By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Kasus Kanker Paru Meningkat pada Perempuan Non-Perokok, Fakta Mengkhawatirkan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Kasus Kanker Paru Meningkat pada Perempuan Non-Perokok, Fakta Mengkhawatirkan

Kesehatan

Kasus Kanker Paru Meningkat pada Perempuan Non-Perokok, Fakta Mengkhawatirkan

Jack
By
Jack
4 months ago
Share
3 Min Read
Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia. (Foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) mengungkap fakta terbaru mengenai tren kanker paru di Indonesia. Ia menyebut usia pasien kanker paru di Tanah Air rata-rata 10 tahun lebih muda dibandingkan pasien di negara lain. Tak hanya itu, peningkatan kasus juga mulai banyak ditemukan pada perempuan yang tidak memiliki riwayat merokok.

“Di Indonesia usia kanker paru 10 tahun lebih muda dibandingkan di luar negeri. Angkanya juga meningkat terutama pada perempuan yang tidak merokok dan usia muda,” ujar Sita dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta Selatan yang digelar oleh kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals, Rabu.

Dokter lulusan spesialis dari Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa kanker paru menjadi jenis kanker paling banyak menyerang laki-laki di Indonesia. Secara keseluruhan, penyakit ini menempati peringkat ketiga kasus kanker baru terbanyak. Di tingkat global, kanker paru bahkan berada di posisi pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker.

Menurut Sita, paparan asap rokok masih menjadi faktor risiko terbesar. Namun, ancaman lain seperti paparan asbes, polusi udara terutama partikel halus PM2,5, riwayat tuberkulosis, serta faktor genetik dalam keluarga juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker paru.

“Risiko yang paling tinggi adalah paparan asap rokok. Dengan menghindari asap rokok, sekitar 80 persen penyakit kronis termasuk kanker paru, penyakit jantung, dan stroke bisa dicegah,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru di Indonesia adalah mayoritas pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah berkembang jauh. Padahal, peralihan dari stadium awal ke stadium lanjut bisa terjadi dalam rentang waktu relatif singkat, sekitar satu hingga satu setengah tahun.

Pada fase awal, peluang kesembuhan dan harapan hidup pasien masih jauh lebih besar. Sebaliknya, ketika sudah memasuki stadium lanjut, penanganan menjadi lebih kompleks dengan kebutuhan terapi yang lebih intensif dan biaya pengobatan yang meningkat signifikan.

Sita juga menekankan perbedaan antara skrining dan diagnosis dini. Skrining dilakukan sebelum gejala muncul, khususnya pada kelompok berisiko tinggi. Sementara diagnosis dini dilakukan saat pasien sudah merasakan gejala tertentu.

Di Indonesia, skrining kanker paru dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi berusia 45 hingga 71 tahun. Kategori ini mencakup perokok aktif, perokok pasif, mantan perokok yang berhenti kurang dari 15 tahun, serta individu dengan riwayat keluarga kanker paru. Pemeriksaan dilakukan menggunakan CT scan tanpa kontras dengan paparan radiasi rendah.

Baca Juga :

BGN Bantah Balita di Cianjur Meninggal Akibat Program Makan Bergizi Gratis
Elektabilitas Melesat Tajam, Erick Thohir Kalahkan Sandiaga dan Mahfud MD

Ia menegaskan bahwa deteksi pada stadium awal sangat krusial. Perbedaan satu tingkat stadium saja dapat membuat biaya pengobatan melonjak hingga beberapa kali lipat, sekaligus memengaruhi peluang keberhasilan terapi.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:Deteksi Kanker DiniHari Kanker Sedunia
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Luis Estrella Soroti Fisik dan Adaptasi Usai Indonesia Ditahan Malaysia 4-4
Next Article Berat Badan Turun Saat Puasa? Ini Batas Aman Menurut Dokter Olahraga
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index