INVERSI.ID – Sun Life Asia resmi meluncurkan Financial Resilience Index edisi kedua bertajuk “Menyeimbangkan Kebutuhan Hari Ini dengan Tujuan Masa Depan”. Laporan ini mengungkap bagaimana masyarakat, termasuk di Indonesia, menghadapi tekanan ekonomi dan mengelola keuangan mereka dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
Survei ini melibatkan lebih dari 6.000 responden di Hong Kong, Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, serta mengkaji kebiasaan literasi keuangan, perencanaan jangka panjang, serta penggunaan teknologi dan penasihat profesional.
Gen Z Jadi Generasi Paling Tidak Tangguh Secara Finansial
Temuan paling mencolok adalah kondisi Generasi Z (kelahiran 1997–2012) yang teridentifikasi sebagai generasi paling rentan secara finansial dibanding generasi lainnya. Hanya 57% responden Gen Z merasa aman secara finansial, jauh di bawah 69% Baby Boomers dan 66% Milenial.
Lebih dari 28% Gen Z tidak meminta saran keuangan sama sekali, bahkan lebih sering berkonsultasi dengan AI (19%) dibanding penasihat profesional. Meskipun mereka memiliki waktu lebih panjang untuk membangun kestabilan keuangan, mayoritas Gen Z mengaku sebagai investor konservatif (59%), menunjukkan ketidaksiapan dalam mengambil risiko jangka panjang.
“Gen Z punya waktu, tapi banyak dari mereka tumbuh dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Ini membuat mereka cenderung ragu dan khawatir. Solusinya? Literasi keuangan dan dukungan profesional,” kata David Broom, Chief Client and Distribution Officer Sun Life Asia.
Fokus Jangka Pendek, Lupakan Masa Depan
Kondisi inflasi dan kenaikan biaya hidup turut memperburuk kondisi keuangan masyarakat. Sebanyak 92% responden merasakan dampak kenaikan harga, dan 44% mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan bulanan.
Akibatnya, fokus masyarakat bergeser ke pemenuhan kebutuhan jangka pendek:
- 60% responden lebih memprioritaskan pengeluaran harian.
- Tujuan jangka panjang seperti perencanaan pensiun menurun drastis dari peringkat dua ke enam.
- Tabungan darurat naik ke prioritas keuangan kedua (42%).
Sayangnya, hanya 8% responden memiliki perencanaan keuangan jangka panjang di atas 10 tahun. Hal ini menunjukkan kesenjangan serius dalam ketahanan finansial jangka panjang.
Ketimpangan Ketahanan Finansial Makin Lebar
Survei Sun Life Asia juga membagi responden dalam dua kategori:
- Ketahanan finansial tinggi:
- 83% mampu memenuhi kebutuhan jangka pendek.
- 82% percaya diri mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
- 45% mampu bertahan lebih dari enam bulan jika terjadi krisis.
- 40% berkonsultasi dengan penasihat profesional.
- Ketahanan finansial rendah:
- Hanya 25% bisa mengelola keuangan jangka pendek.
- 13% yakin mampu mencapai tujuan keuangan masa depan.
- 89% tidak mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.
- Hanya 27% mencari saran profesional, lebih mengandalkan media sosial.
David Broom menyebut kesenjangan ini menunjukkan pentingnya edukasi dan literasi keuangan.
“Literasi keuangan adalah kunci mengatasi ketimpangan ini. Sun Life hadir untuk membantu generasi muda lebih percaya diri mengelola keuangannya,” tutup Broom.***