INVERSI.ID – Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) mengungkap fakta terbaru mengenai tren kanker paru di Indonesia. Ia menyebut usia pasien kanker paru di Tanah Air rata-rata 10 tahun lebih muda dibandingkan pasien di negara lain. Tak hanya itu, peningkatan kasus juga mulai banyak ditemukan pada perempuan yang tidak memiliki riwayat merokok.
“Di Indonesia usia kanker paru 10 tahun lebih muda dibandingkan di luar negeri. Angkanya juga meningkat terutama pada perempuan yang tidak merokok dan usia muda,” ujar Sita dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta Selatan yang digelar oleh kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals, Rabu.
Dokter lulusan spesialis dari Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa kanker paru menjadi jenis kanker paling banyak menyerang laki-laki di Indonesia. Secara keseluruhan, penyakit ini menempati peringkat ketiga kasus kanker baru terbanyak. Di tingkat global, kanker paru bahkan berada di posisi pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker.
Menurut Sita, paparan asap rokok masih menjadi faktor risiko terbesar. Namun, ancaman lain seperti paparan asbes, polusi udara terutama partikel halus PM2,5, riwayat tuberkulosis, serta faktor genetik dalam keluarga juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker paru.
“Risiko yang paling tinggi adalah paparan asap rokok. Dengan menghindari asap rokok, sekitar 80 persen penyakit kronis termasuk kanker paru, penyakit jantung, dan stroke bisa dicegah,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru di Indonesia adalah mayoritas pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah berkembang jauh. Padahal, peralihan dari stadium awal ke stadium lanjut bisa terjadi dalam rentang waktu relatif singkat, sekitar satu hingga satu setengah tahun.
Pada fase awal, peluang kesembuhan dan harapan hidup pasien masih jauh lebih besar. Sebaliknya, ketika sudah memasuki stadium lanjut, penanganan menjadi lebih kompleks dengan kebutuhan terapi yang lebih intensif dan biaya pengobatan yang meningkat signifikan.
Sita juga menekankan perbedaan antara skrining dan diagnosis dini. Skrining dilakukan sebelum gejala muncul, khususnya pada kelompok berisiko tinggi. Sementara diagnosis dini dilakukan saat pasien sudah merasakan gejala tertentu.
Di Indonesia, skrining kanker paru dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi berusia 45 hingga 71 tahun. Kategori ini mencakup perokok aktif, perokok pasif, mantan perokok yang berhenti kurang dari 15 tahun, serta individu dengan riwayat keluarga kanker paru. Pemeriksaan dilakukan menggunakan CT scan tanpa kontras dengan paparan radiasi rendah.
Ia menegaskan bahwa deteksi pada stadium awal sangat krusial. Perbedaan satu tingkat stadium saja dapat membuat biaya pengobatan melonjak hingga beberapa kali lipat, sekaligus memengaruhi peluang keberhasilan terapi.