JAKARTA
Kecelakaan pesawat hampir selalu menjadi peristiwa yang menyedot perhatian besar publik. Setiap kabar jatuhnya pesawat, sekecil apa pun jumlah penumpangnya, langsung memicu rasa cemas, empati, sekaligus rasa ingin tahu yang tinggi di tengah masyarakat. Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 PK-THT di wilayah Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menjadi contoh terbaru bagaimana insiden penerbangan segera menjadi perhatian nasional.
Bukan semata karena jumlah korban, melainkan karena penerbangan sipil dikenal sebagai moda transportasi dengan tingkat keselamatan yang sangat ketat. Regulasi internasional, standar operasional berlapis, serta profesionalisme awak dan industri penerbangan membuat kecelakaan pesawat dipersepsikan sebagai peristiwa yang “tidak biasa”. Ketika kecelakaan itu terjadi, publik merasa ada sesuatu yang luar biasa yang perlu dipahami.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT diketahui mengangkut 10 orang saat dilaporkan jatuh pada Sabtu (17/1/2026) siang. Dalam perkembangan terbaru, tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah korban kedua, sebuah kabar yang sekaligus membawa harapan dan duka. Proses pencarian dilakukan di medan yang sangat menantang, dengan kabut tebal dan kondisi geografis pegunungan yang ekstrem.
Lebih dari 1.200 personel SAR gabungan dikerahkan untuk menembus sulitnya akses menuju lokasi. Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Mayor Jenderal TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa proses pencarian masih berada dalam masa emas (golden time), yakni tiga hari pertama pascakecelakaan. Pada fase ini, peluang menemukan korban dengan kondisi yang relatif utuh masih terbuka.
“Dalam waktu golden time ini kita berharap keajaiban dan tim SAR bisa menemukan semua korban. Kepastian hanya milik Tuhan, tapi akan kami usahakan,” ujar Syafii, Senin (19/1/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan sisi lain dari kecelakaan penerbangan yang jarang disorot, ketegangan psikologis dan kemanusiaan di balik operasi penyelamatan. Setiap menit menjadi krusial, bukan hanya demi prosedur, tetapi demi keluarga korban yang menunggu kepastian.
Perhatian besar publik terhadap kecelakaan pesawat juga dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat terhadap sistem keselamatan penerbangan. Ketika sistem yang dikenal sangat disiplin itu gagal, publik secara alami mempertanyakan apa yang terjadi, sekaligus berharap ada transparansi dan evaluasi menyeluruh agar tragedi serupa tidak terulang.
Di tengah duka, kerja keras tim SAR menjadi gambaran nyata bahwa negara hadir dalam situasi paling genting. Tragedi ATR 42-500 PK-THT bukan hanya tentang angka korban, tetapi tentang nilai kemanusiaan, profesionalisme, dan harapan —bahwa di balik kabut tebal dan medan sulit, masih ada upaya tanpa henti untuk membawa pulang setiap korban.