By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Waspada Superflu di Awal Tahun, Kemenkes Perkuat Surveilans Nasional
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Waspada Superflu di Awal Tahun, Kemenkes Perkuat Surveilans Nasional

Kesehatan

Waspada Superflu di Awal Tahun, Kemenkes Perkuat Surveilans Nasional

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
4 Min Read
ilustrasi siswa menggunakan masker. (foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Pergantian tahun kerap dibarengi resolusi hidup lebih sehat. Namun, awal 2026 turut diwarnai dengan kewaspadaan terhadap virus influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai superflu yang telah terdeteksi di Indonesia sejak pertengahan 2025.

Contents
Peran pemerintah dan kesiapsiagaan layanan kesehatanPenguatan surveilans dan peran masyarakat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember 2025 menunjukkan subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas kesehatan.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan serta kelompok usia anak-anak.

Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa situasi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia masih berada dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A (H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin.

Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dengan gejala yang umumnya serupa flu musiman.

Di kawasan Asia, subclade K juga telah dilaporkan di sejumlah negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meski menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.

Kemenkes, kata Prima, akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan dalam merespons dinamika perkembangan influenza.

Peran pemerintah dan kesiapsiagaan layanan kesehatan

Pakar kesehatan sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai pemerintah perlu terus menyampaikan informasi perkembangan influenza A (H3N2) subclade K kepada publik guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Baca Juga :

Kasus Dugaan Korupsi BTS, Jokowi: Hormati Proses Hukum Meski Libatkan Menteri
Iran Ancam Balas AS dan Israel dengan Strategi Perang Baru

Ia menekankan pentingnya surveilans ketat yang mencakup jumlah kasus, tingkat keparahan gejala, hingga pola penularan, serta kesiapan sarana layanan kesehatan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus.

Kendati berpotensi memicu gelombang penyakit flu, Prof Tjandra menegaskan bahwa kondisi saat ini belum mengarah pada pandemi. Menurut Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu, potensi pandemi sangat bergantung pada kemungkinan mutasi signifikan, peningkatan penularan dan keparahan, serta penyebaran lintas negara secara luas.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengambil langkah sederhana namun efektif, mulai dari beristirahat dan memakai masker saat bergejala flu, segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan jika kondisi memburuk, hingga mempertimbangkan vaksinasi flu terutama bagi lansia dan individu dengan komorbid.

Menurut Prof Tjandra, efektivitas vaksin flu dapat mencapai 70 hingga 75 persen pada anak-anak dan 30 hingga 40 persen pada dewasa, terutama dalam mencegah sakit berat dan kebutuhan rawat inap.

Penguatan surveilans dan peran masyarakat

Penguatan sistem surveilans menjadi faktor krusial dalam pengendalian superflu. Profesor Riset BRIN Bidang Epidemiologi dan Biostatistik, Prof Masdalina Pane, menyebut optimalisasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) sebagai fondasi utama pengendalian wabah.

Ia menjelaskan bahwa sistem surveilans berfungsi layaknya radar yang memantau ambang batas epidemiologi, sehingga respons dapat dilakukan secara cepat dan berbasis data. Penguatan surveilans di titik layanan kesehatan strategis dinilai penting untuk menjaga sensitivitas deteksi kasus.

Namun demikian, upaya pemerintah harus berjalan seiring dengan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kesehatan.

“Pastikan kualitas istirahat dan hidrasi yang cukup, penuhi nutrisi harian dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung banyak vitamin dan mineral. Jangan lupa aktivitas fisik,” pesan Masdalina Pane.

Dengan sinergi antara surveilans yang kuat dan kesadaran individu, risiko superflu dapat dimitigasi. Meski awal tahun dibayangi kewaspadaan, masyarakat diimbau tetap tenang karena pemerintah memastikan situasi masih terkendali.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:DisiagakanPenyakitSuperflu
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Arus Balik Nataru 2025/2026, Penumpang Kereta Api Melonjak
Next Article Libur Tahun Baru, Arus Balik ke Jabotabek Naik 16 Persen
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index