JAKARTA — Bayang-bayang krisis global kembali menghantui. Konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 kini tak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi dunia—terutama sektor pariwisata internasional.
Laporan terbaru dari UN Tourism mengungkapkan potensi kerugian industri pariwisata global mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp684 triliun. Angka ini mencerminkan dampak masif dari pembatasan wilayah udara, gangguan operasional penerbangan, serta meningkatnya ketidakpastian keamanan global.
“Sebagai koridor penerbangan utama yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, gangguan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada destinasi lokal, tetapi juga mengubah pola perjalanan global,” tulis UN Tourism dalam laporannya, Selasa (14/4).
Dalam skenario terburuk—gangguan selama tiga bulan—jumlah wisatawan internasional ke kawasan Timur Tengah diperkirakan anjlok hingga 24–28%, setara dengan hilangnya 24–28 juta wisatawan.
Bahkan dalam skenario moderat dan ringan, dampaknya tetap signifikan. Skenario moderat, misalnya. Dalam dua bulan, penurunan akan mencapai 20–23% (20–23 juta wisatawan), dan kerugian hingga Rp 592 triliun. Sementara di skenario ringan (1 bulan), jumlah pariwisata akan turun 12–13% dengan kerugian mencapai Rp 342 triliun
Fenomena “wait and see” kini mendominasi perilaku wisatawan global. Banyak calon pelancong memilih menunda perjalanan karena kekhawatiran terhadap keamanan dan potensi gangguan penerbangan.
Bandara Timur Tengah Terpukul
Dampak paling terasa terjadi pada bandara-bandara internasional di kawasan yang selama ini menjadi hub utama penerbangan global. Dubai International Airport di Uni Emirate Arab dilaporkan mengalami penurunan trafik penumpang internasional hingga kisaran 15–20% sejak awal konflik.
Sedangkan, Hamad International Airport di Doha, Qatar mencatat penurunan frekuensi penerbangan transit dan pembatalan rute, dengan trafik turun sekitar 10–18%. King Khalid International Airport di Riyadh, Arab Saudi, juga mengalami perlambatan pertumbuhan penumpang akibat pembatasan rute udara regional.
Gangguan ini memperparah efek domino terhadap konektivitas global, termasuk rute populer Asia Tenggara–Eropa yang kini harus memutar lebih jauh, meningkatkan durasi dan biaya perjalanan.
Krisis ini juga memicu lonjakan tajam harga energi. Harga minyak mentah dunia sempat naik hingga 68%, dari US$ 67 per barel menjadi US$ 113, akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global.
Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya bahan bakar pesawat (avtur), harga tiket penerbangan, dan inflasi sektor pariwisata
Meski dampaknya besar, UN Tourism menilai sektor pariwisata memiliki ketahanan untuk pulih cepat setelah situasi stabil. Sebelum konflik, Timur Tengah merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan pariwisata tercepat, mencatat hampir 100 juta kunjungan internasional pada 2025.
Namun untuk saat ini, dunia masih berada dalam fase ketidakpastian. Krisis di satu kawasan telah menjalar menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global—menunjukkan betapa rapuhnya konektivitas dunia modern di tengah konflik geopolitik.