JAKARTA, INVERSI – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Jumat 12 Desember 2025. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka pada posisi Rp16.620 per dolar Amerika Serikat yang berarti menguat 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada perdagangan Kamis 11 Desember 2025, rupiah juga mencatatkan apresiasi sebesar 0,09 persen dan ditutup di level Rp16.665 per dolar AS. Tren positif ini menandai konsistensi penguatan rupiah dalam dua hari terakhir.
Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY yang menjadi acuan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau berada pada level 98,370 pada pukul 09.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan penguatan yang sangat terbatas, yaitu sekitar 0,03 persen, setelah indeks tersebut mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut.
Kondisi ini ikut mempengaruhi dinamika pasar mata uang global dan membuka ruang pergerakan positif bagi sejumlah mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya pelemahan dolar AS di pasar internasional. Pelemahan dolar terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve mengumumkan kebijakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu 10 Desember 2025 waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Keputusan tersebut sebenarnya sudah diantisipasi oleh pelaku pasar sehingga tidak menimbulkan gejolak signifikan. Meski demikian, pemangkasan suku bunga tetap memberikan tekanan terhadap dolar AS dan menurunkan minat investor global terhadap aset berdenominasi dolar.
Tekanan terhadap dolar semakin kuat seiring dengan perkembangan di pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tercatat mengalami penurunan setelah The Fed mengumumkan rencana untuk mulai melakukan pembelian obligasi pemerintah jangka pendek atau Treasury bills pada 12 Desember 2025.
Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas likuiditas di pasar keuangan. Pada tahap awal, The Fed akan membeli sekitar 40 miliar dolar dengan fokus pada instrumen jangka pendek.
Selain itu, The Fed juga akan mengalihkan sekitar 15 miliar dolar dari aset mortgage backed securities atau MBS yang sudah jatuh tempo untuk kembali diinvestasikan dalam bentuk Treasury bills. Dengan demikian, total likuiditas yang akan disuntikkan ke pasar oleh The Fed mencapai 55 miliar dolar pada bulan Desember. Langkah ini dianggap memberikan dukungan bagi aset berisiko, namun sekaligus menekan daya tarik dolar sebagai instrumen safe haven.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar karena dianggap mampu menjaga stabilitas finansial serta memperkuat keyakinan investor terhadap aset negara berkembang. Kondisi ini memberikan peluang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil dan menguat di tengah volatilitas pasar global.
Para analis menilai bahwa apabila tekanan terhadap dolar berlanjut dan The Fed tetap konsisten menjaga suplai likuiditas, maka ruang apresiasi rupiah masih cukup terbuka pada sesi perdagangan mendatang.
Meski demikian, sejumlah faktor eksternal tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian ekonomi global, perkembangan kebijakan moneter negara lain, serta dinamika geopolitik berpotensi mempengaruhi kinerja mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Untuk itu, penguatan yang terjadi saat ini dinilai sebagai indikator positif, tetapi bukan tanpa risiko.
Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan moneter The Fed, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan berkurangnya minat terhadap dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah pada perdagangan hari ini. Pasar masih menantikan perkembangan selanjutnya di pekan mendatang untuk melihat apakah tren positif ini akan berlanjut atau menghadapi tekanan baru dari dinamika global.