By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Dianggap Wajar, Stres Kerja Diam-Diam Picu Burnout
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dianggap Wajar, Stres Kerja Diam-Diam Picu Burnout

Kesehatan

Dianggap Wajar, Stres Kerja Diam-Diam Picu Burnout

Jack
By
Jack
5 months ago
Share
3 Min Read
Ilustrasi stress saat kerja.(foto: freepik)
SHARE

Psikolog dari Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengungkapkan bahwa stres kerap tidak disadari oleh para pekerja karena dianggap sebagai bagian normal dari tuntutan pekerjaan sehari-hari. Pandangan tersebut membuat stres sering diabaikan hingga berkembang menjadi persoalan kesehatan mental yang lebih serius.

Contents
Stres Kerja yang Kerap DiabaikanDampak Stres BerkepanjanganMengenali Tanda Sejak Dini

Hal itu disampaikan Ayu dalam kegiatan Health Talk bertajuk Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung yang digelar di Jakarta, Rabu (28/1).

Stres Kerja yang Kerap Diabaikan

Ayu menjelaskan, banyak pekerja tetap menjalani rutinitas seperti biasa meskipun kondisi fisik dan mental mereka sudah berada dalam tekanan. Stres umumnya baru diakui ketika mulai mengganggu kinerja dan hubungan sosial.

“Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus,” ujar Ayu.

Dalam budaya kerja, lanjutnya, stres sering dipersepsikan sebagai konsekuensi yang harus diterima. Ketahanan mental kerap dimaknai sebagai kemampuan bertahan tanpa mengeluh, bukan sebagai kemampuan mengenali dan menghormati batas diri.

Dampak Stres Berkepanjangan

Menurut Ayu, anggapan tersebut membuat banyak pekerja enggan mengakui kelelahan mental yang dialami. Akibatnya, stres tidak dikelola sejak awal dan terus menumpuk dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan bahwa stres dalam durasi singkat masih tergolong wajar dan bahkan dapat membantu seseorang tetap waspada serta produktif. Namun, stres yang berlangsung lama tanpa disadari berisiko berkembang menjadi burnout, yakni kondisi kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada penurunan motivasi dan kinerja.

Burnout, kata Ayu, tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya diawali oleh stres yang terus diabaikan, kurangnya waktu pemulihan, serta minimnya ruang aman untuk mengekspresikan tekanan yang dirasakan.

Mengenali Tanda Sejak Dini

Dalam pemaparannya, Ayu juga menyoroti bahwa stres tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan yang disampaikan secara verbal. Perubahan perilaku kecil, seperti menurunnya konsentrasi, meningkatnya kesalahan kerja, atau kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, sering menjadi sinyal awal yang luput dari perhatian.

Baca Juga :

Cara Hitung PPN 12 Persen, Mulai Naik Tahun 2025
Biodata Lengkap Devina Hermawan, Chef Cantik Diduga Terjun ke Dunia Politik

Ia mengajak para pekerja untuk mulai lebih peka terhadap tanda-tanda stres, baik yang muncul pada tubuh, emosi, maupun pola pikir. Kesadaran ini dinilai penting agar stres dapat dikelola lebih dini sebelum berdampak lebih jauh pada kesehatan mental.

Melalui kegiatan tersebut, Ayu menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tekanan sepenuhnya, melainkan memahami kapan tekanan perlu dihadapi dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dan memulihkan diri.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:kerjaKesehatan Mental
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Foto : Satpol PP Surabaya amankan pelajar bolos (Sumber : www.gonews.id) Mengintip Cara Satpol PP Surabaya Membina Pelajar Bolos Melalui Realitas Sosial
Next Article Ledakan MBG! 22 Ribu SPPG Beroperasi, Lebih dari 60 Juta Warga Sudah Nikmati Makan Bergizi Gratis
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index