By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Waspada Child Grooming, Ini Karakteristik Pelaku Menurut Psikolog
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Waspada Child Grooming, Ini Karakteristik Pelaku Menurut Psikolog

LifeStyle

Waspada Child Grooming, Ini Karakteristik Pelaku Menurut Psikolog

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
4 Min Read
Ilustrasi korban child grooming. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, memaparkan sejumlah karakteristik serta pola pendekatan yang kerap digunakan pelaku child grooming terhadap anak. Menurutnya, pemahaman mengenai pola tersebut penting agar keluarga dapat melakukan pencegahan sejak dini.

Contents
Karakteristik Pelaku Child GroomingPihak yang Berpotensi Menjadi PelakuPola Pendekatan dan Durasi Grooming

Kasandra menjelaskan child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan secara bertahap untuk mempersiapkan anak menjadi korban pelecehan seksual. Karena itu, mengenali tanda-tanda awal pelaku dinilai menjadi langkah krusial agar anak terhindar dari risiko kekerasan seksual.

Karakteristik Pelaku Child Grooming

Kasandra menyebut pelaku child grooming umumnya memiliki kemampuan manipulasi emosional yang baik. Mereka mampu membangun kepercayaan dan relasi yang kuat, tidak hanya dengan anak, tetapi juga dengan orang dewasa di sekitarnya.

“Karakteristik pelaku child grooming seperti sering kali sangat terampil dalam manipulasi emosional, mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang kuat dengan anak dan orang dewasa di sekitarnya,” tutur Kasandra, di Jakarta, Rabu (14/1).

Ia menambahkan, pelaku kerap menunjukkan empati dan perhatian berlebihan untuk menciptakan kesan peduli. Selain itu, mereka biasanya memiliki kemampuan sosial yang baik dan mudah bergaul, terutama dengan mendekati anak melalui aktivitas yang disukai, seperti bermain gim, olahraga, atau hobi tertentu.

“Pelaku sering kali berusaha menyembunyikan niat jahat mereka, menggunakan berbagai cara untuk menjaga agar tindakan mereka tidak terdeteksi. Beberapa pelaku mungkin memiliki riwayat pelecehan seksual atau perilaku menyimpang di masa lalu,” kata dia.

Pihak yang Berpotensi Menjadi Pelaku

Menurut Kasandra, pelaku child grooming tidak selalu berasal dari orang asing. Dalam banyak kasus, pelaku justru merupakan orang dewasa yang dikenal anak, seperti anggota keluarga, teman keluarga, guru, pelatih, atau pihak lain yang memiliki akses langsung terhadap anak.

Dalam situasi tertentu, individu yang bekerja dengan anak-anak, termasuk pekerja sosial atau konselor, juga berpotensi menyalahgunakan posisi dan kepercayaan yang dimiliki untuk melakukan grooming.

“Pelaku juga bisa orang asing yang berinteraksi dengan anak-anak, baik secara langsung maupun melalui platform online, menggunakan media sosial, aplikasi pesan, atau platform game. Dalam beberapa kasus, remaja atau anak yang lebih tua dapat melakukan grooming terhadap anak yang lebih muda,” ujar dia.

Baca Juga :

Relawan Presiden Jokowi Beralih Dukungan dari Ganjar-Mahfud ke Prabowo-Gibran
Labschool Unesa Kirim Siswa ke Mandarin Spring Camp 2025

Pola Pendekatan dan Durasi Grooming

Kasandra menjelaskan pelaku biasanya meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan dan menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan anak sebelum mengarahkan hubungan ke tahap yang lebih berbahaya. Pendekatan ini dilakukan secara perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Pelaku juga sering memberikan pujian dan perhatian berlebihan untuk membuat anak merasa istimewa dan dibutuhkan. Selain itu, teknik manipulasi seperti gaslighting digunakan untuk membuat korban merasa bingung atau meragukan dirinya sendiri, sehingga lebih mudah dikendalikan. Upaya mengisolasi anak dari keluarga dan teman juga kerap dilakukan.

“Proses child grooming dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga beberapa tahun, tergantung pada strategi pelaku dan seberapa cepat mereka dapat membangun kepercayaan dengan anak. Pelaku sering kali meluangkan waktu untuk menciptakan hubungan yang kuat sebelum melakukan eksploitasi,” jelas Kasandra.

Ia menambahkan, durasi proses grooming dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman pelaku, media yang digunakan, serta kondisi korban. Proses grooming secara daring dinilai dapat berlangsung lebih cepat karena akses yang mudah dan sifat anonim.

“Jika anak memiliki dukungan sosial yang kuat, proses grooming mungkin memakan waktu lebih lama karena adanya pengawasan dari orang tua atau teman. Anak menunjukkan ketidaknyamanan atau menolak pendekatan pelaku, proses grooming bisa terhenti lebih cepat,” jelas dia.

You Might Also Like

LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
TAGGED:child groomingPsikolog
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article KemenPPPA Apresiasi Buku The Broken String Karya Aurelie Moeremans
Next Article DPRD Jabar Pertanyakan Rencana Sekolah Maung Gagasan Dedi Mulyadi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN

Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo

3 weeks ago
Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index