Upaya pemulihan pascabencana banjir di Aceh Tamiang mulai menunjukkan perkembangan setelah sejumlah akses darat yang sebelumnya terputus kini mulai dapat dilalui kembali. Pemerintah segera merespons dengan mengerahkan armada truk pengangkut Bahan Bakar Minyak, alat berat, serta kendaraan logistik dari berbagai instansi untuk mempercepat pemulihan wilayah yang masih terisolasi.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, melalui unggahan video di akun resmi @sekretariat.kabinet, menyampaikan bahwa konvoi kendaraan bantuan sudah bergerak dari Medan menuju Aceh Tamiang. Dalam video tersebut terlihat deretan truk BBM, truk logistik, dan kendaraan berat melintas di jalan yang masih digenangi air.
“Dorongan BBM dan alat berat dari Pertamina, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Perhubungan dalam perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang,” tulis Sekretariat Kabinet.
Teddy menegaskan bahwa pembukaan kembali akses darat merupakan prioritas utama pemerintah, mengingat jalur tersebut adalah rute vital untuk menyalurkan bantuan, peralatan, serta tenaga evakuasi. Tanpa jalur yang dapat dilalui, pasokan logistik dan pendukung kehidupan masyarakat akan terhambat.
“Pemulihan akses jalur darat sedang dan terus dilakukan sehingga seiring waktu kondisi jalan akan lebih baik dan semakin bisa dilalui,” ujar Teddy.
Pengerahan alat berat dari Kementerian Pekerjaan Umum dilakukan untuk mempercepat pembersihan material longsor, penimbunan jalan ambles, serta perbaikan jembatan darurat. Pemerintah juga melibatkan Kementerian Perhubungan dalam memastikan mobilitas bantuan berjalan lancar, terutama pada jalur-jalur alternatif yang dapat digunakan setelah jalur utama lumpuh. Dari sektor energi, Pertamina mengalokasikan tambahan truk BBM dan LPG untuk menjamin kebutuhan masyarakat dan operasional alat berat di lapangan.
Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah dalam rangkaian banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hampir seluruh jalur utama di provinsi tersebut terputus total, termasuk akses perbatasan Sumatra–Aceh Tamiang. Jalur lain seperti Gayo Lues–Aceh Tamiang, Bireuen–Takengon, dan Bener Meriah–Bireuen juga mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan warga terisolasi selama beberapa hari sebelum tim gabungan berhasil menjangkau lokasi-lokasi terdampak.
Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah korban meninggal dunia di Aceh mencapai 156 jiwa dengan 181 orang lainnya masih hilang. Data tersebut mencakup laporan dari berbagai kabupaten dan kota seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Peningkatan jumlah korban hilang dipicu oleh laporan tambahan dari masyarakat seiring sejumlah wilayah mulai dapat dijangkau petugas.
Selain korban jiwa, jumlah pengungsi juga meningkat drastis. BNPB mencatat sebanyak 479.300 warga mengungsi ke berbagai titik penampungan sementara. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi tertinggi, mencapai 107.305 jiwa. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya skala dampak bencana dan urgensi percepatan penyaluran bantuan.
Dengan akses darat yang perlahan mulai terbuka, pemerintah kini fokus memastikan arus distribusi logistik dapat kembali berjalan normal. Selain BBM dan LPG, pemerintah mengirimkan kebutuhan pokok, obat-obatan, tenda darurat, serta layanan kesehatan bergerak. Tim SAR gabungan, relawan, dan aparat turut berada di lapangan untuk membantu proses evakuasi serta memastikan jalur yang terbuka tetap aman untuk dilalui.
Pemerintah menyampaikan bahwa upaya pemulihan tidak berhenti pada pembukaan jalan, tetapi juga mencakup perbaikan jangka panjang yang diperlukan agar akses antarwilayah lebih tahan terhadap bencana di masa mendatang. Hingga seluruh jalur utama kembali normal, pemerintah akan terus memobilisasi bantuan melalui jalur darat, laut, dan udara guna menjangkau seluruh warga yang terdampak banjir di Aceh Tamiang dan wilayah lainnya di Sumatera.