INVERSI.ID – Di tengah perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI), banyak anak muda masih menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling Instagram. Hal ini disoroti oleh Aravind Srinivas, CEO Perplexity AI, yang menilai bahwa generasi muda seharusnya lebih aktif memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang, bukan sekadar konsumsi hiburan.
“AI itu seperti jembatan. Bisa bantu kamu dari satu titik ke titik yang lebih tinggi. Tapi kalau kamu enggak nyebrang, ya enggak akan sampai ke tujuan,” ujar Srinivas dalam wawancara terbaru.
Komentar Srinivas ini sejalan dengan pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menyebut bahwa AI tidak akan sepenuhnya menggantikan pekerjaan manusia. Sebaliknya, akan mengubah cara manusia bekerja menjadi lebih efisien, kreatif, dan terfokus pada hal-hal strategis.
Mengubah, Bukan Menghapus Pekerjaan
Kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan banyak pekerjaan memang menjadi topik hangat belakangan ini. Namun para pemimpin di bidang teknologi justru melihat peluang di balik ketakutan tersebut.
“Teknologi ini tidak serta merta menggantikan pekerja manusia, tapi hanya mengubah cara manusia bekerja,” tegas Huang dalam berbagai kesempatan.
Contohnya, pekerjaan seperti content creator, analis data, hingga customer service kini bisa terbantu dengan AI untuk meningkatkan produktivitas. Hal ini membuat waktu kerja lebih efisien, sementara ide-ide kreatif tetap menjadi milik manusia.
Anak Muda Harus Melek Teknologi
Buat generasi Z dan milenial, pesan dari para CEO ini menjadi pengingat penting, jangan hanya jadi pengguna pasif teknologi. Mulailah belajar hal-hal baru seperti coding, prompt engineering, data analysis, dan digital marketing yang kini sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Tak kalah penting, anak muda juga perlu menjaga keseimbangan antara konsumsi dan kreasi digital. Waktu yang dihabiskan untuk scrolling media sosial bisa dialihkan untuk membangun portofolio, mencoba proyek kecil berbasis kederdasan buatan, atau bahkan membangun bisnis.
Bukan Momok, Tapi Kesempatan
Alih-alih menakuti, perkembangan AI seharusnya jadi motivasi buat anak muda untuk beradaptasi. Kecerdasan buatan memang bisa otomatisasi banyak hal, tapi nilai unik seperti empati, kreativitas, dan keinginan untuk terus belajar tetap tak tergantikan.
Seperti kata Srinivas, AI hanyalah jembatan. Tugas kita adalah memutuskan apakah akan melangkah, atau terus diam di tempat.***