By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Ketegangan Greenland Memanas, Uni Eropa Siapkan Opsi Balasan atas Ancaman Tarif Donald Trump
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Ketegangan Greenland Memanas, Uni Eropa Siapkan Opsi Balasan atas Ancaman Tarif Donald Trump

Internasional

Ketegangan Greenland Memanas, Uni Eropa Siapkan Opsi Balasan atas Ancaman Tarif Donald Trump

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
4 months ago
Share
5 Min Read
Presiden AS Donald Trump marah pada CNN dan New York Times yang bikin berita tak sesuai harapan soal situs nuklir Iran. (Foto : Reuters)
Presiden AS Donald Trump. (Foto : Reuters)
SHARE

JAKARTA, INVERSI – Hubungan transatlantik kembali berada di titik genting setelah Uni Eropa mempertimbangkan langkah balasan terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mengenakan tarif impor kepada negara negara Eropa.

Ancaman tersebut muncul seiring penolakan Eropa terhadap rencana Trump untuk mencaplok Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark. Sejumlah pejabat Eropa bahkan menilai langkah Washington tersebut sebagai bentuk tekanan ekonomi yang mendekati praktik pemerasan.

Ketegangan ini mendorong para pemimpin Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mengeluarkan pernyataan bersama. Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan bahwa ancaman tarif dari Amerika Serikat berpotensi merusak fondasi hubungan transatlantik yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Para pemimpin Eropa juga memperingatkan bahwa eskalasi kebijakan tarif dapat memicu spiral penurunan hubungan ekonomi dan politik yang berbahaya.

Pernyataan bersama itu menekankan komitmen negara negara Eropa untuk mempertahankan kedaulatan masing masing. Mereka menilai penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan politik bertentangan dengan prinsip kerja sama internasional dan berisiko melemahkan stabilitas global.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena isu Greenland tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut geopolitik dan keamanan kawasan Arktik.

Sebagai respons awal, para diplomat utama Uni Eropa menggelar pertemuan darurat pada Minggu waktu setempat. Pertemuan tersebut membahas kemungkinan mengaktifkan kembali paket tarif balasan terhadap barang barang Amerika Serikat dengan nilai mencapai 93 miliar euro atau setara sekitar Rp1.827 triliun.

Paket ini sebelumnya telah disiapkan sebagai respons atas ancaman ekonomi Trump, namun sempat ditangguhkan setelah tercapainya kesepakatan dagang antara kedua pihak pada musim panas lalu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mendorong sikap tegas Uni Eropa. Ia bahkan menyerukan penggunaan instrumen anti koersi Uni Eropa yang kerap dijuluki sebagai bazooka besar. Instrumen tersebut memungkinkan Uni Eropa mengambil langkah balasan luas terhadap negara yang menggunakan tekanan ekonomi untuk memengaruhi kebijakan politik.

Baca Juga :

Kejaksaan RI Optimalkan Intelijen Kawal Program Makan Bergizi Gratis
DPR Nilai Lucu Kampus Arahkan Mahasiswa Bayar UKT Lewat Pinjol

Macron menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada intimidasi atau ancaman dalam isu apa pun, baik yang berkaitan dengan Ukraina, Greenland, maupun kawasan lainnya.

Sikap serupa disampaikan Ketua Dewan Eropa António Costa. Ia menyatakan Uni Eropa siap menggelar pertemuan tingkat tinggi atau KTT darurat guna merespons perkembangan situasi ini. Menurut Costa, blok Eropa telah menunjukkan kesiapan untuk membela diri terhadap segala bentuk koersi ekonomi yang dapat mengancam kedaulatan dan kepentingan bersama negara anggotanya.

Dari Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni menilai rencana tarif Trump sebagai langkah yang keliru dan berpotensi merugikan kedua belah pihak. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belanda secara terbuka menyebut ancaman tarif tersebut sebagai bentuk pemerasan, menandakan meningkatnya kemarahan di kalangan pejabat Eropa terhadap pendekatan Washington.

Meski tekanan untuk bertindak semakin kuat, Uni Eropa belum sepenuhnya mencapai kesepakatan mengenai langkah balasan yang akan diambil. Seorang diplomat senior Uni Eropa menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi untuk segera menerapkan instrumen anti koersi maupun tarif balasan. Ia menegaskan masih ada keinginan kuat di dalam blok tersebut untuk membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat demi mencegah eskalasi konflik.

Ancaman tarif Trump sendiri menyasar enam negara anggota Uni Eropa serta Inggris dan Norwegia. Ia menyebut tarif sebesar 10 persen akan mulai diberlakukan pada 1 Februari dan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni, hingga tercapai apa yang ia sebut sebagai kesepakatan penuh dan total terkait pembelian Greenland.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran serius mengenai masa depan hubungan Uni Eropa dan Amerika Serikat, bahkan berpotensi memengaruhi stabilitas aliansi NATO.

Dari Jerman, Wakil Kanselir Lars Klingbeil menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan semacam itu. Ia menekankan bahwa Uni Eropa selalu membuka pintu bagi solusi bersama, namun tidak akan membiarkan dirinya diintimidasi. Menurutnya, jika ancaman terus berlanjut, Eropa siap memberikan respons yang tegas dan terukur demi melindungi kepentingan dan kedaulatannya.

You Might Also Like

Negosiasi Memanas, Trump Ajukan Draf Perdamaian Baru untuk Iran
Putin Apresiasi Kontribusi Umat Muslim Rusia Saat Momentum Idul Adha 1447 H
Pemerintah Pulangkan 9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla 2.0, Menlu RI Tegaskan Negara Hadir Lindungi Warganya
Politikus Rumania Sebut Uni Eropa Menuju Kebangkrutan
Pasukan Perdamaian PBB Melemah, Dunia Terancam Konflik Tanpa Akhir?
TAGGED:AsDonald TrumpGreenland
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Ilustrasi. Kementerian ESDM targetkan PNBP minerba 2026 capai Rp134 triliun. (Dok. Kementerian ESDM) Target PNBP Minerba 2026 Naik Jadi Rp134 Triliun, Kementerian ESDM Optimistis Meski Produksi Dipangkas
Next Article Bukan Soal Jumlah Korban: Ini Alasan Kecelakaan Pesawat Selalu Jadi Perhatian Nasional
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia

Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun

Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina

Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional

Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Internasional

AS dan Iran Segera Perpanjang Gencatan Senjata, Selat Hormuz Siap Dibuka

2 weeks ago
Internasional

Negosiasi Iran dan AS Masuki Tahap Final, Trump Sebut Perang Segera Berakhir

2 weeks ago
InternasionalTerkini

Eropa Andalkan Kotoran Sapi untuk Bertahan, Peringatan Bagi Indonesia Sebagai Negara Agraris

2 weeks ago
InternasionalTerkini

Putin-Xi Kompak Bunyikan Alarm Dunia: Perdamaian Global Terancam ‘Hukum Rimba’

2 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index