By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Fenomena Quiet Covering, Tren Baru Gen Z untuk Bertahan di Tempat Kerja
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Fenomena Quiet Covering, Tren Baru Gen Z untuk Bertahan di Tempat Kerja

Terkini

Fenomena Quiet Covering, Tren Baru Gen Z untuk Bertahan di Tempat Kerja

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
7 Min Read
Queit Covering
SHARE

INVERSI.ID – Quiet covering menjadi istilah yang belakangan ramai diperbincangkan, terutama di kalangan Gen Z yang mulai memasuki dunia kerja. Fenomena ini muncul seiring dengan dinamika kerja modern yang melahirkan berbagai istilah baru untuk menggambarkan bagaimana karyawan menyikapi tuntutan dan ekspektasi perusahaan. Bagi Gen Z, quiet covering dianggap sebagai cara agar mereka tetap diterima di lingkungan kerja tanpa kehilangan peluang untuk berkembang dalam karier. Intinya, mereka hanya berharap dihargai berdasarkan kompetensi dan kontribusi, bukan identitas pribadi.

Contents
Asal Usul Istilah Quiet CoveringQuiet Covering di Kalangan Gen ZDampak Quiet CoveringApakah Quiet Covering Selalu Buruk?Peran Perusahaan dalam Mengatasi Quiet CoveringGen Z dan Masa Depan Dunia Kerja

Meski begitu, quiet covering juga memunculkan pertanyaan, apakah ini sekadar strategi profesional atau justru bentuk tekanan baru di tempat kerja? Gen Z, sebagai generasi yang tumbuh dalam era digital dan terbiasa dengan keterbukaan, kini menghadapi dilema. Mereka memilih untuk menutupi sebagian identitas pribadi agar terlihat lebih profesional, meskipun di sisi lain hal ini berpotensi menekan kesehatan mental. Fenomena quiet covering akhirnya menjadi bagian dari budaya kerja yang tidak bisa diabaikan.

Secara sederhana, quiet covering bisa dipahami sebagai praktik menyembunyikan identitas pribadi untuk menghindari diskriminasi, stereotip, maupun penilaian negatif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino dan kini menjadi fenomena global, terutama di kalangan pekerja muda. Gen Z kerap melakukannya dengan cara menampilkan ekspresi datar atau wajah tanpa emosi ketika berinteraksi, sehingga orang lain sulit membaca perasaan atau kondisi mereka. Dengan begitu, mereka merasa lebih aman dari penilaian yang bisa memengaruhi karier.

Asal Usul Istilah Quiet Covering

Profesor Kenji Yoshino memperkenalkan istilah quiet covering untuk menggambarkan perilaku seseorang yang sengaja “menyembunyikan” bagian dari dirinya. Tujuannya adalah agar individu tersebut tetap dianggap profesional, layak, dan tidak mengalami diskriminasi. Konsep ini bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang banyak terjadi di lingkungan kerja.

Dalam konteks dunia profesional, menyembunyikan identitas dapat berupa menahan diri untuk tidak membicarakan kehidupan pribadi, pengalaman hidup, hingga masalah kesehatan mental. Seorang karyawan mungkin merasa perlu menutupi jati diri mereka agar peluang promosi atau kenaikan gaji tidak terhambat. Bagi sebagian besar Gen Z, pilihan ini dianggap sebagai bentuk adaptasi dalam menghadapi ekspektasi perusahaan.


Quiet Covering di Kalangan Gen Z

Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka dalam mengekspresikan diri. Namun, ketika memasuki dunia kerja, banyak dari mereka justru memilih menyembunyikan identitas. Riset dari Hu-X dan Hi-Bob menunjukkan bahwa 97 persen karyawan pernah menyembunyian identitas setidaknya beberapa kali, dan 67 persen melakukannya cukup sering.

Bahkan, Gen Z tercatat memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk menutupi identitas pribadi dibandingkan generasi Baby Boomers. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun generasi muda cenderung lebih ekspresif, tekanan sosial dan profesional tetap membuat mereka memilih menyembunyikan sebagian diri.

Beberapa alasan utama Gen Z melakukan quiet covering antara lain:

  • Menjaga profesionalisme (55 persen)
  • Mencari penerimaan sosial (48 persen)
  • Menghindari diskriminasi (46 persen)
  • Membuka peluang kenaikan gaji, promosi, atau bonus (46 persen)
  • Meningkatkan penilaian kinerja tahunan (43 persen)

Dampak Quiet Covering

Setiap perilaku memiliki konsekuensi, begitu juga dengan quiet covering. Jika dilakukan secara wajar, praktik ini bisa menjadi strategi profesional yang bermanfaat. Namun, jika berlebihan, dampak negatif justru lebih dominan.

Baca Juga :

Luar Biasa! Lukisan Karya SBY Dijual Setengah Miliar, Gambarkan Suasana Pedesaan di Pagi Hari
Terlihat Sangat Akrab, Erick Thohir Dipanggil Bos oleh Nemanja Vidic Sang Legenda Manchester United

Beberapa dampak quiet covering yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Menurunnya produktivitas – Menyembunyikan identitas pribadi bisa membuat karyawan merasa terbatas dan tidak leluasa, sehingga performa kerja ikut terpengaruh.
  2. Berkurangnya motivasi kerja – Ketika seseorang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, semangat kerja akan menurun.
  3. Terhambatnya perkembangan karier – Individu yang terlalu menutup diri sulit menunjukkan potensi sebenarnya.
  4. Kehidupan pribadi terpengaruh – Quiet covering di kantor sering terbawa ke luar lingkungan kerja.
  5. Meningkatnya risiko stres – Tekanan untuk selalu terlihat profesional bisa menguras energi mental.
  6. Gangguan kesehatan mental – Dalam jangka panjang, praktik ini bisa memicu kecemasan hingga burnout.

Apakah Quiet Covering Selalu Buruk?

Meski sering dikaitkan dengan dampak negatif, quiet covering tidak selalu buruk. Dalam beberapa kasus, praktik ini justru membantu karyawan menjaga batas antara kehidupan pribadi dan profesional. Dengan tidak membagikan terlalu banyak hal pribadi, seseorang bisa lebih fokus pada pekerjaan tanpa terpengaruh masalah eksternal.

Namun, penting bagi perusahaan untuk memahami bahwa terlalu banyak quiet covering bisa menciptakan budaya kerja yang kaku dan penuh tekanan. Jika lingkungan kerja mampu menerima keberagaman identitas, quiet covering tidak perlu dilakukan secara berlebihan.


Peran Perusahaan dalam Mengatasi Quiet Covering

Perusahaan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja inklusif agar quiet covering tidak menjadi beban bagi karyawan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membangun budaya kerja inklusif – Menerima keberagaman latar belakang karyawan tanpa diskriminasi.
  • Mendorong komunikasi terbuka – Memberikan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi.
  • Pelatihan kesadaran bias – Membekali manajemen dan karyawan dengan pengetahuan tentang bias agar lebih memahami perbedaan.
  • Menyediakan layanan konseling – Memberikan akses kesehatan mental sebagai bentuk dukungan nyata.

Gen Z dan Masa Depan Dunia Kerja

Fenomena quiet covering menunjukkan bahwa dunia kerja terus berubah, dan generasi muda memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi. Gen Z ingin dihargai bukan karena latar belakang pribadi, tetapi karena kompetensi dan kontribusinya.

Meski begitu, mereka tetap membutuhkan dukungan dari perusahaan agar bisa berkembang tanpa harus menutupi identitas diri. Lingkungan kerja yang sehat, terbuka, dan inklusif akan menjadi kunci bagi terciptanya generasi pekerja yang produktif sekaligus seimbang secara mental.

Quiet covering adalah fenomena yang menggambarkan bagaimana karyawan, terutama Gen Z, memilih menutupi sebagian identitas pribadinya demi menjaga profesionalisme dan peluang karier. Meski bisa menjadi strategi adaptasi, praktik ini juga membawa risiko serius terhadap motivasi, produktivitas, dan kesehatan mental.

Agar quiet covering tidak berkembang menjadi masalah besar, perusahaan perlu menciptakan budaya kerja yang lebih inklusif, mendukung keterbukaan, serta memberikan ruang bagi karyawan untuk tumbuh apa adanya. Dengan begitu, generasi muda dapat bekerja secara maksimal tanpa kehilangan jati diri.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:gen zQueit Covering
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Shakira Jasmine Wakili Indonesia di Music Matters Live Singapore 2025
Next Article Soft Skill Jadi Kunci Gen Z agar Lebih Dilirik Perusahaan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

7 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index