INVERSI.ID – Di era sekarang, banyak anak muda yang lagi semangat cari arah hidup, ngejar passion, atau berjuang buat karier. Tapi, di tengah itu semua, ada sosok yang jadi bukti nyata kalau fokus, kerja keras, dan manajemen waktu yang baik bisa membawa seseorang mencapai hal luar biasa. Namanya Raden Roro Widya Ningtyas Soeprajitno S.A., atau yang akrab disapa Roro — seorang perempuan muda yang berhasil menuntaskan studi S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam waktu hanya dua tahun, sepuluh bulan, dan 27 hari.
Roro resmi dinobatkan sebagai lulusan tercepat dalam wisuda pascasarjana UGM yang digelar Selasa, 21 Oktober 2025. Ia lulus bersama 2.334 mahasiswa lainnya dari berbagai fakultas, tapi pencapaiannya menonjol karena jarang ada yang bisa menyelesaikan studi doktoral secepat itu.
Mahasiswi Program Studi Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM ini juga merupakan penerima beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) — sebuah program bergengsi yang dirancang untuk mencetak calon akademisi muda unggulan di Indonesia.
Menurut Roro, alasan utama dirinya memilih jalur PMDSU sederhana tapi kuat: ia ingin segera jadi dosen.
“Saya sangat bersyukur sekali, bisa sampai di tahapan ini,” ujarnya dengan nada haru.
Roro adalah anak sekaligus cucu pertama di keluarganya yang punya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi, sesuatu yang membuatnya merasa harus memberikan yang terbaik.
Cinta Angka, Logika, dan Akuntansi
Banyak orang berpikir akuntansi cuma urusan debit-kredit atau laporan keuangan yang penuh angka. Tapi buat Roro, dunia akuntansi jauh lebih luas dari itu. Ia jatuh cinta dengan logika di balik angka-angka itu bagaimana perhitungan bisa berubah jadi dasar untuk keputusan besar dalam bisnis.
“Jadi tidak hanya membahas debit kredit saja tetapi juga mengenai pengambilan keputusan dengan sebuah perusahaan, kemudian penerapan suatu program,” kata Roro.
Itulah yang membuatnya mantap memilih Ilmu Akuntansi sebagai bidang studi. Buat Roro, angka bukan cuma data, tapi cara berpikir yang melatih ketelitian, analisis, dan kemampuan mengambil keputusan. Dan ternyata, cara berpikir inilah yang jadi bekal penting selama menempuh studi doktoralnya.
Selama menulis disertasi, Roro belajar banyak dari gaya kerja dan metode berpikir para profesornya. Ia berusaha memahami pola penelitian dan cara menulis ilmiah yang sistematis.
“Mengenal pola penelitian, cara bekerja, dan cara menulis profesor pembimbingnya menjadi fondasi untuk membuat proses kuliah lebih mudah dan cepat,” ungkapnya.
Meskipun akhirnya berhasil lulus dalam waktu yang super singkat, Roro nggak menganggap kecepatan itu sebagai tujuan utama.
“Selesai dengan cepat adalah tambahan saja, mau lulus cepat, mau lulus lambat, yang penting kita puas,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, tapi mencerminkan filosofi belajar yang dewasa: kualitas lebih penting dari sekadar kecepatan.
Antara Disertasi, Target Publikasi, dan Manajemen Waktu
Sebagai penerima beasiswa PMDSU, Roro punya tanggung jawab yang cukup besar. Ia diwajibkan mempublikasikan tiga artikel ilmiah yang terindeks Scopus selama masa studinya — sesuatu yang cukup menantang bahkan untuk mahasiswa doktoral pada umumnya.
Di saat yang sama, ia juga harus menulis dan menyelesaikan disertasi. Kombinasi dua hal itu jelas membutuhkan strategi waktu yang matang. Tapi bukannya kewalahan, Roro justru melihatnya sebagai latihan manajemen diri. Menurutnya, kunci utama ada pada komunikasi dan dukungan dari para dosen pembimbing.
“Jadi saya bisa dibilang beruntung karena bertemu dengan dosen-dosen mendapatkan support serta komunikasi dua arah yang baik,” ujarnya.
Dukungan itu membuatnya bisa menyeimbangkan antara riset akademik, publikasi jurnal, dan penulisan disertasi dengan ritme yang stabil.
Topik disertasinya juga menarik dan relevan dengan isu global: Pengungkapan Perubahan Iklim, Daya Saing, dan Nilai Perusahaan: Peran Lingkungan Hukum. Dalam penelitian tersebut, Roro mengeksplorasi bagaimana perusahaan-perusahaan di Indonesia merespons regulasi terkait perubahan iklim dan apakah hal itu bisa berpengaruh terhadap nilai perusahaan di mata publik maupun investor.
“Riset di dalamnya membahas apakah pengungkapan perubahan iklim meningkatkan daya saing dan juga apakah hal itu akan memberikan dampak positif terhadap perusahaan itu sendiri dalam bentuk nilai perusahaan,” jelasnya.
Alasan ia memilih topik ini juga sangat relevan dengan perkembangan dunia akuntansi internasional.
“Alasan ia mengambil topik tersebut karena International Financial Reporting Standard (IFRS) S1 dan S2 yang membicarakan tentang keberlanjutan dan perubahan iklim,” kata Roro menjelaskan.
Dengan riset tersebut, ia berharap bisa memberikan kontribusi nyata terhadap dunia akuntansi berkelanjutan — bidang yang semakin penting seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan.
“Sebenarnya ingin melihat respon perusahaan terhadap regulasi yang ada dengan pendekatan ex-post, menggunakan data-data dari tahun sebelumnya,” katanya lagi.
Setelah Lulus: Antara Mimpi Mengajar dan Cinta pada Ilmu
Walau sudah memegang gelar doktor di usia muda, Roro nggak buru-buru puas. Buatnya, lulus S3 bukan akhir perjalanan, tapi justru awal untuk berbagi ilmu. Sejak awal, cita-citanya memang jadi dosen, dan kini ia berencana mengaplikasikan semua ilmunya di dunia pendidikan.
Namun sebelum itu, Roro masih ingin menuntaskan beberapa proyek penelitian bareng para profesornya. Ia juga sedang terlibat dalam penulisan buku ilmiah dan aktif membimbing mahasiswa lain dalam riset independen. Semua ini menunjukkan kalau semangat belajarnya belum padam meskipun sudah di puncak akademik.
Perjalanan Roro jadi bukti nyata kalau generasi muda bisa mencapai hal besar asal punya fokus, tekad kuat, dan pandai mengatur waktu. Di saat banyak orang ragu bisa menyelesaikan studi S3 karena dianggap “berat” atau “terlalu panjang”, Roro justru membuktikan kalau dengan strategi dan mental yang tepat, semuanya bisa dicapai.
Yang paling menarik dari kisahnya bukan cuma soal gelar atau waktu lulusnya yang cepat, tapi juga semangatnya untuk terus belajar dan memberi manfaat bagi orang lain. Di tengah dunia akademik yang kompetitif, ia menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa besar dampak yang bisa kita berikan setelah sampai di sana.