INVERSI.ID – Gangguan internet Papua kembali menjadi sorotan publik setelah terputusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sorong-Merauke di kilometer 297 jalur Merauke-Timika. Insiden ini berdampak pada terhambatnya layanan telekomunikasi dan akses internet di beberapa wilayah, termasuk Timika, Asmat, Mappi, hingga Boven Digoel. PT Telkom Indonesia sebagai operator utama langsung mengambil langkah cepat untuk mempercepat proses perbaikan agar masyarakat kembali dapat menikmati layanan digital secara normal.
Menurut General Manager PT Telkom Indonesia Wilayah Papua, Antonius Joko Sritomo, gangguan internet Papua telah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Jaringan di beberapa daerah terdampak sudah kembali berfungsi secara bertahap, terutama setelah jalur kabel PTT Dobo-Timika yang sempat putus pada 12 Agustus berhasil tersambung kembali. Hal ini membawa angin segar bagi pelanggan yang selama lebih dari sepekan menghadapi kendala komunikasi digital.
Tidak hanya itu, PT Telkom Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak gangguan internet Papua. Bentuk kompensasi ini berupa kuota SMS, menit telepon gratis, hingga keringanan pembayaran tagihan, baik untuk pengguna kartu prabayar maupun pascabayar.
Dampak Gangguan Internet Papua pada Layanan Digital
Putusnya kabel laut Sorong-Merauke memberikan dampak besar bagi aktivitas masyarakat, khususnya di wilayah timur Indonesia. Aktivitas yang sebelumnya sangat bergantung pada jaringan internet seperti komunikasi, transaksi digital, hingga kebutuhan administrasi sehari-hari ikut terganggu.
Warga di Timika, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel misalnya, mengeluhkan lambatnya akses internet yang membuat layanan publik, sekolah daring, hingga kegiatan bisnis mengalami hambatan. Situasi ini menegaskan betapa pentingnya infrastruktur telekomunikasi di Papua sebagai tulang punggung komunikasi masyarakat.
PT Telkom Indonesia menyebut gangguan disebabkan oleh shunt fault atau gangguan arus listrik di kabel laut, tepatnya pada kilometer 297 jalur Merauke-Timika. Kerusakan semacam ini membutuhkan proses perbaikan khusus karena letaknya berada di dasar laut dengan jarak yang cukup jauh dari titik daratan.
Untuk mengatasi hal tersebut, sebuah kapal perbaikan dikirim ke lokasi gangguan. Kapal tersebut terlebih dahulu singgah di Dobo pada Senin, 25 Agustus 2025, untuk mengurus perizinan dan melengkapi logistik. Selanjutnya, kapal bergerak menuju titik kerusakan pada Selasa, 26 Agustus, dan diperkirakan tiba di lokasi pada Rabu, 27 Agustus 2025. Begitu tiba, tim teknis langsung dijadwalkan memulai pekerjaan perbaikan agar jaringan bisa segera pulih.
Gangguan semacam ini sebenarnya bukan hal baru di wilayah Papua dan Maluku. Kondisi geografis yang berupa laut dalam, seringnya terjadi aktivitas alam, hingga faktor teknis menjadi tantangan tersendiri bagi operator telekomunikasi. Namun, perbaikan kabel laut selalu menjadi prioritas utama karena menyangkut akses komunikasi masyarakat luas.
Langkah Cepat PT Telkom untuk Pulihkan Layanan
Menghadapi gangguan internet Papua, PT Telkom Indonesia tidak hanya fokus pada percepatan perbaikan teknis, tetapi juga memberikan perhatian kepada pelanggan. General Manager Customer Business Telkomsel Maluku Papua, Fajri Adi Firmansyah, menyatakan pihaknya memberikan kompensasi dalam bentuk kuota komunikasi gratis.
Pelanggan di wilayah terdampak bisa mengakses bantuan dengan menekan kode 88820#. Dari situ, mereka mendapatkan kuota 1.000 SMS per hari serta 60 menit telepon yang bisa digunakan tanpa biaya tambahan. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat tetap bisa berkomunikasi meski akses internet belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, PT Telkom juga menangguhkan penagihan untuk pelanggan di daerah terdampak, baik pengguna kartu Halo maupun pelanggan IndiHome. Penagihan baru akan berlaku kembali setelah jaringan dipastikan pulih sepenuhnya. Bagi pelanggan yang sudah menggunakan paket data selama masa gangguan, perusahaan juga menyiapkan mekanisme kompensasi pascapemulihan jaringan.
Langkah empati ini diapresiasi banyak pihak karena menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap kebutuhan komunikasi masyarakat. Di tengah ketidakpastian akibat gangguan internet Papua, pelanggan setidaknya merasa terbantu dengan adanya fasilitas komunikasi gratis.
Harapan Masyarakat Papua pada Infrastruktur Telekomunikasi
Kasus gangguan internet Papua kali ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur telekomunikasi di wilayah timur Indonesia masih perlu diperkuat. Meski Telkom sudah berusaha membangun jaringan kabel laut dan darat, kondisi geografis yang menantang membuat risiko gangguan tetap tinggi.
Bagi masyarakat, internet bukan lagi sekadar sarana hiburan. Ia sudah menjadi kebutuhan vital untuk pendidikan, kesehatan, bisnis, hingga komunikasi keluarga. Ketika akses ini terganggu, aktivitas sehari-hari pun ikut terhambat.
Oleh karena itu, harapan masyarakat Papua sangat besar agar ke depan infrastruktur telekomunikasi lebih tahan gangguan, baik melalui pembangunan jalur cadangan maupun teknologi alternatif seperti satelit berkecepatan tinggi. Dengan begitu, Papua bisa memiliki akses internet yang setara dengan wilayah lain di Indonesia.
Peristiwa gangguan internet Papua pada Agustus 2025 ini menegaskan betapa pentingnya infrastruktur digital di era modern. PT Telkom Indonesia sudah mengambil langkah cepat dengan mengirim kapal perbaikan, menyediakan kompensasi, hingga menunda penagihan pelanggan terdampak.
Meski masyarakat sempat mengalami kesulitan, layanan internet di sejumlah wilayah kini berangsur pulih. Harapannya, pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran untuk memperkuat infrastruktur telekomunikasi di wilayah timur agar tidak mudah terganggu di masa depan.