JAKARTA:
Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan pelemahan serentak. Rupiah, saham, hingga SBN kompak terkoreksi. Pada perdagangan Selasa (18/11/2025), rupiah ditutup melemah 0,18% ke Rp16.735/US$, level terendah sejak September 2025. Sepanjang hari, rupiah bahkan sempat menyentuh titik intraday Rp16.763/US$ sebelum sedikit pulih menjelang penutupan.
Yang menarik, pelemahan rupiah terjadi justru saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BItengah berlangsung 18–19 November. Pelaku pasar tegang menunggu keputusan penting, apakah BI akan mempertahankan suku bunga 4,75% atau mulai kembali memangkas untuk mendorong ekonomi. Tekanan makin kuat karena arus modal asing terus keluar dari pasar SBN.
Sebelumnya, BI mempertahankan suku bunga pada Oktober 2025 setelah memangkas total 125 bps sepanjang 2025. Keputusan RDG kali ini dinilai sangat menentukan stabilitas rupiah. “Prioritas utama BI adalah mendorong bank menurunkan suku bunga kredit di tengah permintaan domestik yang lemah,” tegas Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam pernyataan yang diterima redaksi inversi.id, Rabu (19/11).
Hasil polling Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memprediksi BI akan kembali menahan suku bunga bulan ini demi menahan pelemahan rupiah yang sudah jatuh hampir 4% sepanjang tahun. Ini salah satu penurunan mata uang yang terburuk di antara negara berkembang. Namun, banyak pula yang meyakini BI bisa kembali mengambil langkah tak terduga, mengingat tiga keputusan terakhir sering berbeda dari konsensus.
Meski begitu, Perry Warjiyo sebelumnya mengisyaratkan, ruang pelonggaran masih terbuka lebar karena inflasi tetap rendah dalam target BI 1,5–3,5%. Inflasi Oktober memang naik ke 2,86%, namun masih dinilai aman sebagai alasan pemangkasan lanjutan.
Polling terbaru mengungkap sebanyak 24 dari 30 ekonom memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% pada RDG kali ini. Sementara sisanya melihat peluang penurunan 25 bps. Ekonom Mizuho, Jing Yi Tan, menilai BI berada dalam situasi sulit. “Ada dilema rumit. Mereka pro-pertumbuhan, tapi rupiah yang terus melemah bisa mengubah kalkulasi kebijakan,” ujarnya dikutip dari reuters.
Ia menambahkan, “Masalahnya bukan hanya suku bunga. Transmisi kebijakan masih tersumbat karena suku bunga kredit sulit turun,” sekaligus menegaskan penyesuaian teknis diperlukan sebelum BI terus melonggarkan kebijakan. Terbukti, dari total penurunan 150 bps, sejak tahun lalu, bank hanya menurunkan bunga kredit 15 bps sepanjang tahun ini.
Ke depan, mayoritas kuat ekonom optimistis pemangkasan akan dimulai bulan depan. Sebanyak 21 dari 24 ekonom memprediksi suku bunga bakal turun menjadi 4,50% pada Desember. Ekonom ANZ, Krystal Tan di reuters menegaskan, “BI masih bias longgar. Pemangkasan hanya soal waktu karena permintaan domestik dan pertumbuhan kredit masih lemah.” Bahkan 17 dari 22 ekonom memproyeksikan suku bunga bakal turun lebih dalam ke 4,25% pada akhir kuartal I 2026.