By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Dolar AS Tertekan Kebijakan The Fed
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Dolar AS Tertekan Kebijakan The Fed

Ekonomi

Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Dolar AS Tertekan Kebijakan The Fed

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
7 months ago
Share
4 Min Read
Tumpukan uang pecahan dolar AS dan Rupiah. (Foto : Istimewa)
Tumpukan uang pecahan dolar AS dan Rupiah. (Foto : Istimewa)
SHARE

JAKARTA, INVERSI – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Jumat 12 Desember 2025. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka pada posisi Rp16.620 per dolar Amerika Serikat yang berarti menguat 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis 11 Desember 2025, rupiah juga mencatatkan apresiasi sebesar 0,09 persen dan ditutup di level Rp16.665 per dolar AS. Tren positif ini menandai konsistensi penguatan rupiah dalam dua hari terakhir.

Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY yang menjadi acuan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau berada pada level 98,370 pada pukul 09.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan penguatan yang sangat terbatas, yaitu sekitar 0,03 persen, setelah indeks tersebut mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut.

Kondisi ini ikut mempengaruhi dinamika pasar mata uang global dan membuka ruang pergerakan positif bagi sejumlah mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya pelemahan dolar AS di pasar internasional. Pelemahan dolar terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve mengumumkan kebijakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu 10 Desember 2025 waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Keputusan tersebut sebenarnya sudah diantisipasi oleh pelaku pasar sehingga tidak menimbulkan gejolak signifikan. Meski demikian, pemangkasan suku bunga tetap memberikan tekanan terhadap dolar AS dan menurunkan minat investor global terhadap aset berdenominasi dolar.

Tekanan terhadap dolar semakin kuat seiring dengan perkembangan di pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tercatat mengalami penurunan setelah The Fed mengumumkan rencana untuk mulai melakukan pembelian obligasi pemerintah jangka pendek atau Treasury bills pada 12 Desember 2025.

Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas likuiditas di pasar keuangan. Pada tahap awal, The Fed akan membeli sekitar 40 miliar dolar dengan fokus pada instrumen jangka pendek.

Selain itu, The Fed juga akan mengalihkan sekitar 15 miliar dolar dari aset mortgage backed securities atau MBS yang sudah jatuh tempo untuk kembali diinvestasikan dalam bentuk Treasury bills. Dengan demikian, total likuiditas yang akan disuntikkan ke pasar oleh The Fed mencapai 55 miliar dolar pada bulan Desember. Langkah ini dianggap memberikan dukungan bagi aset berisiko, namun sekaligus menekan daya tarik dolar sebagai instrumen safe haven.

Baca Juga :

Momen Pertemuan Jokowi dan Elon Musk, Bahas Transformasi Digital hingga Pengembangan Investasi Indonesia
8 Manfaat Minum Air Lemon di Pagi Hari, Cegah Batu Ginjal hingga Turunkan Berat Badan

Kebijakan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar karena dianggap mampu menjaga stabilitas finansial serta memperkuat keyakinan investor terhadap aset negara berkembang. Kondisi ini memberikan peluang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil dan menguat di tengah volatilitas pasar global.

Para analis menilai bahwa apabila tekanan terhadap dolar berlanjut dan The Fed tetap konsisten menjaga suplai likuiditas, maka ruang apresiasi rupiah masih cukup terbuka pada sesi perdagangan mendatang.

Meski demikian, sejumlah faktor eksternal tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian ekonomi global, perkembangan kebijakan moneter negara lain, serta dinamika geopolitik berpotensi mempengaruhi kinerja mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Untuk itu, penguatan yang terjadi saat ini dinilai sebagai indikator positif, tetapi bukan tanpa risiko.

Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan moneter The Fed, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan berkurangnya minat terhadap dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah pada perdagangan hari ini. Pasar masih menantikan perkembangan selanjutnya di pekan mendatang untuk melihat apakah tren positif ini akan berlanjut atau menghadapi tekanan baru dari dinamika global.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:Dolar ASRupiah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Polda Jatim membentuk satgas premanisme untuk menciptakan kondisi aman menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. (Humas Polda Jatim) Satgas Premanisme Dibentuk, Kapolda Jatim: Sasarannya Debt Collector Ilegal hingga Gangster Jalanan
Next Article Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara (Sumut) pada Jumat, 12 Desember 2025. (Foto: BPMI Setpres). ‎Presiden Prabowo Langsung Pantau Penanganan Bencana Sumatra, Usai Lawatan ke Pakistan dan Rusia
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

7 days ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

7 days ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas Murah, PHK Mereda! Jurus Bahlil Selamatkan Industri, Buruh Bernapas Lega

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index