INVERSI.ID – Dampak konflik di Timur Tengah mulai dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Jerman. Pemerintah negara tersebut mengungkapkan bahwa gejolak kawasan telah menghambat laju pemulihan ekonomi yang sebelumnya diproyeksikan terjadi sepanjang tahun ini.
Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil menyatakan bahwa perang yang terjadi di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, konflik tersebut telah memangkas sekitar separuh potensi pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya diperkirakan dapat dicapai.
“Perang … melawan Iran telah mengurangi separuh pemulihan ekonomi yang kami harapkan tahun ini. Perang ini sangat merugikan Jerman,” kata Klingbeil dalam konferensi pers di Berlin pada Senin.
Ia menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi akibat situasi geopolitik memaksa pemerintah mengambil sejumlah keputusan fiskal yang tidak mudah. Salah satunya adalah menunda pembayaran utang dari dana pinjaman yang sebelumnya telah digunakan pemerintah.
Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas keuangan negara di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, perkembangan diplomatik juga mulai terlihat. Pada 18 Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani sebuah memorandum secara jarak jauh yang mengatur penghentian konflik militer yang telah berlangsung sejak 28 Februari.
Kesepakatan tersebut turut memuat komitmen kedua negara untuk menjalankan sejumlah langkah lanjutan. Amerika Serikat diberikan tenggat waktu untuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Iran diwajibkan memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Apabila implementasi memorandum berjalan sesuai rencana, langkah ini diharapkan dapat membantu meredakan ketegangan di kawasan sekaligus mengurangi tekanan terhadap ekonomi global yang selama beberapa bulan terakhir terdampak oleh konflik tersebut.