SEMARANG, INVERSI – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa provinsinya tengah memasuki fase momentum emas pembangunan, setelah realisasi investasi hingga triwulan III 2025 menembus angka Rp66,13 triliun.
Menurut Luthfi, besarnya minat investasi merupakan bukti bahwa Jawa Tengah semakin diakui sebagai wilayah yang berdaya saing. Namun ia menegaskan, keberhasilan tersebut tidak berdiri sendiri. Pembangunan yang berjalan di Jawa Tengah merupakan hasil dari pendekatan pemerintahan kolaboratif (collaborative government) yang terus diperkuat.
“Pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan APBD atau APBN. Investasi adalah pilar penting. Karena itu momentum Rp66 triliun ini harus dijaga dengan kolaborasi yang semakin kuat,” ungkap Luthfi dalam keterangan tertulisnya dikutip Kamis (11/12/2025).
Ia menerangkan, sinergi pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota menjadi kunci dalam memastikan pembangunan berjalan terarah. Tidak hanya itu, Pemprov Jateng juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi, instansi terkait, masyarakat, dan dunia usaha untuk mempercepat berbagai program prioritas.
“Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Luthfi juga mendorong pengembangan konsep aglomerasi di enam eks karesidenan di Jawa Tengah. Konsep ini dinilai dapat menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru, menghubungkan potensi antarwilayah, dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata.
“Setiap eks karesidenan punya kekuatan. Ketika terhubung dalam aglomerasi, pertumbuhan baru akan muncul,” jelasnya.
Sebagai informasi, pencapaian ini ia sampaikan saat menjadi narasumber di Berita Satu Regional Forum 2025, di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (10/12).