Jakarta —
Di tengah lonjakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) yang nyaris menyentuh target APBN 2025, pemerintah justru bersiap menurunkan produksi batu bara tahun depan. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat hingga 15 November 2025, PNBP minerba telah mencapai Rp114 triliun atau 92 persen dari target Rp124,7 triliun.
“PNBP sudah 92 persen, sudah Rp114 triliun untuk minerba per tanggal 15 November,” ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, di Jakarta, Selasa (18/11) yang dikutip dari Antara.com.
Kenaikan ini sangat signifikan dibandingkan posisi 11 Agustus 2025 yang baru menyentuh Rp74,2 triliun. Artinya, hanya dalam tiga bulan, negara mengantongi tambahan lebih dari Rp39 triliun dari sektor ini.
Namun di balik kabar gembira tersebut, terselip strategi besar pemerintah: mengurangi produksi batu bara pada 2026. Tujuannya bukan karena cadangan menipis, melainkan untuk mengerek kembali harga batu bara global yang tengah terjun bebas.
“Kayaknya begitu (produksi batu bara turun). Angka pastinya belum, hilalnya belum nampak sedikit lagi,” ujar Tri, seraya menegaskan bahwa pasokan untuk industri prioritas dalam negeri tetap aman.
Langkah ini sejalan dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang sebelumnya menyebutkan bahwa produksi batu bara 2026 akan lebih rendah dibanding 2025. “Akhirnya, sekarang harga batu bara lagi turun jauh,” kata Bahlil, merujuk pada ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan global.
Sebagai catatan, pada 2024 Indonesia memproduksi 836 juta ton batu bara—117 persen dari target. Sebanyak 555 juta ton diekspor, menjadikan Indonesia sebagai pemasok sekitar sepertiga konsumsi batu bara dunia.
Namun, harga batu bara acuan (HBA) terus melorot: dari 114,43 dolar AS per ton pada November 2024 menjadi hanya 103,75 dolar AS per ton di awal November 2025.
Dengan strategi rem produksi ini, pemerintah berharap bisa menstabilkan harga global sekaligus menjaga momentum penerimaan negara. Apakah ini akan berhasil? Kita tunggu dampaknya di tahun fiskal mendatang.