bulan Agustus. Sekarang sebagian besar di bulan ini (Desember 2025) sudah panen” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Antiek Sugiharti seperti dikutip, Sabtu (13/12/2025).
Atas pendekatan itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meyakini harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru 2025 bakal terkendali. Langkah pembagian bibit cabai menjadi penyeimbang alami ketika harga cabai rawit melonjak tajam akibat cuaca ekstrem. Strategi penguatan produksi lokal ini membuat warga ikut menjadi produsen cabai di rumah.
Berdasarkan data DKPP per 10 Desember 2025, harga cabai rawit di Surabaya mencapai Rp 70 ribu per kilogram, naik dari kisaran Rp 42–46 ribu pada akhir November. Kenaikan ini terjadi hampir di seluruh Jawa Timur dan Indonesia.
“Jadi tidak terjadi kenaikan yang signifikan, tapi ada beberapa komoditas yang memang mengalami kenaikan. Diantaranya adalah yang naik agak lumayan itu cabai rawit. Di beberapa daerah itu ada yang sampai Rp 100 ribu per kilogram ya memang. Karena cuaca ya, itu salah satu faktornya,” jelas Antiek.
Namun, berbeda dari daerah lain, Surabaya memiliki benteng penahan berupa panen dari bibit bantuan pemkot yang mulai dipetik warga sejak Desember.
Pemkot Surabaya membagikan 25.000 bibit cabai rawit sejak Agustus hingga awal September 2025. Bibit itu disalurkan melalui kelurahan, kecamatan, hingga komunitas urban farming. Kini, sebagian besar sudah panen.
“Dua pohon saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga. Bahkan ada yang panen satu kilo tiga ons dari dua polybag,” kata Antiek.
Hasil panen rumah tangga ini membuat permintaan cabai dari pasar menurun, sehingga tekanan harga di Surabaya bisa lebih terkendali dibanding daerah lain.
Selain cabai rawit, hampir semua komoditas pangan menurut dia tetap stabil menjelang akhir tahun. Sebutlah seperti daging ayam ras: Rp 37.000/kg, lalu telur ayam ras: Rp28.000/kg dan cabai merah besar: fluktuatif ringan di kisaran Rp 44–48 ribu/kg.
“Secara prinsip, hanya cabai rawit yang naik cukup lumayan. Yang lain stabil dan ketersediaannya aman,” tegas Antiek.
Ia mengimbau warga untuk tidak memborong bahan makanan berlebihan agar tidak menimbulkan food loss maupun kepanikan pasar. DKPP sendiri bersama lintas OPD juga menurut dia bersiap menggelar pemantauan intensif di pasar tradisional dan modern.