JAKARTA, INVERSI – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi terus mendorong PT Pertamina dan seluruh subholding di sektor hilir untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan bakar minyak di seluruh wilayah Indonesia.
Upaya ini dinilai krusial guna memastikan masyarakat memperoleh akses energi yang aman, merata, dan berkelanjutan, terutama menjelang periode konsumsi tinggi pada tahun 2026.
Anggota Komite BPH Migas, Baskara Agung Wibawa, menegaskan bahwa keandalan penyediaan dan pendistribusian BBM merupakan syarat utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Ia menyampaikan bahwa hingga awal Februari 2026, kondisi pasokan BBM secara umum berada dalam kategori aman.
“Alhamdulillah, ketahanan energi hingga 4 Februari 2026 cukup aman. Pada akhir 2025 memang sempat terjadi penurunan cadangan, khususnya di wilayah MOR 2, namun saat ini kondisinya sudah terkendali,” ujar Baskara saat menghadiri kunjungan kerja Panitia Kerja Migas Komisi XII DPR RI di Batam, Kepulauan Riau.
Baskara menambahkan bahwa PT Pertamina Patra Niaga telah berkomitmen untuk terus meningkatkan ketahanan stok BBM nasional. Salah satu langkah strategis yang dinilai positif adalah penguatan sinergi di sektor hilir melalui penggabungan manajemen antara Pertamina Patra Niaga, Pertamina International Shipping, dan Kilang Pertamina Internasional.
Menurutnya, integrasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses pemenuhan kebutuhan energi, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memastikan distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia dapat berjalan lebih optimal.
“Sinergi ini penting agar kebutuhan BBM nasional, baik di wilayah utama maupun daerah terpencil, dapat terpenuhi secara tepat waktu,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas lainnya, Bambang Hermanto, menyoroti pentingnya penyesuaian dan peningkatan kapasitas fasilitas penyimpanan BBM di sejumlah lokasi strategis. Ia menilai bahwa meningkatnya kebutuhan konsumsi BBM harus diimbangi dengan modernisasi sarana dan prasarana penyimpanan agar distribusi tidak mengalami hambatan.
“Dengan permintaan yang terus meningkat, diperlukan penambahan kapasitas storage. Melalui pembaruan storage tank, ketahanan stok BBM nasional dapat kita jaga sehingga tidak terjadi kelangkaan BBM di daerah,” ungkap Bambang.
Ia menegaskan bahwa modernisasi fasilitas penyimpanan merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang ketahanan energi nasional.
Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, meminta agar perhatian khusus diberikan menjelang perayaan Hari Raya Imlek 2026 serta periode Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Menurutnya, lonjakan konsumsi BBM pada periode tersebut berpotensi menimbulkan gangguan distribusi apabila tidak diantisipasi secara matang.
“Menjelang Imlek dan Ramadhan-Idul Fitri, perlu atensi khusus. Kita tidak ingin terjadi kelangkaan BBM yang menimbulkan antrean panjang, sehingga pelayanan Pertamina kepada masyarakat harus terus ditingkatkan,” ujar Bambang.
Ia menekankan bahwa manajemen stok yang baik menjadi kunci utama dalam mencegah keterlambatan pasokan di lapangan.
Dalam kunjungan kerja tersebut, BPH Migas dan Komisi XII DPR RI juga melakukan peninjauan ke Kawasan Industri Terpadu Kabil, Kepulauan Riau. Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas industri migas nasional, termasuk mendukung rantai pasok energi dari sisi infrastruktur dan industri penunjang.
Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Gas Bumi BPH Migas Muhiddin, Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Rizwi Jilanisaf Hisjam, Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Supply SKK Migas Dino Andrian, serta Senior Vice President Government Program Management Pertamina Brahmantya Satyamurti Poerwadi.
Melalui koordinasi intensif antara regulator, legislatif, dan pelaku usaha, pemerintah berharap ketahanan energi nasional dapat terus terjaga. Penguatan stok, modernisasi infrastruktur, serta sinergi antarentitas di sektor hilir dinilai menjadi fondasi penting agar distribusi BBM tetap lancar dan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan di tengah dinamika permintaan yang terus meningkat.