INVERSI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius kemungkinan melanjutkan operasi militer di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Laporan tersebut disampaikan CNN dengan mengutip sejumlah ajudan presiden dan kemudian dikutip kantor berita RIA Novosti pada Selasa.
Sebelumnya, media Fox News melaporkan bahwa Gedung Putih sedang membahas opsi melanjutkan Operation Project Freedom untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan cakupan operasi militer yang lebih luas.
Menurut laporan CNN, Trump disebut semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam proses negosiasi penyelesaian konflik. Dalam beberapa pekan terakhir, ia dikabarkan mulai lebih serius mempertimbangkan opsi operasi militer skala besar dibanding sebelumnya.
Sumber internal menyebut Presiden AS mulai kehilangan kesabaran karena Selat Hormuz masih belum dibuka. Selain itu, Trump juga diyakini melihat adanya perpecahan di dalam kepemimpinan Iran yang membuat proses negosiasi, terutama terkait isu nuklir, sulit mencapai titik temu.
Di sisi lain, laporan tersebut juga mengungkap adanya perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Amerika Serikat terkait langkah yang harus diambil terhadap Iran.
Sebagian pihak mendorong pendekatan lebih keras dengan mengusulkan pengeboman terarah secara berkelanjutan guna melemahkan posisi Teheran. Namun, kelompok lainnya masih memilih jalur diplomasi sebagai solusi penyelesaian konflik.
Posisi Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan antara AS dan Iran juga menjadi perhatian Washington. Berdasarkan sumber CNN, pemerintah Amerika masih mempertanyakan sejauh mana Islamabad benar-benar menyampaikan sikap Washington kepada Teheran secara jelas dan objektif.
Selain itu, AS juga disebut belum yakin apakah Pakistan menyampaikan pandangan Iran kepada pihak Amerika secara utuh tanpa kepentingan tertentu.
Meski situasi terus berkembang, arah kebijakan akhir yang akan diambil Washington disebut masih belum pasti. Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyebut keputusan besar kemungkinan baru akan dibuat setelah kunjungan Trump ke China pada 13-15 Mei mendatang.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Washington dan Teheran kemudian menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Namun, pembicaraan lanjutan yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa hasil konkret dan tanpa pengumuman resmi mengenai kelanjutan konflik.
Setelah perundingan tersebut, Amerika Serikat diketahui mulai memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran yang semakin memperkeruh situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.