By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Mandiri Institute: Pola Belanja Masyarakat Mulai Normal Usai Lebaran 2026
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Mandiri Institute: Pola Belanja Masyarakat Mulai Normal Usai Lebaran 2026

Ekonomi

Mandiri Institute: Pola Belanja Masyarakat Mulai Normal Usai Lebaran 2026

Jack
By
Jack
3 weeks ago
Share
3 Min Read
Ilustrasi belanja. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Mandiri Institute mencatat pola konsumsi masyarakat mulai kembali normal setelah momentum Lebaran atau Idulfitri 2026 berlalu. Meski terjadi moderasi belanja, tren konsumsi dinilai masih lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), tingkat belanja masyarakat sempat mencapai titik tertinggi pada 22 Maret 2026 selama periode Lebaran dengan angka 124,3 poin. Namun, pada pekan pertama Mei 2026, indeks tersebut turun menjadi 122,3 poin.

“Spending masyarakat atau belanja masyarakat mengalami moderasi. Jadi, sampai tanggal 5 Mei kemarin, MSI mengalami moderasi ke titik 122,3 setelah lima minggu berturut-turut mengalami koreksi,” kata Head of Mandiri Institute Andre Simangunsong dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin.

Meski mengalami perlambatan, Andre menilai pola konsumsi masyarakat tahun ini masih menunjukkan kondisi yang lebih sehat dibandingkan 2025.

Ia menjelaskan, setelah Lebaran tahun lalu, penurunan konsumsi terjadi cukup drastis sebelum akhirnya kembali melonjak. Sementara pada 2026, penurunan belanja berlangsung lebih perlahan sehingga mencerminkan pola konsumsi yang lebih stabil.

“Kalau kita bandingkan antara 2026 dengan 2025, memang kita lihat di 2026 ini, moderasi ini terlihat lebih gradual. Kalau tahun lalu itu kelihatan ya, setelah efek puncak Lebaran itu belanja masyarakat turun signifikan, tapi rebound-nya juga signifikan,” jelas Andre.

“Tapi paling tidak di sini kita lihat di minggu kelima atau di minggu libur Hari Buruh, MSI itu sudah masuk pertumbuhan yang positif atau teritorinya positif secara mingguan,” tambahnya.

Mandiri Institute juga mencatat pertumbuhan konsumsi masih didominasi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Belanja kelompok upper tercatat tumbuh 5,3 persen secara tahunan pada 2026, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu sebesar 3,1 persen.

Sebaliknya, kelompok masyarakat lower dan middle justru mengalami perlambatan pertumbuhan konsumsi.

Baca Juga :

Deretan Anime dengan Viewer Terbanyak Menghipnotis Jutaan Penonton
Profil SSB RDC Pratama, Sekolah Sepak Bola Usia Dini yang Fokus pada Karakter

Andre mengatakan kelompok kelas atas masih menjadi motor utama konsumsi nasional, terutama pada sektor premium seperti department store, speciality store, hingga e-commerce premium.

Selain itu, Mandiri Institute melihat adanya perubahan pola pengeluaran masyarakat yang kini lebih fokus pada kebutuhan esensial.

Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan kategori supermarket yang mencapai hampir 6 persen secara tahunan hingga awal Mei 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berada di level 3,3 persen.

Sementara untuk kategori non-esensial seperti elektronik dan leisure, pertumbuhan konsumsi masih cenderung tertahan.

“Kita mendapatkan kesimpulan, sepertinya ada sedikit shifting belanja ya kalau secara tahunan. Karena di sini kita lihat, karena bulan depan itu sudah masuk bulan Juni, dan saya rasa masyarakat juga bersiap belanja untuk keperluan anak sekolah di tahun ajaran baru,” ujarnya.

Andre menambahkan, sikap masyarakat yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang juga dipengaruhi kondisi global yang belum stabil, termasuk perkembangan harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi internasional.

“Apa yang terjadi dari sisi global ini juga mempengaruhi bagaimana ekspektasi konsumen ke depan. Jika masyarakat kemudian sedikit hati-hati itu sikap yang wajar,” tutupnya.

You Might Also Like

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia
Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun
Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina
Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional
Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus
TAGGED:BelanjaMandiri Institute
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article BGN Ungkap Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Cianjur, Ada Cemaran Nitrit di Tumis Pakcoy
Next Article The Weeknd Siap Guncang Jakarta Lewat After Hours Til Dawn Tour 2026
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Harga BBM Subsidi Tetap. Pemerintah Tahan Pertalite dan Solar Meski Gejolak Energi Global Berlanjut

16 QR Code dalam 1 Truk! Modus Helikopter Pencurian BBM Subsidi Jepara Bikin Geram

Gaspol Produksi! Sumur Rakyat Kendal Targetkan 25 Ribu Liter per Hari

Buru Penjarah Alam! ESDM Kejar 7 Tambang Ilegal Rp857 Miliar

B50 Harga Mati! Pakar ITB: Ini Benteng RI Lawan Krisis Energi Global

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Ekonomi

Devisa Bocor ke Luar Negeri? RI Surplus Ekspor Tapi Cadangan Devisa Mandek

7 days ago
Ekonomi

“Sikat Penjarah SDA!” Bahlil Tertibkan Tambang Ilegal Rugikan Negara Ratusan Miliar

7 days ago
Ekonomi

Rp7,5 Miliar Raib! Mafia Solar Jatim Menggila, Aturan Batas Wajar BBM Kini Jadi Harga Mati

1 week ago
EkonomiTerkini

Teka-teki Surplus Ekspor RI: Cetak Rekor US$223,9 Miliar, Mengapa Cadangan Devisa Hanya Naik US$15,7 Miliar?

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index