ATLANTA – Mimpi Inggris untuk kembali tampil di final Piala Dunia setelah 60 tahun harus kandas dengan cara yang paling menyakitkan. Sempat unggul hingga lima menit menjelang waktu normal berakhir, The Three Lions akhirnya tumbang, 1-2 dari juara bertahan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, AS, Rabu (15/7/2026).
Kemenangan dramatis itu mengantar Argentina melaju ke final menghadapi Spanyol di New York, Minggu mendatang. Laga tersebut juga akan menjadi penampilan terakhir Lionel Messi di panggung Piala Dunia.
Inggris sebenarnya berada di atas angin setelah Anthony Gordon memecah kebuntuan pada menit ke-55. Namun, perubahan strategi yang lebih bertahan membuat Argentina semakin leluasa menekan pertahanan lawan.
Hasilnya, Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-85 melalui tendangan keras dari luar kotak penalti. Saat pertandingan memasuki masa tambahan waktu, Lautaro Martínez memastikan kemenangan Argentina lewat sundulan jarak dekat setelah menerima umpan matang dari Messi.
Dua assist Messi dalam tujuh menit terakhir menjadi pembeda yang mengubah harapan Inggris menjadi kepedihan.
Usai pertandingan, kapten Inggris Harry Kane mengakui timnya terlalu pasif setelah unggul. “Setelah kami unggul 1-0, kami hanya berusaha mempertahankan keunggulan. Pada level seperti ini, itu tidak cukup,” kata Kane dikutip dari BBC.
Kane tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya setelah Inggris kembali gagal menembus final. “Saya sangat sedih untuk para pemain, tim pelatih, dan para suporter. Kami bermain sangat baik hampir sepanjang pertandingan. Kami sudah bekerja begitu keras untuk berada di sini. Semua pemain sudah memberikan segalanya—lari, keringat, darah, air mata. Kalah dengan cara seperti ini benar-benar menyakitkan.”
Menurut Kane, setelah mencetak gol Inggris terus berada di bawah tekanan. “Serangan Argentina datang bergelombang. Kami mencoba bertahan, melakukan blok demi blok, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup.”
Pelatih Thomas Tuchel menjadi sorotan setelah menarik Anthony Gordon pada menit ke-72 dan memasukkan Ezri Konsa, sebelum kemudian menambah Dan Burn dan Nico O’Reilly untuk mengubah formasi menjadi lima bek demi mempertahankan keunggulan.
Keputusan tersebut menuai kritik dari pengamat dan suporter karena dinilai membuat Inggris kehilangan inisiatif menyerang.
Meski demikian, Tuchel tetap membela keputusannya sambil mengakui timnya kehilangan agresivitas. “Kami sangat kecewa. Kami begitu dekat dengan final, tetapi setelah mencetak gol kami menjadi terlalu pasif. Kami memberikan terlalu banyak umpan silang, peluang, dan tembakan kepada Argentina,” ujar Tuchel.
Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab sepenuhnya berada di pundaknya sebagai pelatih. “Kami beralih ke lima bek karena jarak antarlini terlalu besar dan kami ingin lebih kuat menghadapi bola-bola udara. Kami mencoba membantu para pemain, tetapi tanggung jawab ada pada pelatih.”
Meski gagal melangkah ke final, Tuchel menilai Inggris telah menjalani turnamen yang kompetitif. Namun, kekalahan dramatis di penghujung laga membuat perjalanan mereka kembali berakhir di semifinal—fase yang untuk keempat kalinya menjadi batas langkah Inggris di Piala Dunia.
Sementara itu, Argentina menjaga asa mempertahankan gelar dunia. Dipimpin Lionel Messi yang kembali menjadi inspirasi lewat dua assist krusial, Albiceleste kini bersiap menghadapi Spanyol dalam partai final yang diprediksi menjadi salah satu laga terbesar dalam sejarah Piala Dunia.