By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Anak Muda Ogah Nikah, Krisis Populasi Jepang Makin Parah
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Anak Muda Ogah Nikah, Krisis Populasi Jepang Makin Parah

Terkini

Anak Muda Ogah Nikah, Krisis Populasi Jepang Makin Parah

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
3 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Jepang kembali mencatat penurunan populasi terbesar sepanjang sejarah modernnya. Data resmi yang dirilis pada Senin (14/4) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Negeri Sakura turun menjadi 120,3 juta jiwa per Oktober 2024. Angka ini merupakan penurunan tahunan ke-14 berturut-turut sejak 2010.

Contents
Penurunan Populasi Terbesar Sejak 1950Anak Muda Jepang Tunda Nikah dan Punya AnakUpaya Pemerintah Belum Cukup EfektifMasa Depan Jepang Dipertaruhkan

Penurunan Populasi Terbesar Sejak 1950

Dilansir dari AFP, angka kelahiran di Jepang termasuk yang terendah di dunia. Kondisi ini menyebabkan berbagai masalah struktural, seperti menyusutnya tenaga kerja, menurunnya jumlah konsumen, hingga kesulitan perusahaan dalam merekrut pegawai baru.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Jepang, penurunan kali ini adalah yang terbesar sejak pengumpulan data populasi dimulai pada tahun 1950. Bahkan jika dihitung termasuk warga negara asing, populasi Jepang tercatat hanya 123,8 juta jiwa, turun sekitar 550.000 orang dari tahun sebelumnya.

Anak Muda Jepang Tunda Nikah dan Punya Anak

Salah satu penyebab utama dari krisis ini adalah perubahan pola pikir generasi muda Jepang. Banyak dari mereka yang menunda pernikahan atau bahkan memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak. Alasan utamanya mencakup ketidakstabilan kerja, tekanan ekonomi, hingga perubahan nilai sosial yang mulai bergeser dari tradisi membangun keluarga.

“Penurunan angka kelahiran terus terjadi karena banyak pasangan muda yang merasa tidak mampu secara finansial untuk membesarkan anak,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshimasa Hayashi, dalam konferensi pers rutin.

Upaya Pemerintah Belum Cukup Efektif

Pemerintah Jepang sebenarnya telah mengambil berbagai langkah, mulai dari menaikkan gaji kaum muda, memberikan tunjangan pengasuhan anak, hingga mendorong fleksibilitas kerja. Namun, kebijakan-kebijakan ini belum cukup untuk mengatasi penurunan populasi yang kian kronis.

“Pemerintah akan terus mempromosikan kebijakan komprehensif agar masyarakat dapat membesarkan anak dengan tenang, terutama bagi mereka yang memang ingin memiliki anak,” tambah Hayashi.

Di sisi lain, Jepang juga mulai membuka peluang kerja bagi tenaga kerja asing muda. Meski begitu, kebijakan imigrasi Jepang masih tergolong ketat dan hanya memberikan izin tinggal sementara bagi pekerja asing, yang belum mampu menggantikan kekurangan tenaga kerja dalam jangka panjang.

Masa Depan Jepang Dipertaruhkan

Krisis populasi yang terus memburuk berpotensi mengancam masa depan ekonomi dan struktur sosial Jepang. Jika tak segera diatasi secara strategis dan menyeluruh, negara ini bisa menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan pertumbuhan dan kesejahteraannya.***

Baca Juga :

Paula Verhoeven Buka Suara soal Keretakan Rumah Tangganya dengan Baim Wong
Kata Buat Hari Ini: 3 Kata Ajaib yang Bikin Kamu Lebih Happy!

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:JepangKrisisPopulasi
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kampus Hijau Anti Stres, ini 5 Universitas dengan Area Hutan yang Menyegarkan Pikiran
Next Article Pesan Menteri BKKBN untuk Gen Z: Jangan Nikah Dini, Hindari Seks Bebas, dan Narkoba
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

8 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index