Perkembangan AI membuka peluang karier baru di luar angkasa yang diprediksi bisa dinikmati generasi muda pada tahun 2035. Prediksi ini disampaikan CEO OpenAI, Sam Altman, yang melihat masa depan dunia kerja tidak lagi terbatas di Bumi, melainkan meluas hingga ke tata surya. Menurutnya, perkembangan AI akan menciptakan ekosistem kerja baru yang menarik, bergaji tinggi, sekaligus menantang bagi anak muda.
Perkembangan AI diperkirakan akan menjadi kunci utama dalam mendukung eksplorasi luar angkasa. Altman menilai, teknologi tersebut akan membuka jalan lahirnya profesi baru yang sebelumnya hanya bisa ditemukan dalam film fiksi ilmiah. Dari misi antarplanet hingga kolaborasi internasional, pekerjaan di luar angkasa tidak lagi hanya milik astronot, melainkan juga berbagai profesi lain yang berhubungan dengan teknologi, riset, dan logistik.
Perkembangan AI juga diproyeksikan membawa transformasi besar pada sistem pendidikan dan pasar tenaga kerja. Lulusan perguruan tinggi di masa depan dituntut untuk menguasai keterampilan teknologi, khususnya AI, agar bisa bersaing dalam industri luar angkasa yang sedang tumbuh pesat. Dengan kata lain, anak muda perlu mempersiapkan diri sejak dini agar tidak tertinggal dalam pergeseran besar ini.
AI Buka Jalan Karier Baru di Luar Angkasa
Sam Altman menegaskan, pada tahun 2035, pekerjaan di luar angkasa bukan lagi impian semata. Generasi muda bisa ikut menjelajahi tata surya dengan profesi bergengsi yang menawarkan gaji tinggi.
“Pada tahun 2035, lulusan perguruan tinggi bisa berangkat menjelajahi tata surya dengan pekerjaan yang benar-benar baru, menarik, bergaji tinggi, dan super menarik,” ujar Altman, dikutip dari Fortune (13/8/2025).
Peluang karier baru itu muncul seiring dengan semakin berkembangnya perusahaan swasta yang terjun dalam industri antariksa. Jika sebelumnya eksplorasi luar angkasa hanya terbatas pada NASA atau badan antariksa pemerintah, kini berbagai perusahaan teknologi mulai membangun satelit, kendaraan luar angkasa, hingga stasiun penelitian orbit.
Selain insinyur dirgantara, pekerjaan baru juga diproyeksikan terbuka bagi spesialis robotika, teknisi AI, ilmuwan planet, insinyur bioteknologi, hingga pengelola logistik antarplanet. Artinya, dunia kerja di masa depan akan semakin beragam dan lintas disiplin ilmu.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa kebutuhan insinyur dirgantara tumbuh lebih cepat dibanding rata-rata profesi lain. Saat ini, gaji tahunan untuk pekerjaan tersebut sudah mencapai 130.000 dolar AS (sekitar Rp2 miliar) dan diperkirakan terus meningkat.
Gaji Tinggi dan Peran AI dalam Eksplorasi
Industri luar angkasa diproyeksikan menjadi salah satu sektor paling menggiurkan pada 2035. Dengan dukungan perkembangan AI, pekerjaan-pekerjaan baru akan memiliki standar gaji tinggi karena membutuhkan keahlian khusus yang tidak bisa digantikan mesin sepenuhnya.
Perkembangan AI berperan dalam berbagai aspek, mulai dari sistem navigasi otomatis, perawatan prediktif pesawat luar angkasa, analisis data misi, hingga simulasi untuk meminimalisasi risiko. Teknologi ini memungkinkan manusia menjelajahi ruang angkasa dengan lebih aman dan efisien.
Prediksi Altman sejalan dengan rencana NASA yang menargetkan misi berawak ke Mars pada 2030-an. Jika misi ini berhasil, maka lulusan perguruan tinggi pada 2035 berpotensi ikut serta dalam proyek besar menjelajah Bulan, Mars, atau bahkan planet lain.
Namun, di balik optimisme tersebut, Altman juga menyinggung tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Menurut laporan Fortune, banyak anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan stabil akibat otomatisasi. Data Federal Reserve AS mencatat angka pengangguran meningkat pada pekerjaan entry-level seperti layanan pelanggan, penulisan konten, dan administrasi.
Di sinilah AI memiliki dua sisi: di satu sisi menghapus sejumlah pekerjaan lama, namun di sisi lain menciptakan profesi baru yang lebih kompleks.
Pro dan Kontra Prediksi Masa Depan
Visi besar Altman tentang karier luar angkasa menuai pro dan kontra. Profesor teknologi Stanford, Emily Tang, menilai gagasan tenaga kerja antarplanet menarik, namun implementasinya tidak sesederhana yang dibayangkan. Menurutnya, infrastruktur global, regulasi internasional, dan kesiapan sosial masyarakat menjadi faktor penting yang harus disiapkan.
“Teknologi bisa melesat cepat, tapi masyarakat biasanya butuh waktu lebih lama untuk mengejar,” ujar Tang.
Tokoh teknologi lain juga memberikan pandangannya. Bill Gates memprediksi AI bisa memperpendek jam kerja mingguan hanya menjadi 2–3 hari. Jensen Huang, CEO Nvidia, menilai AI akan memperkuat potensi manusia, bukan menggantikannya. Sementara Mark Cuban percaya AI bisa menciptakan kekayaan baru, bahkan memungkinkan seseorang menjadi triliuner hanya dari bisnis rumahan.
Jika prediksi ini benar, maka masa depan kerja generasi muda pada 2035 akan sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Bekerja di luar angkasa bukan lagi impian, melainkan kemungkinan nyata yang dipicu oleh perkembangan AI dan eksplorasi antariksa.
Perkembangan AI Membuka Peluang Karier Baru
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja di Bumi, tetapi juga membuka peluang karier baru di luar angkasa. Pada 2035, generasi muda berpotensi memiliki pekerjaan bergaji tinggi dalam sektor antariksa berkat perkembangan teknologi.
Meski demikian, tantangan juga tidak sedikit. Perlu kesiapan pendidikan, infrastruktur, dan kebijakan global agar visi tersebut bisa terwujud. Generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan teknologi sejak dini, karena masa depan pekerjaan akan menuntut lebih dari sekadar ijazah.
Jika dipersiapkan dengan baik, era baru pekerjaan ini bisa membuka peluang luar biasa, menjadikan luar angkasa bukan sekadar tempat eksplorasi, tetapi juga medan karier yang nyata.