By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Orang Tua Wajib Tahu! Ini Cara Dampingi Anak Saat Screen Time
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Orang Tua Wajib Tahu! Ini Cara Dampingi Anak Saat Screen Time

Kesehatan

Orang Tua Wajib Tahu! Ini Cara Dampingi Anak Saat Screen Time

Jack
By
Jack
3 months ago
Share
3 Min Read
Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak dr. R R Amanda Soebadi, Sp.A(K), M.Med (ClinNeurophysiol). (Foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak lulusan Universitas Indonesia, R R Amanda Soebadi, menjelaskan pentingnya pendampingan orang tua saat anak menjalani aktivitas screen time agar tumbuh kembang anak tetap optimal.

Menurut Amanda, screen time tidak hanya terbatas pada penggunaan ponsel, tetapi juga mencakup televisi hingga tablet yang digunakan anak dalam aktivitas sehari-hari.

“Screen time itu tidak harus HP ya, sama saja dengan tablet, televisi itu juga screen time,” kata Amanda saat diwawancarai secara eksklusif di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan anak sebaiknya baru diperbolehkan menonton televisi ketika berusia di atas dua tahun dengan durasi maksimal satu jam per hari.

Apabila screen time diberikan pada usia yang lebih dini, Amanda menekankan pentingnya pendampingan langsung dari orang tua maupun pengasuh terdekat yang dipercaya keluarga, seperti kakek, nenek, atau kerabat dekat.

Selama anak menonton, orang tua disarankan aktif berinteraksi dengan membahas tayangan yang sedang dilihat agar anak tidak hanya menjadi pendengar pasif.

Selain itu, sebelum memberikan akses menonton, orang tua juga perlu menentukan tujuan dari tayangan yang akan ditonton sekaligus membatasi durasi secara tegas.

“Misal satu episode kartun itu 30 menit, setelah selesai, matikan televisinya. Bukannya sudah selesai, ditanya mau nonton apa sekarang di Youtube,” ucap Amanda.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan anak terlalu lama melihat tayangan dengan pergantian gambar yang cepat karena otak anak masih berada dalam tahap perkembangan.

Baca Juga :

Tiga Siswa MAN 2 Kudus Lolos ke Universitas Al-Azhar Kairo, Cetak Prestasi Global
Gejolak Geopolitik Global, Anggota DPR Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

Menurut Amanda, ketika screen time dihentikan, pengasuh sebaiknya sudah menyiapkan aktivitas pengganti yang lebih interaktif dan bermanfaat untuk perkembangan anak.

Kegiatan seperti bermain puzzle, menyusun balok, hingga mengajak anak berbicara saat makan dinilai dapat membantu merangsang perkembangan otak secara lebih maksimal.

“Jadi tidak bisa, pokoknya gadget-nya diambil saja, habis itu terserah anak mau ngapain. Kegiatan pengganti yang ideal itu memang kalau anak bisa bermain interaktif dengan pengasuhnya,” ucapnya.

Amanda juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang membiarkan televisi menyala sepanjang hari di rumah.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa berdampak pada pola komunikasi anak karena mereka terbiasa mendengar suara tanpa perlu memberikan respons saat diajak berbicara.

“Karena anak terbiasa mendengar orang berbicara, jadi aku tidak perlu merespons karena tidak ada orang yang kecewa jika aku tidak merespons televisi,” katanya.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:Pola Asuh
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Semifinal Liga Europa Sajikan Duel Sengit Nottingham Forest vs Aston Villa
Next Article Tim Panjat Tebing Indonesia Bawa Modal Positif ke World Cup Usai Bersinar di Sanya 2026
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index