INVERSI.ID – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebiasaan generasi muda yang terlalu sering mengakses media sosial tanpa tujuan yang jelas.
Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional yang digelar di Jakarta pada Selasa (17/6), Pratikno menyoroti fenomena mindless scrolling, yakni kebiasaan berselancar di media sosial berjam-jam tanpa arah atau tujuan. Menurutnya, kebiasaan ini bisa membentuk pola pikir yang dangkal dan membuat generasi muda terbiasa mengambil keputusan secara impulsif.
“Scrolling membuat tradisi berpikir jadi sangat pendek, tidak mendalam. Anak-anak terbiasa mengambil keputusan kurang dari 20 detik, itu bahaya,” ujar Pratikno.
Lebih lanjut, ia menyebut rata-rata screen time masyarakat Indonesia telah mencapai 7,5 jam per hari, termasuk pada anak-anak di bawah usia dua tahun. Paparan digital yang terlalu dini ini, menurutnya, bisa mengganggu proses perkembangan mental anak.
Pentingnya Pembatasan Akses Digital Secara Bertahap
Pratikno menekankan bahwa anak-anak seharusnya tidak langsung diberi akses penuh terhadap perangkat digital. Penggunaan teknologi harus diperkenalkan secara bertahap dan disesuaikan dengan usia dan kebutuhan psikologis anak.
“Kita harus secara gradual membuka akses screen kepada anak, secara gradual membuka eksklusif informasi kepada anak,” jelasnya.
Sebagai contoh nyata, Pratikno membagikan pengalaman pribadinya. Di rumah anak dan cucunya, tidak ada televisi atau gawai. Sebagai gantinya, ia menempatkan akuarium berisi ikan, yang diberi nama-nama tokoh.
“Screen-nya adalah akuarium. Setiap ikan diberi nama tokoh-tokoh. Jadi setiap pagi, anak-anak ribut menyapa ikan-ikan itu,” katanya.
Menurutnya, pendekatan seperti ini mendorong anak-anak untuk mengembangkan kemampuan observasi dan berpikir secara mendalam, sekaligus mencegah ketergantungan pada informasi instan yang umum dijumpai di media sosial.
Peran Keluarga dan Sekolah sebagai Garda Terdepan
Menko PMK menegaskan bahwa edukasi digital tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan institusi pendidikan dalam mengarahkan penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.
“Itu tanggung jawab bukan hanya pemerintah. Sekolah dan keluarga harus mengajarkan kebijaksanaan dalam teknologi,” tegasnya.
Dengan pendidikan digital sejak dini dan pendekatan yang bijak dari keluarga serta sekolah, diharapkan generasi muda Indonesia bisa tumbuh sebagai individu yang kritis, bijak dalam bermedia, dan tidak mudah terbawa arus informasi instan.***