By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Dampak Kebijakan Rombel, Sekolah SMA Swasta Bandung Kekurangan Siswa Baru
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dampak Kebijakan Rombel, Sekolah SMA Swasta Bandung Kekurangan Siswa Baru

Pendidikan

Dampak Kebijakan Rombel, Sekolah SMA Swasta Bandung Kekurangan Siswa Baru

Jack
By
Jack
12 months ago
Share
6 Min Read
SMA di Bogor.
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena memprihatinkan terjadi di dunia pendidikan swasta Kota Bandung. Sekolah swasta kekurangan siswa pada tahun ajaran 2025/2026 membuat para guru sertifikasi terancam kehilangan jam kerja minimal yang disyaratkan. Di SMA Pendidikan Membangun Bangsa (PMB) Jalan Arcamanik, Kota Bandung, hingga Sabtu (5/7), baru terdaftar 12 calon siswa baru jauh di bawah target sekolah.

Contents
Guru Sertifikasi Terancam Kehilangan Jam KerjaKebijakan Rombel Sekolah Negeri Dinilai Sebagai PemicuHarapan Sekolah Swasta: Solusi yang AdilTantangan Sekolah Swasta di Tengah Krisis MuridPeran Orang Tua dalam Menentukan Masa Depan Sekolah SwastaMasa Depan Pendidikan yang Lebih Inklusif

Kondisi ini memukul perencanaan sekolah yang selama ini selalu bisa membuka dua rombongan belajar (rombel) baru setiap tahun. Kepala SMA PMB, Nurlaela, menyebut kekurangan siswa baru tidak hanya berdampak pada sekolah, tetapi juga pada kesejahteraan guru bersertifikasi.

“Kami baru menerima 12 murid baru, dan pasti akan kesulitan bagi guru yang sertifikasi untuk memenuhi target kinerjanya,” ujar Nurlaela.

Ia menilai, salah satu faktor yang memperburuk situasi adalah kebijakan rombel sekolah negeri yang kini meningkat dari 36 menjadi 50 siswa per kelas. Kebijakan itu dinilai mendorong orang tua untuk lebih memilih sekolah negeri dan mempersempit peluang sekolah swasta mendapat murid baru.

Guru Sertifikasi Terancam Kehilangan Jam Kerja

Menurut Nurlaela, di SMA PMB terdapat enam guru bersertifikasi yang kini berada di ujung tanduk. Sesuai peraturan, guru sertifikasi wajib mengajar minimal 24 jam per minggu. Namun, dengan jumlah siswa baru yang sedikit, sekolah tidak mungkin menyediakan cukup jam pelajaran untuk semua guru.

“Tugas sebagai wali kelas, pembina ekstrakurikuler, pembina OSIS, hingga lainnya bobotnya hanya dua jam. Tidak mungkin semua tugas itu hanya diberikan kepada satu guru,” jelas Nurlaela.

Para guru akhirnya terpaksa mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain untuk memenuhi syarat sertifikasi.

Namun, itu pun bukan solusi mudah. Kondisi sekolah swasta lain di Bandung juga mengalami masalah serupa: kekurangan murid baru.

“Sekolah swasta lain pun kondisinya sama-sama kekurangan murid baru, sehingga tidak mudah mencari jam mengajar tambahan,” katanya.

Baca Juga :

Sosok ERR, Dokter Puskesmas Palsukan STR di Konawe Utara
Soal Cawe-Cawe Jokowi di Pilpres 2024, PDIP: Demi Kemajuan Bangsa Bersama Ganjar

Kebijakan Rombel Sekolah Negeri Dinilai Sebagai Pemicu

SMA Swasta di Bandung kekurangan siswa baru.
Ilustrasi siswa SMA Negeri di Bandung

Nurlaela menyebut bahwa salah satu penyebab utama merosotnya pendaftar sekolah swasta tahun ini adalah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menambah jumlah siswa per rombel di sekolah negeri. Tahun ini, kuota per kelas sekolah negeri dinaikkan dari 36 siswa menjadi 50 siswa.

“Tahun lalu, sekolah kami masih bisa membuka dua rombel dengan pendaftar puluhan siswa. Tapi sekarang hanya 12 orang yang mendaftar, padahal tahun ajaran baru sudah dekat,” ujarnya.

Nurlaela menyebut kebijakan ini seperti “memadamkan nasib guru sertifikasi di sekolah swasta”. Pasalnya, makin banyak orang tua memilih sekolah negeri karena kapasitasnya meningkat, sementara sekolah swasta kehilangan pendaftar.

Harapan Sekolah Swasta: Solusi yang Adil

Di tengah situasi sulit ini, pihak SMA PMB berharap pemerintah daerah maupun masyarakat bisa memberikan perhatian lebih pada kondisi sekolah swasta. Menurut Nurlaela, kualitas pendidikan sekolah swasta juga tidak kalah dengan sekolah negeri dan seharusnya tetap menjadi pertimbangan orang tua.

“Kondisi ini membuat kami cukup sedih. Kami berharap ada jalan keluar supaya para guru tetap bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” tuturnya.

Ia berharap ada kebijakan pemerintah yang lebih adil dalam pembagian kuota sekolah negeri dan swasta, sehingga sekolah swasta tetap bisa bertahan.

Tantangan Sekolah Swasta di Tengah Krisis Murid

Fenomena sekolah swasta kekurangan siswa tidak hanya terjadi di Bandung, tetapi juga menjadi masalah nasional di berbagai daerah. Kebijakan afirmasi sekolah negeri, persepsi publik yang lebih condong ke sekolah negeri, dan biaya pendidikan yang lebih murah di sekolah negeri membuat sekolah swasta semakin tersisih.

Bagi guru sertifikasi terancam, tantangan ini bukan hanya soal jumlah jam kerja, tetapi juga soal motivasi dan keberlangsungan karier. Banyak guru swasta yang sudah lama mengabdi kini menghadapi risiko kehilangan tunjangan sertifikasi karena tidak memenuhi jam kerja minimal.

Pakar pendidikan menilai, perlu adanya kebijakan yang menyeimbangkan antara kebutuhan sekolah negeri dengan keberlangsungan sekolah swasta. Jika sekolah swasta mati satu per satu, maka pada akhirnya daya tampung pendidikan formal di Indonesia juga terancam tidak cukup.

Peran Orang Tua dalam Menentukan Masa Depan Sekolah Swasta

Selain menunggu kebijakan pemerintah, orang tua juga berperan penting dalam menentukan masa depan sekolah swasta. Dengan pertimbangan kualitas pengajaran, jumlah siswa yang lebih sedikit, dan perhatian guru yang lebih personal, sekolah swasta sebenarnya tetap memiliki nilai lebih yang bisa jadi pilihan terbaik untuk anak.

Nurlaela menegaskan bahwa sekolah swasta bukanlah pilihan kedua.

“Sekolah swasta kami punya program yang kompetitif, guru-guru yang berkompeten, dan perhatian lebih ke anak didik. Sayang kalau semua itu tidak dipertimbangkan,” ujarnya.

Masa Depan Pendidikan yang Lebih Inklusif

Kondisi yang dialami SMA PMB hanyalah contoh kecil dari problem besar yang dihadapi pendidikan Indonesia saat ini. Keberpihakan pada pendidikan yang inklusif, baik negeri maupun swasta, menjadi tantangan pemerintah ke depan.

Jika tidak ada langkah nyata, maka sekolah swasta akan terus merosot, guru kehilangan haknya, dan kualitas pendidikan bagi generasi mendatang pun ikut terancam. Pendidikan adalah hak semua pihak, bukan hanya monopoli sekolah negeri.

You Might Also Like

UI Kembali Jadi Kampus Terbaik Indonesia, Bertahan di 200 Besar Dunia Versi QS WUR 2027
Dedi Mulyadi Ancam Cabut Subsidi Sekolah Swasta Gratis bagi Siswa yang Tawuran
Disdik Jabar Ingatkan Peserta SPMB Tahap 1 untuk Daftar Ulang, Tahap 2 Segera Dibuka
Lebih dari 1.000 Pelajar di Jakarta Barat Terima Beasiswa PIP, Dukung Pendidikan Generasi Masa Depan
Unhas Tembus Peringkat 861 Dunia, Melonjak 111 Posisi di QS World University Rankings 2027
TAGGED:BAndungRombelsiswaSMA Swasta
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Realisasi Anggaran Sekolah Unggulan dan Sekolah Rakyat Capai Rp 423 Miliar di Semester I-2025
Next Article Cara Daftar BSI Scholarship Pelajar 2025: Syarat, Jadwal, dan Manfaatnya
1 Comment
  • Pingback: Sekolah Lima Hari Resmi Diterapkan di Sumut Mulai 14 Juli

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Rusia Buka Kesempatan Kuliah Gratis untuk Mahasiswa Indonesia, Ini Syaratnya

1 week ago
Foto : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber : www.bgn.go.id)
MBG

Fokus pada Ibu Hamil dan Balita, BGN Pangkas 8 Juta Penerima Makan Bergizi Gratis

1 week ago
Pendidikan

Tak Kebagian Sekolah Negeri? Pemprov Jabar Siapkan Bantuan untuk Masuk Swasta

1 week ago
PendidikanTerkini

Putra Timur Dijegal? Bahlil Pertanyakan Keadilan di Kampus UI

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index