By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Pasukan Perdamaian PBB Melemah, Dunia Terancam Konflik Tanpa Akhir?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pasukan Perdamaian PBB Melemah, Dunia Terancam Konflik Tanpa Akhir?

InternasionalTerkini

Pasukan Perdamaian PBB Melemah, Dunia Terancam Konflik Tanpa Akhir?

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
3 weeks ago
Share
4 Min Read
Bendera PBB di kendaraan patrol pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di Desa Kfar Kila, Lebanon selatan yang berdekatan dengan perbatasan Israel, Agustus 2025. Keberadaan pasukan perdamaian di negara-negara konflik kini dirasa makin dilematis kebuntuan politik global, krisis pendanaan, hingga menyusutnya jumlah personel. (Foto, AFP/Anwar Amro)
SHARE

JAKARTA — Di tengah dunia yang semakin dipenuhi perang dan ketegangan geopolitik, kekuatan pasukan perdamaian internasional justru mengalami pelemahan serius. Kebuntuan politik global, krisis pendanaan, hingga menyusutnya jumlah personel membuat kemampuan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa semakin tertekan.

Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengungkap kondisi misi penjaga perdamaian dunia kini berada dalam situasi genting. Bahkan, misi yang dikelola PBB disebut menjadi pihak yang paling terdampak.

Hingga akhir 2025, jumlah personel penjaga perdamaian internasional tercatat kurang dari 79.000 orang. Angka itu menjadi yang terendah dalam 25 tahun terakhir dan turun hampir 49 persen dibandingkan tahun 2016.

Direktur Program Operasi Perdamaian dan Manajemen Konflik SIPRI, Jair van der Lijn, memperingatkan situasi tersebut dapat memicu dampak global yang jauh lebih besar.

“Jika situasi ini terus berlanjut, kita bisa melihat pelemahan drastis dalam pengelolaan konflik secara multilateral dan hampir tersisihnya lembaga seperti PBB,” kata Van der Lijn dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026)

Menurutnya, dunia kini sedang menghadapi “badai sempurna” akibat kombinasi persoalan pendanaan, politik, dan rivalitas geopolitik antarnegara besar.

“Akibatnya kemungkinan akan muncul lebih banyak konflik, dan konflik-konflik tersebut bisa berdampak lebih parah terhadap warga sipil karena negara-negara mulai meninggalkan norma-norma yang telah lama dijunjung,” tambahnya.

SIPRI mencatat PBB terpaksa melakukan pemotongan besar terhadap jumlah personel akibat banyak negara donor utama tidak memenuhi komitmen keuangan mereka. Kondisi itu menyebabkan kekurangan dana hingga 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp31 triliun.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik global juga memperparah kebuntuan dalam tubuh Dewan Keamanan PBB. Ancaman veto dari negara-negara anggota tetap membuat banyak keputusan penting terkait operasi perdamaian menjadi sulit disepakati.

Baca Juga :

Profil dan Biodata Romain Gavras, Sutradara Video Kanye West Pacar Dua Lipa
Menteri ESDM Bahlil Pastikan Energi Nasional Stabil Usai Bertemu Presiden Prabowo

Laporan tersebut juga menyoroti bagaimana pada masa pemerintahan Donald Trump, Amerika Serikat mengurangi komitmen terhadap lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan World Health Organization.

Akibatnya, respons dunia terhadap konflik global kini semakin sering dilakukan melalui pendekatan sepihak, bilateral, atau koalisi ad hoc yang lebih mengedepankan kekuatan militer dan kepentingan masing-masing negara.

Salah satu contoh yang disebut SIPRI adalah tekanan Amerika Serikat untuk menghentikan mandat Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon meski pelanggaran gencatan senjata antara Israel dan Lebanon terus terjadi.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa dunia perlahan kehilangan instrumen kolektif untuk mencegah konflik berkepanjangan.

Meski demikian, SIPRI menilai harapan menjaga sistem perdamaian global masih ada apabila negara-negara dunia benar-benar serius memperkuat multilateralisme.

Peneliti senior SIPRI, Claudia Pfeifer Cruz, mengatakan dukungan terhadap operasi penjaga perdamaian PBB sebenarnya masih cukup luas.

“Terlihat jelas bahwa secara prinsip ada dukungan yang luas terhadap operasi penjaga perdamaian PBB,” ujarnya.

“Namun, untuk mempertahankan pengelolaan konflik secara multilateral, negara-negara harus melakukan lebih dari sekadar menyatakan dukungan, mereka perlu menyediakan pendanaan yang dapat diprediksi dan menciptakan ruang politik yang cukup agar respons multilateral bisa berjalan efektif,” tambahnya.

Laporan ini menjadi peringatan bahwa ketika dunia semakin rawan konflik, melemahnya pasukan perdamaian internasional dapat membuat perang dan krisis kemanusiaan semakin sulit dikendalikan.

You Might Also Like

Heboh Harga Pertamax, Padahal dari Awal Tak Pernah Disubsidi
Palu Berduka Lagi, Jangan Biarkan Sulawesi Tengah Berjuang Sendiri
Bertanding Dalam Kondisi Tertindas, Iran Pantang Tumbang
Duel Legenda Berakhir Imbang! Lukaku dan Mo Salah Sama-sama Bersinar
Arab Saudi Jaga Gengsi Asia! Tahan Uruguay di Pentas Piala Dunia
TAGGED:Donald TrumpPasukan PerdamaianPBBSIPRI
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Teka-teki Surplus Ekspor RI: Cetak Rekor US$223,9 Miliar, Mengapa Cadangan Devisa Hanya Naik US$15,7 Miliar?
Next Article Java Jazz Festival 2026 Hadir dengan Venue Baru dan Konsep Lebih Fresh
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Isyana Bagoes Oka Sebut Kunjungan Jokowi ke Daerah, Tak Terkait Safari Politik

Konflik AS-Iran Mereda, Menkeu Sebut APBN Berpeluang Lebih Longgar

Gaya Sultan, Mental Subsidi? Netizen Semprot Pengeluh Pertamax

Bahlil Usulkan Anggaran Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik pada RAPBN 2027

Stok Beras Indonesia Melimpah, Pedagang Diingatkan Jangan Mainkan Harga

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Spanyol Tertahan, Beban Favorit Juara Kini Menggunung

5 hours ago
InternasionalPildun 2026Terkini

Die Mannschaft Hajar Debutan Curacao 7-1, Empat Kali Juara Dunia Tebar Ancaman

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Jepang Bikin Belanda Ketar-Ketir, Eropa Kini Punya Ancaman Baru!

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Perbedaan Kasta Bicara! Swedia Hancurkan Tunisia Tanpa Ampun

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index