INVERSI.ID – Senin siang (23/6), suasana kampus Universitas Indonesia (UI) menjadi lebih hidup ketika seorang anak muda asal India datang mengayuh sepedanya. Namanya Sahil Jha, 19 tahun. Sejak duduk di bangku kelas 10 SMA, Sahil telah mengayuh sepedanya menyusuri berbagai kota di India untuk menyuarakan satu isu penting yaitu menyelamatkan tanah.
Kini, perjuangannya telah menyeberang benua. Sahil telah mengunjungi Selandia Baru, Australia, dan Indonesia sebagai bagian dari misi globalnya. Total ada 20 negara di empat benua yang akan disambanginya demi mengedukasi publik tentang pentingnya menjaga kualitas tanah. Di Indonesia, ia singgah ke berbagai sekolah dan kampus untuk berbagi cerita dalam kampanye bertajuk #SaveSoil.
Dalam presentasinya di Ruang Apung Perpustakaan UI, Sahil memaparkan fakta mencengangkan: menurut data Konvensi PBB untuk Melawan Penggurunan (UNCCD) 2020, sebanyak 90 persen tanah di Bumi mengalami penurunan kualitas yang signifikan dan berisiko menjadi tidak produktif jika tidak segera ditangani.
“Kualitas tanah yang menurun berdampak langsung pada nutrisi tanaman, ternak, dan tentu saja manusia,” ujar Sahil.
Ia menambahkan bahwa krisis ini bisa menyebabkan penurunan ketersediaan pangan serta mengganggu keseimbangan ekosistem.
Bukan Sekadar Masalah Pertanian
Dr. Ir. Mahawan Karuniasa, MM, pakar perubahan iklim dari Sekolah Ilmu Lingkungan UI, menilai bahwa krisis tanah adalah masalah lingkungan yang jauh lebih kompleks daripada isu sampah.
“Masalah sampah bisa diatasi dalam waktu dua tahun dengan perubahan perilaku dan kebijakan yang tepat. Tapi degradasi tanah punya dampak sistemik—bisa merusak ekosistem, menurunkan hasil panen, hingga menyebabkan krisis ekonomi dan psikologis bagi masyarakat terdampak,” jelas Mahawan.
Misi Sepeda yang Tak Mudah
Sahil memulai misinya bukan dengan sepeda canggih, melainkan sepeda sederhana yang kerap mengalami kendala teknis. Dari rem blong, kecelakaan kecil di jalan layang, hingga ban yang bocor di tengah jalur berlumpur pedesaan, ia tetap semangat.
Meski penuh tantangan, justru desa-desa inilah yang membuat Sahil semakin yakin akan pentingnya isu yang ia bawa.
“Petani dan warga desa sangat memahami dampaknya karena mereka hidup dari tanah,” katanya.
Ia juga aktif membagikan kisah perjalanannya di media sosial. Menurut Sahil, media sosial merupakan jembatan penting untuk menjangkau anak muda dan masyarakat urban yang mungkin belum terlalu akrab dengan isu ketahanan tanah dan pangan.
“Lewat platform digital, saya bisa bicara ke jutaan orang tentang tanah, dan itu membuat perbedaan,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa UI.***