SURABAYA, INVERSI – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan “Eco Pesantren” kepada Pesantren Tebuireng Putri Kesamben. Penghargaan ini menjadi bukti komitmen pesantren dalam menjaga kelestarian lingkungan berbasis nilai keislaman.
Dari puluhan pesantren di Jawa Timur, hanya sekitar 20 pesantren yang berhasil meraih predikat Eco Pesantren, dan Pesantren Tebuireng Putri Kesamben menjadi salah satunya.
Kepala Pondok Sains Kesamben tahun 2024, Ustadz Mudhfar, yang mengoordinasikan seluruh persiapan Eco Pesantren, menjelaskan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh civitas pesantren.
“Eco Pesantren bagi Pesantren Tebuireng Kesamben adalah motivasi dan penyemangat agar usaha yang kita lakukan bersama para guru, ustadz, ustadzah, dan santri untuk menjadikan pesantren bersih, indah, asri, dan nyaman dapat terwujud serta mendapat dukungan dari semua pihak,” ujarnya dikutip, Selasa (30/12/2025).
Menurut Ustadz Mudhfar, komitmen menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan justru menjadi kekuatan utama.
“Kami berkomitmen menjaga lingkungan pesantren tetap bersih dan indah. Hal ini menjadi daya tarik bagi para pengunjung, baik wali santri maupun instansi pemerintah, hingga akhirnya pesantren kami dibidik oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang untuk mewakili ke tingkat Jawa Timur,” jelasnya.
Awalnya, terdapat lima pesantren yang dibina oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang, kemudian mengerucut menjadi dua pesantren. “Alhamdulillah, pesantren kami berhasil membawa predikat Eco Pesantren tingkat Jawa Timur,” ungkapnya.
Konsep Eco Pesantren mulai diterapkan pada tahun 2024 setelah mendapatkan pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pesantren lain yang lebih dulu meraih penghargaan serupa. Dalam pelaksanaannya, peran pimpinan pesantren menjadi kunci utama.
“Semua program harus dimulai dari atas. Kepala pondok melakukan komunikasi dan sosialisasi, kemudian bekerja sama dengan kepala madrasah, guru, staf, hingga pegawai kebersihan dan keamanan agar program ini didukung semua pihak,” ujarnya.
Berbagai kebiasaan ramah lingkungan kini telah membudaya di kalangan santri.
“Santri diwajibkan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, menjaga kebersihan kamar dan lingkungan, berolahraga rutin setiap Jumat, serta mengonsumsi makanan sehat,” jelas Ustadz Mudhfar.
Dalam pengelolaan lingkungan, pesantren menerapkan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle.
“Kami sudah menerapkan Reduce dan Reuse. Untuk Recycle, kami bekerja sama dengan Bank Sampah Tebuireng dan Bank Sampah Induk Jombang. Untuk air dan energi, kami masih pada tahap kampanye hemat penggunaan,” katanya.
Ustadz Mansur mengakui bahwa tantangan terbesar muncul pada tahap awal pelaksanaan. “Yang paling berat itu ketika memulai. Tapi karena sejak awal kami berkomitmen menjadi pesantren bersih, penyesuaiannya tidak lama. Konsep Eco Pesantren kami adalah dari santri, oleh santri, dan untuk santri,” ujarnya.
Dampak program Eco Pesantren dirasakan secara nyata. “Lingkungan menjadi asri dan indah. Hidup bersih dan sehat semakin mudah dijalani. Dulu santri sakit kudis dianggap biasa, sekarang sudah menjadi sesuatu yang asing. Selain itu, ada dampak ekonomis karena sampah bisa bernilai dan penggunaan air serta energi menjadi lebih efisien,” ungkapnya.