Jakarta — Rapat Dengar Pendapat (RDP) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dengan Komisi VI DPR RI pada 1 April 2026 lalu telah memperlihatkan apa yang sedang diperbaiki perusaaan platmerah itu dan sejauh mana perbaikan itu mulai bekerja dalam menghadapi tekanan industry semen selama ini.
Dalam RDP yang dihadiri jajaran direksi SIG, termasuk Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra terungkap sinyal positif perbaikan kinerja perusahaan mulai terlihat pada Semester II 2025, Ketika sejumlah indikator operasional dan profitabilitas bergerak membaik.
SIG tidak menutup mata terhadap tekanan. Dalam ringkasan kinerja 2025, perusahaan mengakui pendapatan turun 2,6 persen dibanding tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan volume penjualan dan tekanan harga jual di tengah lemahnya permintaan semen, khususnya pada segmen proyek dan infrastruktur. Namun, poin terpenting yakni adanya langkah korektif yang mulai terukur hasilnya.
“Transformasi model bisnis pada Semester II 2025 mampu menahan tekanan tersebut, profil pendapatan mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan volume jual,” ujar Indrieffouny Indra di hadapan Ketua Komisi VI, Anggia Ermarini, bersama Wakil Ketua, Andre Rosiade, Adisatrya Suryo Sulisto, dan A.M. Nurdin Halid.
Hal ini menunjukkan SIG tidak sedang menunggu pasar pulih dengan sendirinya, melainkan membenahi area yang paling menentukan, yakni model bisnis, kanal penjualan, segmen ritel, portofolio usaha, dan struktur biaya.
Data memperlihatkan, pemulihan mulai muncul di paruh kedua tahun. Volume penjualan naik dari 17,205 juta ton pada Semester I menjadi 20,630 juta ton pada Semester II 2025. Pendapatan juga membaik dari Rp15,609 miliar menjadi Rp19,635 miliar. Meski tekanan memang belum hilang, tetapi pembenahan mulai menghasilkan respons nyata.
Tak heran jika SIG menyatakan bahwa, strategi pemulihan Kinerja berjalan sesuai rencana dan mulai menunjukkan hasil positif pada semester II 2025. Klaim ini ditopang beberapa indikator. Pertama, rata-rata volume bulanan meningkat, dari kisaran 2,07–2,25 juta ton pada fase awal implementasi menjadi 2,82–2,87 juta ton pada bulan-bulan berikutnya. Artnya, ritme penjualan yang lebih sehat.
Kedua, SIG berhasil menguatkan pangsa pasar segmen zak dari 46,6 persen pada Semester I menjadi 48,3 persen pada Semester II 2025. Dalam industri semen yang sangat ketat, kenaikan pangsa pasar ritel seperti ini penting karena menunjukkan perbaikan fundamental penjualan, penguatan strategi pemasaran, dan efektivitas pembenahan merek di pasar.
Ketiga, pembenahan menyentuh aspek paling sensitif, yakni biaya. SIG mencatat penghematan sekitar Rp215 miliar pada Agustus–Desember 2025, dengan potensi penghematan lanjutan hingga 2026 dari inisiatif yang sudah diidentifikasi. Hal ini relevan karena biaya energi mencakup sekitar 54 persen dari total biaya. Dengan struktur biaya seperti itu, efisiensi bukan lagi pilihan tambahan, tetapi syarat utama untuk menjaga daya tahan usaha.
Keempat, hasilnya mulai tercermin pada margin laba operasi yang naik dari 3,3 persen pada Semester I menjadi 4,6 persen pada akhir 2025. Kenaikan margin di tengah tekanan pasar menandakan, pembenahan bukan hanya menolong volume, tetapi juga memperbaiki kualitas laba.
“Saat ini, kami menyatakan arah transformasi SIG pun cukup jelas. Perusahaan memfokuskan langkah pada transformasi model bisnis, penguatan ritel, optimalisasi portofolio, dan kepemimpinan biaya semen,” tegasnya.
Yang pasti, dalam menjalankan strategi transformasi menuju perbaikan, SIG tidak menutup mata terhadap tekanan. Melainkan, perusahaan terus membenahi titik-titik yang paling menentukan pemulihan kinerja.
Dengan kata lain, persoalannya bukan lagi semata-mata siapa yang harus disalahkan atas tekanan yang terjadi. Tapi apakah langkah perbaikannya tepat sasaran? Data Semester II 2025 menunjukkan arah pembenahan SIG mulai menghasilkan sinyal positif.
Indikator Utama Semester I / awal 2025 Semester II / akhir 2025
Total volume penjualan: 17,205 juta ton 20,630 juta ton
Pendapatan : Rp 15,609 miliar Rp19,635 miliar
Pangsa pasar segmen zak: 46,6% 48,3%
Penghematan efisiensi : — sekitar Rp215 miliar
Margin laba operasi: 3,3% 4,6%