JAKARTA – Kritik keras Greenpeace Indonesia terhadap program swasembada energi berbasis sawit dan biodiesel B50 mendapat serangan balik dari kalangan petani. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia menilai narasi yang terus menyudutkan sawit justru tidak membantu penyelesaian masalah lingkungan secara nyata.
Ketua Umum APKASINDO, Gulat ME Manurung, menegaskan bahwa aktivis lingkungan seharusnya tidak hanya aktif mengkritik dari jauh, tetapi juga ikut terlibat dalam mitigasi bencana dan perbaikan tata kelola lingkungan di lapangan.
“Jika bencana Sumatra dijadikan acuan mereka, kami menyaksikan sendiri bahwa tidak ada satu batang pun pohon sawit terhanyut banjir. Jadi bukan di kebun sawit masalahnya, tapi di hulu,” ujar Gulat dari Kampus Instiper Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Pernyataan itu muncul setelah Greenpeace mengkritik rencana pengembangan sawit dan bioenergi di Papua untuk mendukung swasembada energi nasional. Koordinator Kampanye Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, sebelumnya menyebut pembukaan lahan besar-besaran berpotensi memicu bencana lingkungan.
“Program pembukaan lahan dalam skala besar terbukti menjadi bencana,” kata Iqbal saat mengkritik rencana pengembangan sawit untuk energi, Desember 2025 ketika bencana hidrometeorologi terjadi di Sumatera.
Namun APKASINDO menilai tudingan yang terus diarahkan kepada sawit terlalu menyederhanakan persoalan. Gulat justru menyebut kerusakan daerah aliran sungai (DAS), illegal logging, dan lemahnya pengawasan kawasan hutan menjadi faktor yang lebih relevan dalam banyak kasus banjir besar di Sumatera dan Aceh.
“Mari kita bicara fakta — jangan nanti yang sakit di mana, yang diobati di mana,” tegas Gulat sembari mengajak semua penggiat lingkungan fokus pada mitigasi pasca bencana alam.
Ia juga menjelaskan, saat melihat rekaman ulang drone dari lokasi banjir Sumatera, dirinya tidak menemukan kebun sawit di area DAS yang meluap. Sebaliknya, menurut dia, justru terlihat banyak kayu hasil pembalakan yang terbawa arus sungai.
Dalam konteks energi nasional, APKASINDO menilai biodiesel B50 merupakan bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi impor BBM dan memperkuat kemandirian energi. Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya menegaskan bahwa sawit dapat menjadi sumber energi strategis untuk menekan impor bahan bakar.
“Dengan demikian kita akan menghemat ratusan triliun untuk subsidi, ratusan triliun untuk impor BBM dari luar negeri,” ujar Prabowo terkait pemanfaatan sawit untuk energi nasional.
Karena itu, APKASINDO meminta perdebatan soal sawit tidak berhenti pada stigma negatif semata. Menurut mereka, solusi lingkungan harus dibangun lewat pengawasan teknis, rehabilitasi DAS, penindakan illegal logging, dan kolaborasi nyata di lapangan—bukan hanya kampanye menyalahkan sawit setiap kali terjadi bencana.
“Nggak perlu ilmu tinggi dan uji laboratorium untuk membuktikan itu. Sekali lagi stop menyudutkan perkebunan sawit, mari kita fokus membantu dan mitigasi dampak bencana alam,” pungkas Gulat.