INVERSI.ID – Dunia pertanian di Indonesia kini mulai menunjukkan wajah baru. Jika dulu profesi petani identik dengan generasi tua dan pekerjaan yang dianggap kurang menjanjikan, kini semakin banyak anak muda yang justru memilih menjadi petani modern. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 27 ribu anak muda yang aktif di sektor pertanian dengan pendapatan tinggi, bahkan mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.
“Mereka dari Merauke, dari Kalimantan, dan Aceh itu pendapatannya rata-rata Rp15 juta sampai Rp20 juta,” ujar Amran dikutip Kamis (23/10).
Menurut Amran, tumbuhnya minat anak muda terhadap sektor pertanian tidak lepas dari masuknya teknologi modern dalam proses produksi. Penggunaan alat-alat pertanian canggih, sistem irigasi otomatis, hingga analisis cuaca berbasis digital membuat pertanian kini jauh lebih efisien dan menarik bagi generasi milenial serta gen Z.
Pertanian Modern Jadi Magnet bagi Generasi Milenial dan Gen Z
Fenomena meningkatnya jumlah petani muda Indonesia menjadi bukti bahwa sektor pertanian mulai bertransformasi menjadi bidang yang menjanjikan. “Kami memberikan fasilitas dan alat pertanian hibah untuk mereka. Nanti ini, Insyaallah, akan berkelanjutan,” kata Amran.
Pemerintah, lanjutnya, kini sedang berupaya besar untuk mempercepat modernisasi pertanian nasional. Salah satunya melalui program cetak sawah baru seluas tiga juta hektare yang akan dibangun dengan sistem berbasis teknologi tinggi. Program ini dirancang agar lahan-lahan pertanian di berbagai daerah di Indonesia bisa diolah dengan lebih produktif dan efisien, sekaligus menjadi ladang pembelajaran bagi petani muda.
Lahan tersebut juga akan dikembangkan dalam bentuk kluster pertanian modern, mirip dengan sistem yang diterapkan di Amerika Serikat dan China. Model ini tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih menarik bagi anak muda karena mereka bisa berkolaborasi, berinovasi, dan mengelola bisnis pertanian secara profesional.
“Model tersebut dinilai lebih efisien dan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian,” jelas Amran.
Tantangan Regenerasi Petani di Indonesia
Meski tren petani muda mulai meningkat, tantangan regenerasi petani di Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas petani di Indonesia masih berasal dari kelompok usia tua.
Sekitar 70 persen petani berusia di atas 40 tahun, dengan dominasi terbesar berasal dari Generasi X (1965–1980) yang mencakup 42,39 persen, disusul oleh Baby Boomers (1946–1964) sebesar 27,61 persen.
Sementara itu, partisipasi generasi muda masih tergolong rendah. Petani dari kalangan milenial (1981–1996) baru mencapai 25,61 persen, sedangkan generasi Z (1997–2012) bahkan hanya 2,14 persen dari total petani nasional.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada geliat baru dari anak muda, regenerasi petani masih harus terus didorong agar sektor pertanian tidak kekurangan tenaga kerja di masa depan.
Anak Muda Melihat Pertanian sebagai Bisnis yang Menjanjikan
Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda yang kini terjun ke dunia pertanian melihat sektor ini bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan peluang bisnis berbasis inovasi dan teknologi.
Pertanian modern kini bisa dikelola dengan sistem precision agriculture atau pertanian presisi—menggunakan sensor tanah, drone, dan data analitik untuk memantau kelembapan, suhu, serta kebutuhan pupuk secara akurat.
Dengan cara ini, hasil panen bisa meningkat tanpa perlu memperluas lahan. Konsep pertanian hidroponik, aquaponik, dan urban farming juga menjadi pilihan menarik bagi anak muda di perkotaan yang ingin memulai usaha pertanian skala kecil dengan nilai ekonomi tinggi.
Banyak petani muda kini membuktikan bahwa dengan pendekatan teknologi dan manajemen modern, hasil pertanian bisa menjadi sumber penghasilan yang kompetitif. Tidak sedikit dari mereka yang mengubah lahan tidur menjadi kebun produktif, memasarkan hasilnya lewat e-commerce, hingga mengembangkan merek pertanian lokal yang memiliki nilai jual tinggi.
Amran pun berharap semangat ini terus tumbuh di berbagai daerah.
“Generasi muda adalah masa depan pertanian Indonesia. Mereka lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dan berani mengambil risiko untuk berinovasi,” katanya.
Dukungan Pemerintah untuk Petani Muda
Untuk memastikan regenerasi petani berjalan optimal, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memberikan dukungan berupa pelatihan, pembiayaan, dan akses peralatan. Program bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi salah satu langkah konkret pemerintah untuk menarik minat anak muda.
Selain itu, berbagai program pendampingan seperti Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) juga difokuskan untuk membina wirausaha muda di bidang pertanian. Program ini melibatkan pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pembentukan jejaring bisnis antarpelaku muda di sektor agrikultur.
Melalui pendekatan seperti ini, diharapkan pertanian menjadi karier yang bergengsi dan berkelanjutan, bukan sekadar pekerjaan turun-temurun. Pemerintah juga tengah menyiapkan skema pembiayaan berbunga rendah bagi petani muda yang ingin memulai usaha tani modern.
Pertanian Jadi Gaya Hidup Baru Generasi Muda
Menariknya, banyak anak muda kini menjadikan pertanian sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Mereka tidak hanya menanam untuk keuntungan ekonomi, tapi juga sebagai upaya menjaga lingkungan dan ketahanan pangan.
Media sosial pun berperan penting dalam tren ini. Banyak petani muda berbagi kisah sukses dan proses kerja mereka melalui platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Dari sana, muncul komunitas baru yang memandang bertani sebagai aktivitas keren dan bermakna.
Petani muda tidak lagi identik dengan lumpur dan sawah tradisional. Mereka bisa mengenakan sepatu bot dan membawa laptop di tengah ladang sambil mengontrol sistem irigasi otomatis melalui aplikasi. Inilah wajah baru pertanian Indonesia: modern, produktif, dan penuh semangat inovasi.
Menteri Amran menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada lahan dan alat, tetapi juga pada semangat generasi muda yang mampu membawa ide-ide segar.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan cara lama. Petani muda harus menjadi pionir perubahan menuju pertanian maju, mandiri, dan modern,” ujarnya.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan semangat inovatif anak muda, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi lumbung pangan dunia. Kehadiran 27 ribu petani muda hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju transformasi pertanian nasional yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.