Inversi Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel), Provinsi Banten, resmi menetapkan akselerasi target kuantitatif baru yang agresif dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguatan sektor kesehatan publik.
Menatap akhir tahun anggaran 2026, jajaran eksekutif daerah membidik penurunan angka prevalensi tengkes (stunting) secara drastis hingga mampu menyentuh parameter psikologis 7 persen. Target ini menempatkan Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu wilayah urban dengan proyeksi penurunan gangguan pertumbuhan anak paling progresif di tingkat nasional.
Target ambisius tersebut bukan sekadar estimasi politik, melainkan proyeksi terukur yang diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan peta jalan (roadmap) strategis kota.
Langkah ini diambil guna memitigasi risiko defisit kognitif generasi masa depan serta memastikan seluruh anak di wilayah Tangerang Selatan terbebas dari ancaman masalah malnutrisi kronis secara permanen.
Intervensi Lintas Sektoral Melalui 35 Program Terintegrasi
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa pencapaian target satu digit tersebut mustahil diwujudkan apabila hanya mengandalkan metode penanganan konvensional yang bersifat sporadis.
Oleh sebab itu, Pemkot Tangsel telah mengodifikasi 35 program intervensi terintegrasi yang mengikat kinerja seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara horizontal, mulai dari rumpun kesehatan hingga rumpun infrastruktur wilayah.
Pemerintah daerah membagi arsitektur penanganan ini ke dalam dua klaster pendekatan ilmiah:
- Intervensi Spesifik (Sektor Kesehatan): Berfokus langsung pada sasaran klinis penerima manfaat, seperti pemberian makanan tambahan (PMT) tinggi protein, suplementasi gizi mikro, serta pemeriksaan antenatal berkala bagi ibu hamil.
- Intervensi Sensitif (Sektor Non-Kesehatan): Berfokus pada faktor eksternal penyangga, meliputi penyediaan akses air minum layak, perbaikan sanitasi lingkungan pemukiman (bedah rumah kumuh), edukasi pola asuh, serta penguatan ketahanan pangan rumah tangga melalui urban farming.
“Reduksi angka stunting secara hakiki bukanlah beban kerja tunggal dari dinas kesehatan maupun tenaga medis di puskesmas, melainkan sebuah gerakan kolektif struktural. Kami mengunci target ini melalui 35 program kerja lintas instansi.”
“Hulu penanganan kami arahkan pada pengawasan ketat kecukupan nutrisi ibu hamil, sementara hilirnya diperkuat melalui pembenahan sanitasi lingkungan dan penyediaan air bersih di kawasan padat penduduk,” urai Wali Kota Benyamin Davnie secara terperinci.
Sinkronisasi Daerah dengan Rantai Pasok Makan Bergizi Gratis (MBG) Nasional
Pilar utama yang menjadi penguat (enabler) optimisme Pemkot Tangsel dalam mengejar target 7 persen ini adalah kebijakan konvergensi taktis antara APBD kota dengan program prioritas pemerintah pusat, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Integrasi vertikal ini secara instan menutup celah keterbatasan anggaran daerah dalam pemenuhan logistik pangan sehat skala besar.
Guna memastikan efektivitas distribusi intervensi pangan matang tersebut, Pemkot Tangsel bersama Badan Gizi Nasional telah mengoperasikan secara penuh 97 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar secara proporsional di tujuh wilayah kecamatan.
Jaringan logistik dapur industri ini difungsikan secara khusus untuk menyuplai hidangan kaya makronutrisi bagi peserta didik di institusi pendidikan formal serta kelompok balita yang terdeteksi masuk ke dalam zona risiko tinggi (at-risk) stunting.
| Wilayah Kecamatan di Tangsel | Sebaran Infrastruktur SPPG | Klaster Fokus Intervensi Gizi |
| Ciputat & Ciputat Timur | Jaringan Unit SPPG Terpadu | Balita berisiko stunting dan ibu hamil |
| Pamulang & Setu | Jaringan Unit SPPG Terpadu | Peserta didik PAUD-SMA dan ibu menyusui |
| Serpong & Serpong Utara | Jaringan Unit SPPG Terpadu | Pencegahan anemia remaja putri di sekolah |
| Pondok Aren | Jaringan Unit SPPG Terpadu | Pemetaan sasar jaring pengaman sosial |
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menambahkan bahwa strategi pemutusan rantai stunting secara radikal dilakukan dengan mengintervensi kelompok remaja putri sebagai calon ibu masa depan.
Melalui Dinas Kesehatan, sekolah-sekolah di Tangsel diwajibkan menyelenggarakan program gerakan minum Tablet Tambah Darah (TTD) secara masif guna meminimalisasi prevalensi anemia fungsional.
“Kami memutus determinan stunting sejak dari fase hulu biologis. Dengan memastikan para remaja putri dan calon ibu di Tangerang Selatan berada dalam kondisi status gizi optimal dan bebas dari gejala anemia, maka secara medis kita telah mereduksi risiko kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang menjadi pemicu utama stunting,” jelas Pilar Saga Ichsan.
Mobilisasi Kader Akar Rumput dan Validasi Data Terbuka
Di tingkat tapak (grassroots), Pemkot Tangsel mengandalkan kekuatan pengawasan melekat yang digerakkan oleh ribuan kader Posyandu serta personil Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Para petugas lapangan ini mendapatkan mandat untuk melakukan pemantauan antropometri (pengukuran tinggi dan berat badan) secara berkala dan melakukan pendataan dari rumah ke rumah (door-to-door). Pengawasan berlapis ini memastikan tidak ada satu pun balita di wilayah RT/RW yang luput dari intervensi pemulihan gizi.
Melihat tren kurva prevalensi stunting di Kota Tangerang Selatan yang konsisten menunjukkan deviasi penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, didukung dengan kepastian alokasi fiskal yang kuat serta sinergi lintas sektor yang solid.
Pemerintah daerah optimistis bahwa target angka 7 persen pada akhir tahun 2026 akan bertransformasi dari sekadar target di atas kertas menjadi sebuah realitas capaian pembangunan kesehatan publik yang nyata, inklusif, dan berkelanjutan.